
Begitu ingatannya tentang jas itu memenuhi pikirannya dengan begitu jelas, tubuh James langsung menegang, sekaligus lemas.
Karena rasa kagetnya bahkan James jatuh terduduk dan tanpa sadar menjatuhkan jas yang dipegangnya itu ke lantai.
"Gadis malam itu...." Bibir James mendesis pelan.
Ingatan James seolah kembali pada malam yang terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika dia menyelamatkan seorang gadis dari usaha pemerkosaan beberapa peman waktu itu.
Setelah itu, ingatan James melompat pada peristiwa dimana Elenora melepaskan kacamatanya ketika James mengobati efek alergi di wajahnya.
Saat itu selain terpesona oleh kecantikan Elenora, James juga merasa pernah bertemu dengan gadis dengan wajah mirip seperti Elenora tanpa kacamata, meskipun akhirnya James tidak bisa mengingat siapa dia.
"Ele... ternyata kamu... adalah gadis itu?" Dengan terbata-bata dan rasa tidak percaya yang masih menguasai hati dan pikirannya James berkata dan kembali meraih kembali jas itu.
Bagaimana James bisa lupa dengan jas itu? Sebuah jas yang sengaja dipesannya secara khusus karena itu adalah untuk pertama kalinya dia dan Elenora akan pergi bersama sebagai pasangan di pesta ulang tahun temannya.
Jas yang celananya masih disimpan rapi oleh James, karena dalam hatinya yang paling dalam, dia masih menganggap jas itu adalah sesuatu yang penting baginya, karena berhubungan dengan kenangannya tentang Elenora.
Barang yang memiliki sebuah kenangan bagi James, meskipun menyakitkan, tapi entah kenapa James tidak punya kemampuan untuk membuangnya.
Karena dalam hati kecilnya, sampai kapanpun, bagi seoramng James, Elenora tetaplah menjadi satu-satunya gadis yang bisa membuat hatinya bergetar hebat.
Dan setelah pesta malam itu, James berencana secara resmi akan memberitahukan kepada orangtuanya atas keinginannya untuk menjadikan Elenora sabagai kekasihnya.
Namun semua rencananya hancur berantakan, karena Elenora yang tiba-tiba menghilang tanpa pesan, bahkan tidak muncul di acara ulang tahun teman James waktu itu.
Belum lagi peristiwa bagaimana temannya yang berulang tahun mencoba mengumumkan bahwa James adalah pasangannya, membuat waktu itu kemarahan James tidak terkendali.
"Bagaimana bisa aku tidak mengenalimu? Aku benar-benar bodoh! Kenapa aku baru sadar sekarang?" James berbisik pelan dengan suara bergetar, dengan kepalanya yang langsung tertunduk di atas kedua lutut yang dipeluk oleh kedua tangannya.
"Apa karena peristiwa itu? Kamu memutuskan untuk pergi meninggalkanku, agar bisa menenangkan diri?" James kembali berkata sambil salah satu tangannya memegang dadanya yang terasa begitu nyeri, begitu dia membayangkan apa yang sudah terjadi pada Elenora waktu itu, dan dia tidak berbuat apa-apa selain memberikan jasnya untuk menutupi tubuh Elenora.
Bayangan tentang gadis cantik dengan pakaiannya yang terlihat lusuh dan sobek di bagian dadanya, yang terlihat begitu ketakutan, membuat dada James bergemuruh hebat.
James benar-benar merasa sangat terpukul saat ini, karena selama bertahun-tahun sudah salah paham pada Elenora.
Dan hari ini, dia baru saja tahu tentang siapa gadis cantik dan menyedihkan yang sudah ditolongnya waktu itu, ternyata adalah istrinya.
Setelah sekian lama James membiarkan rasa benci memenuhi dan meluap dalam hatinya, karena Elenora meninggalkannya waktu itu, hari ini hatinya dipenuhi dengan rasa penyesalan yang begitu dalam karena saat itu, dia membiarkan Elenora sendirian menghadapi ketakutannya selama bertahun-tahun tanpa ada dia yang berdiri di samping Elenora dan menjadi orang yang bisa mendukung dan melindunginya dengan baik di masa-masa sulitnya.
"Kalian harus membayar apa yang sudah berani kalian lakukan pada Ele! Aku akan mengejar kalian meski kalian bersembunyi di bawah kolong langit!" James berkata dengan anda tinggi, menunjukkan bagaimana tidak terimanya dia mengetahui bahwa ada orang yang sudah berani mengusik gadis yang dicintainya itu.
"Bodohnya aku karena aku tidak menyadari bagaimana berharganya aku bagimu. Jas ini menjadi bukti bahwa aku selalu berada di hatimu." James berbisik pelan sambil menatap ke arah jas di tangannya.
Setelah merenung untuk waktu yang cukup lama, James bangkit dari jatuh terduduknya, dengan tangan kirinya menempel pada lemari pakaian yang ada di walk in closet untuk menahan tubuhnya yang masih terasa lemas setelah mengetahui kebenaran di balik peristiwa beberapa tahun yang lalu.
Lalu dengan langkah gontai sambil tangan kanannya tetap memegang dengan erat jasnya, James melangkah ke arah tempat tidur yang biasa ditempati Elenora, dan mulai membaringkan tubuhnya di sana.
Begitu James membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur itu, dengan jelas hidung mancung James bisa mencium bau harum yang menjadi ciri khas Elenora, membuat James yang sedang terbaring terlentang, dengan mata terpejam, dari sudut kedua matanya mengeluarkan cairan bening tanpa bisa ditahannya.
Bahkan semakin lama, semakin terlihat tubuh James yang terguncang, terguguk karena tangisnya.
"Maafkan aku Ele... maafkan aku.... Bagaimana bisa aku bersikap sekejam itu padamu?"
"Bisa-bisanya aku tidak ada di sampingmu di saat kamu begitu membutuhkan aku."
"Ele... maafkan aku...."
James terus mengucapkan kata-kata penyesalannya sampai pada akhirnya dia membiarkan tubuh dan pikirannya yang lelah, akhirnya menyerah untuk terus berjaga, dan jatuh tertidur di kamar Elenora, tanpa perduli bahwa sejak mendengar berita tentang kepergian Elenora ke Italia, laki-laki tampan itu belum mengisi perutnya sedikitpun.
Jika saja bisa, secepatnya James ingin menyusul Elenora ke Italia, bahkan jika memungkinkan, malam ini dia akan terbang kesana, tapi sayangnya, sepertinya rencananya tinggallah sebuah rencana.
Karena sejak kepulangan James tadi, hujan deras disertai petir dan guruh tidak berhenti sama sekali, seolah mengerti kacaunya hati James, sehingga alam sekitar ikut memperkeruh suasana hatinya.
Kalaupun James akan menggunakan pesawat jet pribadi milik Ornado, tetap saja larangan terbang karena cuaca buruk akan menghalanginya untuk terbang malam ini.
# # # # # # # #
Langit masih terlihat gelap karena jarum jam masih menunjukkan pukul 4 pagi, tapi James sudah terjaga, dan bergegas ke kamarnya sendiri, setelah semalaman dia tertidur di atas tempat tidur yang biasa digunakan oleh Elenora.
"Matilda!" Sambil berjalan cepat-cepat ke kamarnya, James menghubungi Matilda karena takut pelayannya itu belum bangun.
"Ya Tuan, saya ada di dapur. Ada yang bsia saya bantu?" Mendengar jawaban dari Matilda, James menghela nafas dengan sikap lega.
"Pagi ini aku akan pergi ke Italia, tolong kamu siapkan sarapanku pagi ini. Setelah mandi, aku harap sarapanku sudah siap di meja makan." James langsung memberikan perintah dengan kakinya yang terus melangkah ke arah kamarnya, dan dengan gerakan buru-buru langsung membuka pintu kamarnya.