My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
RASA YANG SEMAKIN MENGGILA



"Baik Pak, saya akan segera menuju ke sana dan memeriksa berkas-berkas itu." Akhirnya dengan nada pasrah Elenora menjawab perintah dari James yang dengan gemas langsung mengakhiri panggilan teleponnya tanpa membiarkan Elenora mengatakan apapun lagi padanya.


Rasakan kamu Alex!


James mengomel dalam hati dengan mata yang beralih dari layar handphonenya.


"Eh, maaf Alex, aku harus segera menemui pak James, sepertinya ada masalah dengan berkas-berkas yang harus aku siapkan untuk pak James." Alex langsung mengangguk mendengar perkataan Elenora yang mulai terlihat gugup karena sudah menganggap dirinya sudah melakukan kesalahan fatal tentang pekerjaannya, terkait berkas-berkas yang sudah dia siapkan dengan baik menurut ingatannya.


"Tidak masalah Elenora, lain kali kita masih banyak waktu untuk bisa bertemu dan mengobrol di waktu luang kita saat tidak bekerja. Aku juga harus memeriksa persiapan acara penyambutan tamu kita dari Gracetian bersama pihak resort, karena kurang dari 3 jam lagi mereka akan segera datang." Alex berkata sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


"Oke kalau begitu. Sebaiknya aku pergi sekarang sebelum pak James marah." Elenora berkata sambil memegang tas jinjingnya dengan kedua tangannya dengan erat untuk mengurangi rasa gugupnya karena berpikir bahwa dia sudah teledor masalah berkas untuk persiapan meeting dua hari lagi.


"Oke, sampai nanti Elenora. Tetap semangat!" Alex berkata sambil tangannya yang mengepal dia angkat setinggi wajahnya, dan dia naik turunkan untuk memberi kode pemberi semangat untuk Elenora yang wajahnya tampak tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Cih... sok bersikap manis. Alex ini benar-benar tidak tahu dia sedang berhadapan dengan siapa sehingga bisa bersikap seenaknya dan sok akrab seperti itu pada Elenora.


Lagi-lagi James mengomel dalam hati, dan buru-buru menutup pintu kamarnya dengan begitu hati-hati, setelah melihat Elenora sudah mulai melangkah menuju kamarnya.


Dan dengan berlarian, James langsung mengambil posisi duduk di sofa yang ada di kamarnya dan segera mengatur nafasnya agar kembali teratur dan tidak menunjukkan bahwa dia baru saja berlarian dari pintu kamar ke arah sofa, dengan menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya melalui bibirnya, sambil tangan kanannya memegang dadanya.


Dengan sengaja, James langsung berpura-pura membolak-balik tumpukan berkas yang tersusun rapi di dalam map yang tergeletak di meja yang tepat berada di depannya.


"Masuk! Tidak dikunci!" Begitu mendengar suara ketukan dari arah pintu kamarnya, James segera mempersilahkan masuk.


"Haist! bahkan aku lupa jika kamar ini terlalu luas untuk membuat seserong yang ada di depan pintu kamar mendengar teriakanku". James bergumam pelan sambil bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kamarnya.


Suara pintu yang dibuka oleh James membuat Elenora dengan ragu sedikit mengangkat kepalanya, memberanikan diri untuk menatap ke arah James yagn terlihat memandangnya tanpa senyum di wajahnya.


"Masuklah. Jangan lupa tutup pintunya dengan baik." James berkata sambil dengan gerakan cepat membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi pintu.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, sosok Elenora dengan wajah gugupnya tampak masuk, dan melangkah dengan sikap ragu ke arah James yang tampak sudah duduk di sofanya kembali.


"Maaf, saya tidak teliti. Saya akan segera menyiapkan kembali berkas-berkas ini, dan berusaha melengkapinya sebelum acara meeting dilakukan." Elenora berkata sambil meraih handphone di sakunya, membuat James mengernyitkan dahinya dan dalam diam mengamati apa yang akan dilakukan oleh Elenora selanjutnya.


Begitu Elenora terlihat begitu serius dengan handphonenya tanpa menyentuh berkas-berkas yang ada di hadapannya, James langsung memajukan tubuhnya ke arah Elenora.


"Elenora, apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa tidak memeriksa berkas-berkas itu dan justru sibuk dengan handphonemu? Apa kamu sedang saling berkirim pesan dengan orang yang lebih penting dariku?" Mendengar teguran dari James, Elenora segera mengalihkan pandangan matanya dari layar handphonenya dan menghentikan kesibukannya.


"Hah?" Mata James langsung membulat sempurna karena kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Elenora.


"Tiket penerbangan? Untuk apa? Siapa?" James langsung bertanya dengan wajah terlihat begitu penasaran dengan apa yang sedang direncanakan oleh gadis yang sedang berdiri tepat di hadapannya, dengan sikap tidak tenang itu.


"Untuk saya Pak. Saya akan kembali ke kantor dan mengambil berkas yang tertinggal, sehingga besok lusa semuanya sudah siap." Mendengar penjelasan dari Elenora, mata James semakin melotot.


Elenora! Haist! Gadis ini respon dan tindakannya selalu saja berhasil membuatku kaget dan kehilangan kata-kata.


James berteriak dalam hati dengan mata menatap dalam-dalam ke arah Elenora.


"Elenora! Apa kamu sadar apa yang kamu katakan? Jangan bertindak sembrono! Kenapa kamu tidak mengecek berkas-berkas itu sebelum memutuskan apakah kamu perlu kembali mengambilnya atau tidak?"


"Karena Pak James mengatakan kalau berkas itu ada yang tertinggal, berarti memang ada yang tertinggal, dan sudah mejadi tanggung jawab saya untuk mengambilnya." Elenora berkata pelan, membuat James hampir saja menjambak rambutnya sendiri karena frustasi, tidak menyangka bahwa Elenora bahkan bisa berbuat senekat itu saat terpojok.


Sial! Gadis ini benar-benar pintar mempermainkan emosiku. Padahal tadi aku hanya mencari alasan agar dia segera berpisah dari Alex. Kenapa dia menganggap hal itu begitu serius? Bahkan mau kembali untuk mengambil berkas yang dia sendiri juga belum jelas berkas mana yang tertinggal?


James berkata dalam hati sambil dengan cepat memikirkan cara terbaik untuk memberitahukan kepada Elenora bahwa dia tidak perlu kembali untuk mengambil berkas, namun juga tidak ingin menunjukkan bahwa sebenarnya semua itu adalah sebuah alasan saja, agar Elenora segera terpisah dari Alex.


“Ehem… tidak perlu bertindak sejauh itu. Aku sudah menemukan berkas yang itu. Ternyata terselip di antara berkas yang lain. Kamu harus berterimakasih padaku karena bisa menemukan berkas itu.” James berkata dengan mata memandang ke arah lain agar Elenora tidak bisa melihat wajahnya yang terlihat jelas sedang mencari-cari alasan.


“Ahh… benarkah? Aku lega sekali mendengar itu.” Elenora yang berdiri di hadapan James berkata sambil tersenyum lega, dengan telapak tangannya menempel di dadanya, menunjukkan begitu besar rasa lega yang dirasakannya.


Cantik… senyum gadis ini ternyata terlihat begitu cantik. Sayang sekali dia jarang sekali tersenyum di depanku. Rasanya baru kali ini aku melihatnya tersenyum semanis itu di depanku. Sungguh cantik….


Tanpa sadar James ikut tersenyum sambil memuji Elenora dalam hati.


Sial. James, hentikan pikiran konyolmu atau kamu akan semakin sulit melepaskan pikiranmu darinya. Hari ini Elenora benar-benar membuatku seperti orang gila. Kenapa harus gadis seperti dia yang membuatku merasa tertarik?


Lagi-lagi, James memaki dirinya sendiri dalam hati, merasa kesal pada dirinya sendiri yang semakin lama disadarinya semakin sulit mengendalikan rasa ketertarikannya terhadap sosok Elenora.


Tapi, benarkah berkas itu sudah ketemu? Apa James hanya sedang menghiburku saja? Aku sungguh ingin bertanya, tapi takut jika dia justru marah padaku. Lebih baik aku diam dan segera kembali ke kamarku, sebelum kemarahan James kembali terdengar.


Elenora mulai bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi.


Kenapa cepat sekali antara James mengatakan berkas yang hilang, membuatnya olahraga jantung. Dan tiba-tiba saja James mengatakan bahwa berkas itu sudah ditemukan olehnya.