
Kata-kata Ornado sontak membuat Laurel tertawa kecil, membuat ketegangan yang sempat terjadi sebentar kemudian sudah mencair.
“Betul Evelyn, aku setuju dengan kata-kata Ornado barusan. Supaya kamu tahu bahwa pernikahan itu sesuatu yang indah untuk dijalani, walaupun tidak mudah dan banyak masalah. Masalah dua orang menjadi satu, belum masalah di dalam keluarga besar masing-masing pasangan. Belum lagi dalam pernikahan juga harus berjuang mengalahkan ego masing-masing karena dua orang dari latar belakang berbeda, keluarga berbeda, pendidikan, adat istiadat dan kebiasaan berbeda harus bersatu dan diwajibkan untuk saling menerima kelemahan masing-masing pasangan.” Laurel berkata sambil tersenyum.
“Sebelum menikah, bagi pasangan kekasih masih bisa mengatakan putus saat salah satu atau keduanya sama-sama lelah dan putus asa dalam menjalani hubungan mereka. Tapi dalam pernikahan, itu adalah suatu kata yang pantang untuk diucapkan. Bahkan bagiku, sejak saat memilih dan menetapkan Cladia sebagai istri di masa depanku, tidak pernah ada terlintas kata putus, apalagi cerai, meskipun kami tidak sempat berpacaran dan langsung menikah.” Ornado menambahkan kata-kata untuk menyempurnakan tentang arti pernikahan baginya dengan mata menatap dengan lembut sekaligus penuh cinta ke arah Cladia yang hanya bisa tersenyum dengan sikap malu mendengar bagaimana arti sebuah pernikahan bagi Ornado.
“Iya sih Kak. Aku bersyukur bisa mendapatkan role model seperti kalian. Sayangnya kalian semua membuatku begitu tersiksa….” Mereka yang mendengar kata-kata Evelyn langsung mengernyitkan dahinya.
“Tersiksa…?” Dave bergumam pelan dengan wajah kaget mendengar perkataan Evelyn barusan.
“Benar. Tersiksa karena tindakan mesra yang selalu kalian pamerkan di depanku, membuatku semakin ingin segera menikah!” Evelyn berkata sambil tertawa setelahnya, membuat Dave menarik nafas panjang karena lega, sedang yang lain langsung mengulum senyum di bibir mereka, termasuk Cladia.
“Haist! Kamu sudah hampir membuat kami merasa menjadi kakak yang gagal memberikan contoh baik bagimu.” Laurel yang jarak duduknya paling dekat dengan Evelyn berkata sambil mencubit pelan pipi Evelyn dengan gemas.
“Eh, sudah waktunya kita berangkat ke pesta pindah rumah Dario.” Ornado kembali berkata setelah matanya melirik ke arah jam tangannya.
Cladia baru saja berdiri setelah Ornado membantunya, ketika tanpa diduga tubuh Cladia sedikit mundur ke belakang sambil telapak tangan kanannya menutupi mulutnya.
Dengan sigap Ornado menahan tubuh Cladia dengan menopangnya agar tidak kehilangan keseimbangan dan jatuh.
“Kenapa denganmu amore mio?” Wajah Ornado langsung terlihat panik melihat kondisi Cladia yang terlihat lemas sekaligus pucat.
“A…ku… ukh….” Belum lagi Cladia menyelesaikan kata-katanya, rasa mual kembali menyerangnya.
“Mo cuisle, biar aku yang ambilkan. Kamu di sini saja.” Dengan gerakan gesit Dave menahan Laurel dan dia sendiri bergerak cepat ke arah dapur, dimana di dekat sana ada lemari khusus untuk dia menyimpan obat-obatan.
“Tolong ambilkan prochlorperazine Dave, sepertinya anthistamin tidak begitu mempan bagi Cladia.” Laurel berkata sambil melihat ke arah Dave yang sedang mengambil kotak obat dan mulai mencari obat yang dimaksud oleh Laurel.
(Untuk ibu hamil yang tidak mempan dengan antihistamin untuk mengurangi mual, bisa coba obat yang satu ini. Biasanya dokter meresepkan obat ini saat mual tidak berkurang dan malah jadi bertambah.
Prochlorperazin bekerja untuk mengurangi mual berlebih. Obat ini juga mampu membuat ibu hamil merasa lebih tenang sehingga mual bisa berkurang atau hilang sekaligus. Namun ada efek sampingnya yaitu rasa mengantuk.
Sehingga disarankan untuk tidak melakukan kegiatan berat setelah minum obat ini. Satu lagi, obat ini tidak bisa dibeli bebas, harus dengan resep dokter).
“Kak, kenapa dengan kak Cladia? Apa karena efek kehamilannya? Padahal setahuku Kak Laurel baik-baik saja selama masa kehamilan Kakak?” Mau tidak mau Evelyn jadi merasa ikut khawatir melihat kondisi Cladia yang sudah berada di dalam kamar mandi bersama Ornado.
“Cladia masih sering mengalami morning sickness dan juga mual parah sejak hamil. Meskipun sudah lewat tiga bulan, Cladia kondisi Cladia masih seperti itu. Tiap orang hamil, kondisinya berbeda-beda, kebetulan kondisi Cladia tidak seperti kakak. Kadang aku kasihan sekali dengan Cladia, tubuhnya tidak sekuat kakak di masa kehamilannya ini.” Laurel berkata dengan matanya tertuju ke arah pintu kamar mandi dimana Cladia sedang memuntahkan isi perutnya dibantu oleh Ornado.
“Ah, tapi aku bersyukur, paling tidak berat badannya tidak turun lagi, kalau tidak, itu akan sangat berbahaya untuk perkembanganan janin dalam perutnya. Sebelumnya, di awal-awal kehamilan berat bada Cladia turun cukup banyak. Karena itu Ornado selalu sibuk membujuknya untuk sering-sering memakan cemilan. Apalagi selama kehamilannya selera makan Cladia sepertinya berubah dan dia menjadi cukup rewel.” Evelyn langsung mengangguk-anggukkan kepalanya, mulai mengerti kenapa Ornado seringkali memintanya membuatkan kue basah, cake ataupun kue kering untuk Cladia.
“Hah… kak Cladia sungguh beruntung memiliki kak Ornado sebagai suaminya. Aku lihat kak Ornado begitu perduli dan mencintai kak Cladia.” Mendengar perkataan Evelyn, Laurel langsung tertawa kecil.
“Mereka sama-sama beruntung. Mereka berdua saling melengkapi. Sejak kecil, Cladia adalah satu-satunya gadis yang bisa mengendalikan dan menenangkan Ornado, dan juga selalu ada untuk Ornado di masa-masa sulitnya dulu. Tidak ada yang bisa menaklukan hati Ornado selain Cladia, begitu juga sebaliknya….”
“Bukan hanya mereka, aku dan kakakmu Laurel juga sangat beruntung bisa saling memiliki seperti sekarang ini.” Dave yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Laurel, berkata sambil mengelus lembut bagian belakang kepala Laurel dengan penuh kasih sayang.