My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
UNDANGAN MAKAN SIANG LAUREL



“O ya? Aku justru sudah tahu kalau wanita cantik yang tadi bersama pak James adalah istrinya, bukan sekedar kekasih. Dan sebaiknya kalian baca baik-baik dalam undangan ini, siapa nama istri pak James itu, yang sekarang juga sudah diangkat sebagai manager IT.” Audrey berkata sambil mulai membagikan undangan yang dia pegang, sesuai dengan nama-nama yang tertulis di sana, kecuali milik Dea.


Dan begitu Audrey menyebarkan undangan itu, mereka semua baru tersadar bahwa wanita cantik yang tadi pagi datang bersama James adalah Elenora, yang namanya tertulis dengan jelas, dengan tulisan berbentuk indah, dan tinta berwarna emas, sebagai pasangan James.


Beberapa orang yang merasa tadi pagi mengatakan sesuatu yang menjelek-jelekkan bahkan menghina Elenora, seperti perkiraan Audrey, mereka langsung lemas seperti orang yang terkena serangan jantung, begitu menyadari siapa wanita cantik yang tadi pagi mereka lihat bersama James.


Apalagi beberapa dari mereka tahu kalau tadi pagi, Elenora bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tentangnya, bahkan sempat menatap mereka dan melemparkan sebuah senyum manis, seolah dia memang bukan Elenora yang sedang mereka bicarakan.


“Matilah aku.” Beberapa orang bergumam dengan nada suara terdengar begitu menyesal dan frustasi sekaligus takut, sudah berani bersikap lancang dengan membicarakan istri dari pimpinan mereka.


Dea sendiri, tanpa sadar berjalan beberapa langkah ke belakang sambil memegang dadanya, begitu mengintip undangan milik yang lain dan membaca siapa istri dari James.


“Dan untuk kamu Dea! Tadi pagi Elenora sudah memberikan kesempatan padamu dengan pura-pura tidak mendengar hinaanmu kepadanya. Tapi kamu tidak berubah bahkan kembali menjelek-jelekkannya. Kali ini, aku sebagai temannya merasa tidak terima.” Audrey berkata sambil merogoh saku blazer yang dikenakannya, dan menggoyang-goyangkan handphonenya di depan wajah Dea.


“Aku sudah merekam semua yang kalian bicarakan tadi. Dan aku akan segera memberitahukan pada pak James tentang isi dari rekaman ini.” Audrey berkata sambil menggarahkan undangan untuk Deak ke dada Dea, dan sedikit menekannya, sehingga tubuh Dea sedikit terdorong ke belakang, untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak suka dengan sikap Dea yang baginya sudah sangat keterlaluan.


Dea sendiri hanya bisa pasrah, dan menyadari bahwa hari ini akan menjadi hari terakhirnya berkerja di kantor Bumi Asia karena sikap kurangajarnya terhadap Elenora.


BEBERAPA BULAN KEMUDIAN….


“Apa Alvero dan Deanda sudah datang?” Cladia yang baru saja turun dari mobil bersama Ornado, memenuhi undangan makan siang dari Dave dan Laurel, langsung bertanya begitu Ornado menutup panggilan telepon dari Alvero.


“10 menit lagi, mereka akan sampai di tempat ini amore mio.” Ornado berkata sambil melingkarkan lengan tangannya ke tubuh Cladia yang perutnya terlihat sudah membesar.


Sejak beberapa hari yang lalu Alvero memang mengatakan kepada Ornado bahwa dia sedang ada kunjungan kenegaraan di Indonesia.


Akan tetapi Deanda yang terus merayu Alvero, pada akhirnya tidak tahan juga untuk tidak memberi Deanda ijin, karena seorang Alvero, paling tidak tahan jika yang merayunya adalah Deanda.


Dan akhirnya hari ini mereka berdua benar-benar datang ke Indonesia, bahkan memenuhi undangan makan siang Laurel yang kebetulan sedang berulang tahun, dan ingin merayakan secara sederhana dengan para sahabat dan keluarga, sebelum besok Dave mengadakan acara ulang tahun Laurel dengan para karyawan rumah sakit mereka.


Sedangkan untuk nanti malam, Laurel dan Dave akan makan malam bersama keluarga lainnya di rumah besar.


“Bagaimana dengan James dan Elenora?” Cladia berkata sambil mengelus perutnya, karena baru saja dirasakannya sebuah tendangan yang cukup keras dari Bee.


“James dan Elenora tadi mengatakan padaku kalau setelah melakukan pengecekan pabrik cat kulit, mereka akan langsung datang ke tempat ini. Kenapa dengan Bee amore mio?” Ornado langsung bertanya sambil mengamati wajah Cladia yang tampak sedikit meringis.


“Akhir-akhir ini gerakan Bee semakin keras, mungkin karena sudah mendekati waktunya dia lahir.” Cladia berkata sambil kembali mengelus salah satu sisi perutnya yang tampak menonjol karena lutut bayi dalam perutnya sedang berada di sisi itu.


“Semoga kelahiran Bee berjalan dengan lancar. Jangan membuat mamamu kesakitan ya Bee, jadilah anak yang baik. Apa kamu sudah tidak sabar ingin bertemu kami Bee?” Ornado berkata sambil tangannya mengelus-elus pinggang Cladia dari arah belakang.


“Sepertinya kamu juga sudah tidak sabar untuk segera bertemu jagoanmu.” Cladia berkata sambil tersenyum ke arah Ornado yang terlihat semakin bersemangat begitu mengetahui bahwa bayi yang dikandung oleh Cladia adalah seorang bayi laki-laki, sedangkan bayi yang dikandung oleh Laurel adalah bayi perempuan.


“Al… apa tidak sebaiknya, kamu bicara pada James tentang status Elenora sebagai asistennya, yang seringkali dia ajak berkunjung ke lapangan? Kamu tahu kalau Elenora sedang hamil muda, jangan biarkan James terlalu menforsir tenaga Elenora, kasihan dia. Kalau ada apa-apa, nanti menyesalnya belakangan.” Kata-kata Cladia, membuat Ornado mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Sebenarnya aku sudah sempat membahas itu, tapi dasar James, dia tidak ingin sedikitpun menghabiskan waktu tanpa adanya Elenora di sisinya, termasuk saat jam kerja, sehingga dia selalu mengajak Elenora kemanapun dia pergi. Mentang-mentang Elenora terlihat sehat dan baik-baik saja di masa awal kehamilannya ini. Tapi nanti aku akan coba bicarakan lagi dengan James. Seperti katamu, kasihan kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk terhadap kehamilan Elenora karena terlalu lelah mengikuti kemauan James.” Mendengar janji Ornado, membuat Cladia menarik nafas lega.


Meski kondisi kehamilan Elenora tidak seperti dia yang bermasalah, tapi Cladia tetap saja ingin Elenora tidak memaksakan diri dengan usia kandungannya yang masih di bawah 3 bulan.