
“Pokoknya aku tidak setuju, bagaimananapun, Elenora adalah sekretaris pribadiku. Aku yang akan mengurusnya.” Akhirnya, karena kehabisan ide apa yang harus dikatakannya, James hanya bisa mengandalkan emosinya untuk menyatakan protesnya kepada Ornado sekaligus mencegah Ornado untuk mengambil Elenora dari sisinya sebagai sekretaris pribadinya.
Dan kata-kata James yang tanpa disadarinya menunjukkan emosinya, membuat Ornado mengernyitkan dahinya sambil melepaskan kedua tangannya yang saling bertaut, kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah James.
“Jangan lupa James, aku adalah pimpinan tertinggi perusahaan ini, dan kamu harus ingat, melebihi siapapun, aku berhak memutuskan apapun tentang orang-orang yang ada di bawahku.” Perkataan Ornado yang diucapkan dengan tenang tapi tajam, membuat James terdiam, baru sadar bahwa dia sudah memancing ego Ornado sebagai pemilik perusahaan Bumi Asia.
“Tapi kamu tahu, Elenora bukan pegawai biasa bagiku. Selain dia teman kita, dia juga gadis yang sudah dipilih oleh keluargamu untuk bisa menjadi istrimu di masa depan. Jadi, putuskan saja mana yang terbaik menurutmu. Aku tidak akan ikut campur kali ini.” Ornado mengakhiri kata-katanya sambil bangkit berdiri.
Ornado sengaja mengatakan itu agar James sadar bahwa Ornado tidak marah dengannya, tapi dia justru ingin membuat James berpikir lagi tentang apa yang sedang terjadi sekarang antara dia dan Elenora, dan berharap ke depannya James bisa melakukan yang terbaik tentang hubungannya dengan Elenora, agar tidak menyesal di kemudian hari.
“Kita berangkat dua hari lagi, putuskan dengan cepat masalah ini sebelum jam kerja berakhir hari ini. Karena besok kita akan sibuk sebelum lusa berlibur bersama Alvero dan keluarganya.” Ornado kembali berkata sambil merapikan jas yang dikenakannya.
“Aku sudah putuskan! Aku akan mengajak Elenora sebagai sekretaris pribadiku.” Tanpa menunggu Ornado melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kantor James, dengan cepat James memberikan keputusannya, membuat Ornado mengulum senyumnya sambil memalingkan wajahnya agar James tidak melihat senyumannya.
“Ehem… oke, terserah padamu. Di sana nanti sebagian waktu kita pasti akan banyak mengobrol dengan Alvero, aku juga harus menjamu Dave dan Laurel yang ikut berlibur bersama kita dengan baik. Untung saja masih ada Alex, paling tidak ada orang lain selain kita yang dikenal oleh Elenora. Sehingga saat kita sibuk, masih ada yang bisa menemani Elenora mengobrol.” Kata-kata Ornado tentang keberadaan Alex kembali membuat James tersadar.
“Oke, karena semua sudah diputuskan, aku kembali ke kantorku dulu. Berikan laporan laba rugi yang kemarin sudah kamu cek padaku sebelum kita menyampaikannya ke meeting staff kita sore ini.” Tanpa perduli dengna wajah James yang terlihat tegang, dengan bibir terkatup rapat, kening berkerut dan mata menyipit, Ornado langsung melangkah keluar dari kantor James.
“Sial, bagaimana aku bisa melupakan adanya Alex yang akan ikut berada di sana?” James bergumam pelan sambil mendengus dengan wajah terlihat kesal.
"Apa aku perlu bilang kepada Ornado kalau aku mengubah keputusanku? Batal untuk mengajak Elenora?" James berkatas sambil mendesis.
“Jika aku membiarkan Elenora pelatihan di sini, dia akan bersama Dodi, tapi jika dia ikut denganku, dia akan bersama Alex. Hah! Kenapa gadis itu sibuk menebar pesona kesana kemari? Membuatku harus sibuk mengurusnya agar keluarganya di Italia tidak khawatir. Membuatmu menjadi seperti seorang pengasuh untuknya. Sungguh merepotkan.” James kembali bergumam dengan tetap mencari alasan bahwa apa yang dia lakukan saat ini, semua karena dia tidak ingin membuat keluarga Elenora khawatir, bukan hatinya yang tidak rela Elenora bersama pria lain.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Mana yang kira-kira lebih baik? Membiarkan dia di sini bersama Dodi? Atau membawanya ikut pergi denganku dan bertemu Alex?" James berkata pada dirinya sendiri sambil merenung, sampai dia akhirnya mengeluarkan sebuah uang koin dari mejanya.
Jika yang ada di atas gambar ini, dia akan tetap di sini, jika yang di atas gambar yang satunya, dia akan ikut denganku.
James berkata dalam hati sambil mengamati uang koin di telapak tangannya, sebelum akhirnya dia melemparkannya ke udara, lalu menangkapnya kembali dengan tangan kanannya.
Setelah itu uang koin yang ada digenggaman tangannya itu dia letakkan di atas punggung telapak tangan kirinya.
"Pergi ke pelatihan bersama Dodi? Hah!" James berkata sambil matanya menatap ke arah uang koin itu, sampai akhirnya dilemparkannya uang koin itu ke dalam laci meja kerjanya kembali.
"Membiarkannya pergi ke pelatihan bersama Fred dan Dodi? Tidak... sepertinya itu terlalu berbahaya." James mengomel sendiri sambil mengetuk-ketukkan ujung-ujung jari tangan kanannya ke atas meja kerjanya.
"Hah...." Sambil mendesah dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, James meraih gagang telepon kantor yang ada di depannya.
"Selamat siang Pak James." Suara sahutan dari Elenora sebelum dering telepon berbunyi lebih dari 3 kali membuat James tersenyum puas.
"Elenora, siapkan keperluanmu untuk ikut pergi bersamaku dan membantuku menyiapkan dan mengatur meeting-meetingku selagi aku pergi berlibur bersama Ornado dan yang lain. Dua hari lagi kita akan berangkat. Aku tidak mau pekerjaanku berantakan walaupun aku sedang pergi berlibur." James mengucapkan kata-katanya dengan berusaha mengucapkannya dengan setenang mungkin.
"Baik pak James, saya akan segera cek jadwal Bapak selama liburan, dan menyiapkan semuanya agar pekerjaan Bapak tetap bisa berjalan normal sesuai jadwal." Jawaban Elenora membuat James menahan nafasnya sebentar sambil memejamkan matanya.
"Baik, lakukan dengan sebaik mungkin. Jangan membuatku kecewa." Setelah menyampaikan kata-katanya, James langsung menutup teleponnya dan bergegas berjalan ke arah jendela kantornya, yang berjenis kaca one way.
Begitu sampai di jendela kantornya yang bisa langsung memandang ke arah ruang kerja Elenora, tanpa mereka yang ada di luar sana bisa melihat ke dalam kantornya, James berdiri dengan kedua tangannya dia masukkan ke saku celananya.
"Elen, ini berkas-berkas dari kantor HRD yang harus di tanda tangani oleh pak James. Data nama-nama orang yang mengalami mutasi." Dodi yang sudah berada di dekat meja kerja Elenora meletakkan lembaran kertas di tangannya.
"Eh, Dodi, ini...."
"Kenapa Elen? Apa ada yang salah dengan kertas itu?" Dodi yang berdiri tepat di samping Elenora sedang duduk, bertanya sambil membungkukkan tubuhnya di samping kanan Elenora, sedang James masih berdiri di balik jendela kantornya yang berada di samping kiri ruang terbuka tempat Elenora bekerja.
Walaupun James jelas melihat Dodi sedang membungkukkan tubuhnya untuk melihat kertas yang ada di depan Elenora tanpa melakukan hal lain.
Tapi dari sisi James yang ada di sebelah kiri, pemandangan itu terlihat seperti Dodi sedang berusaha mendekatkan wajahnya ke arah wajah Elenora, untuk mencium pipi Elenora.
Karena dari tempatnya berdiri, posisi Dodi terlihat seperti pipinya sedang menempel pada pipi Elenora, membuat James mendengus kesal tanpa alasan.
Meskipun pada kenyataannya, sebenarnya jarak antara wajah Dodi dan Elenora masih jauh.