My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KEHADIRAN DARIO (2)



"Aku dan James memang beberapa waktu ini sibuk bersiap untuk menyambut kedatangan raja besar dari Gracetian dan keluarganya ini. Tapi sebenarnya, jika kamu butuh bantuan atau teman makan malam, James yang belum menikah dan tidak sibuk dengan keluarganya, pasti akan dengan senang hati menemanimu. Benar kan James?" Pertanyaan Ornado membuat James mau tidak mau mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Ornado dengan senyum yang dipaksakan.


James sendiri tidak terlalu dekat dengan Dario, dan seringkali pembicaraan mereka berdua tidak bisa cocok antara satu dan yang lain, membuat James tidak bisa nyaman jika bersama Dario.


“Ah, ya, jika ada kesempatan, kita berdua sesama pria lajang bisa menikmati minum kopi atau makan malam berdua.” James berkata dengan nada asal-asalan, membuat Dario tertawa renyah.


“Tidak James… lebih baik tidak. Aku masih pria yang sangat normal. Selain itu, aku tidak mau jika orang lain yang melihat kebersamaan kita jadi salah paham tentang hubungan kita dan meragukan orientasi seksualku.” Dengan gamblang, Dario berkata sambil mengambil buku menu yang disodorkan oleh salah satu pelayan, yang sebelumnya dipanggil oleh Ornado dengan kode melalui lambaian tangannya untuk melayani Dario yang baru bergabung dengan mereka.


“Haist! Kalau begitu cepatlah menikah dengan seorang wanita, supaya ada yang menemanimu berlibur dan makan malam setiap harinya. Aku tidak percaya seorang Dario tidak memiliki seorang wanita yang istimewa dalam hatinya. Pasti ada gadis yang sudah membuatmu jatuh hati, tapi entah kenapa kamu tetap bertahan dan tidak segera menikahinya.” James segera membalas perkataan Dario, dan disambut senyum para pria lain yang duduk di tempat itu.


Apa James mulai curiga padaku? Sedari tadi dia terlihat tidak terlalu perduli dengan kehadiranku, tapi sepertinya sekarang dia terus membicarakan tentang wanita yang aku suka.


Dario berkata dalam hati sambil menatap ke arah James yang sedang menunggu jawaban dari Dario.


“Tentu saja ada James. Tapi entahlah, aku harap bisa segera membawanya bersamaku sebagai istriku. Untuk sekarang sepertinya dia belum mau melirikku sama sekali, karena seseorang menghalangi pandangan matanya padaku. Sepertinya kamu yang lebih beruntung dariku untuk masalah percintaan, karena kamu akan menikah lebih dahulu dariku.” Tanpa sadar James mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Dario yang diucapkannya dengan nada sengaja dia buat sedikit memelas.


“Wah… siapa wanita beruntung yang sudah berhasil membuat seorang Dario terlihat putus asa seperti ini?” Enzo jadi ikut memberikan komentarnya.


Jika diteruskan, sepertinya mereka berdua sebentar lagi akan saling melempar cangkir kopi. Sejak dulu James memang terlihat tidak nyaman jika mengobrol dengan Dario.


Ornado berkata dalam hati sambil menahan nafasnya sebentar, tidak habis pikir dengan sikap James dan Dario yang bisa-bisanya saling melempar senyum, tapi bibir mereka juga saling menyerang dan mata mereka saling menatap tajam.


“Sudahlah James, jangan menggoda Dario terus.” Akhirnya Ornado berusaha menengahi pembicaraan mereka, karena dilihatnya tatapan mata antara James dan Dario terlihat saling menyerang dengan tatapan tajam, padahal mereka saling melempar senyum di wajah mereka.


“Aku hanya ingin Dario segera menikah, jadi dia bisa memiliki sebuah keluarga dan membangun rumah impiannya bersama gadis pilihannya. Sebenarnya gadis hebat mana yang sudah berhasil membuat hatimu terpenjara oleh pesonanya itu Dario?” James masih saja meneruskan kata-katanya tanpa merasa bersalah.


James berkata dalam hati sambil menatap dalam-dalam ke arah Dario dengan wajah terlihat serius.


“Jangan khawatir, jika sudah tiba waktunya, kalian semua akan tahu siapa wanita itu.” Dario berkata dengan nada santai, lalu mengalihkan pandangannya pada Dave yang tadinya hanya diam mengikuti permbicaraan mereka tanpa berkomentar apapun.


“Ah, Dave, daripada pusing memikirkan tentang perkataan James, lebih baik kita bahas rencana kerjasama kita.” Dave langsung tersenyum mendengar perkataan Dario.


“Dengan senang hati, aku akan menunggu tentang hasil dari surat penawaran kerjasama yang kamu katakan, sedang kamu siapkan untukku.” Jawaban Dave membuat Dario mengangguk dengan wajah terlihat senang, karena Dave mulai menanggapi ajakan kerjasama yang sempat dia bicara beberapa waktu lalu.


Beberapa waktu kemudian, para lelaki tampan itu menjadi serius membicarakan tentang bisnis mereka masing-masing, saling bertukar pikiran tentang usaha yang sedang mereka geluti, dan juga saling membicarakan pengalaman masing-masing selama mereka menjalalankan bisnis mereka.


Sampai pada akhirnya Dario yang sebenarnya menunggu munculnya sosok Cladia di tempat itu sedari tadi, mulai penasaran dengan keberadaan Cladia yang tidak juga muncul dan bergabung bersama mereka.


"Kalian berkumpul di sini dengan meninggalkan para istri kalian?" Dario akhirnya bertanya setelah beberapa saat matanya mencoba mencari sosok Cladia dan tidak mendapatinya ada di sekitar sana.


"Tidak juga, mereka sedang menikmati waktu belanja mereka, dan kami sedang menikmati waktu sore kami, sehingga bisa berbincang dari hati ke hati antar pria." Ornado langsung menjawab pertanyaan Dario sambil tersenyum.


“Ah, kalau begitu aku tidak perlu sungkan mengobrol berlama-lama dengan kalian yang sekarang statusnya lajang karena tidak ada istri kalian di sini.” Perkataan Dario membuat Ornado, Alvero dan Dave tersenyum.


“Hah, sepertinya jika para wanita itu sudah kembali, hanya tinggal Enzo dan James harapan bagimu untuk menemanimu sebagai sesama bujangan.” Dario dan Enzo langsung tertawa mendengar perkataan Ornado, tapi tidak dengan James, yang seolah mengerti bahwa Dario sedang menunggu hadirnya sosok Cladia.


Ist, dasar Ornado! Siapa juga yang mau berlama-lama menemani Dario. Apa Ad tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu kalau kakak angkatnya ini sepertinya menyimpan perasaan khusus pada istrinya sejak mereka masih kecil juga?


James berkata dalam hati sambil memandang ke arah Dario, namun segera mengalihkan pandangannya karena Dario juga sempat meliriknya sekilas, tidak ingin Dario bisa membaca raut wajahnya yang tidak suka saat Dario mulai menanyakan tentang para wanita itu.