My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
PEMBATALAN RENCANA KERJASAMA



"Jangan! Jangan mengganggu nonamu. Biarkan saja dia tidur. Hanya berjaga-jaga saja, tetap siapkan makan malam yang tidak perlu dipanasi ulang di meja, kalau-kalau nanti malam nona Elenora lapar dan mencari makanan, sedang kalian sudah tidur. Kalian bisa siapkan roti dan buah untuknya." James berkata sambil menyendok makanan yang ada di depannya, berencana memulai makan malamnya tanpa Elenora dengan sikap terpaksa.


"Kalau sampai pukul 9 malam nanti nona Elenora tidak keluar dari kamarnya, antar roti dan buah ke kamarnya. Sehingga dia bisa sewaktu-waktu menikmati makan malamnya saat terbangun nanti." James berkata sambil mencoba menikmati makan malam hasil masakan Matilda yang biasanya selalu saja berhasil menggugah seleranya.


Tapi kali ini, makanan itu bagi James sungguh membuatnya tidak bernafsu makan sama sekali. Nafsu makannya hilang seketika bersama dengan sosok Elenora yang tidak muncul di hadapannya.


Dan membayangkan bahwa Elenora sedang tertidur lelap karena lelah seteleh seharian menangis, membuat hati James terasa berdesir. Ada rasa nyeri yang dia rasakan menyadari bahwa gadis itu lelah karena menangis, dan menangisnya gadis itu sedikit banyak, dikarenakan oleh dia.


Sejak berpisah dari Elenora dari tadi siang, dimana Elenora memilih untuk mengurung diri di kamar, James berharap malam ini dia bisa menikmati makan malam bersama Elenora, yang sengaja disiapkan secara khusus oleh Matilda berupa menu-menu istimewa yang merupakan kesukaan James, yang setahu James itu juga merupakan menu kesukaan Elenora.


Dan James harus merelakan rencananya itu hanya sekedar angan-angan, karena Elenora tidak muncul di meja makan malam ini.


Apa yang membuat Elenora terlihat histeris begitu aku menanyakan tentang kejadian malam itu? Jika Elenora tetap bersikap seperti itu dan tidak mau memberitahuku tentang hal itu, bagaimana bisa aku menyelesaikan masalah antara Elenora dan aku karena peristiwa malam itu? Dan melihat sikapnya tadi ketika aku membahas masalah itu, sepertinya aku harus mencari cara lain untuk menemukan jawabannya.


James bergumam dalam hati, dengan pikirannya yang sedang berpikir keras, mencoba mencari cara agar dia bisa menemukan jawaban tentang apa yang terjadi malam itu, meskipun Elenora tidak mau membuka mulutnya, untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Dengan buru-buru, James menyelesaikan makan malamnya, tanpa menikmati apa yang disuguhkan malam ini oleh Matilda, karena dia ingin segera kembali ke kamarnya dan menghubungi seseorang untuk membantunya.


Elenora sendiri, sedang berbaring di tempat tidur, melamun, sambil sesekali menarik nafas yang menimbulkan suara isakan karena dia memang kembali hidungnya yang basah akibat diam-diam, dia baru saja kembali menangis malam ini. Dia bukannya tidur seperti yang dikatakan oleh Matilda tadi.


Tepatnya, Elenora sengaja berpura-pura tidur untuk menghindari pertemuannya dengan James di meja makan.


Matilda yang sayup-sayup mendengar isak tangis ketika masuk ke dalam kamar Elenora, hanya bisa terdiam ketika Elenora terlihat sedang berpura-pura tertidur, begitu Elenora mendengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.


Melihat majikan perempuannya sepertinya belum bisa mengendalikan dirinya dari rasa jengkel, marah, putus ada dan kecewanya, membuat Matilda berpura-pura tidak tahu bahwa Elenora hanya sekedar berpura-pura tidur.


# # # # # #


"Akhhh....!" Serafina berteriak keras sambil melempar tas mahal yang awalnya dipegangnya.


"Kenapa bisa seperti ini?" Serafina kembali berteriak keras sambil berjalan mendekat ke arah managernya.


"Telepon mereka sekarang juga, tanyakan kapan pertemuan ulang antara aku dan mereka dijadwalkan lagi!" Serafina berkata sambil menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang ada di salah satu ruang tamu yang ada di kantor agencynya.


"Percuma Serafina. Pihak agency kita sudah mengatakan kalau tidak ada penjadwalan ulang, karena model yang akan mereka ajak untuk kerjasama iklan tersebut sudah digantikan oleh orang lain." Mendengar penjelasan dari managernya itu, Serafina langsung melotot tajam sambil mendengus kesal.


"Aku sudah melakukan banyak hal untuk bisa datang secepatnya ke Italia. Dan sekarang, dengan mudahnya mereka membatalkan pertemuan kita? Dan membatalkan rencana kerjasama kita, padahal belum ada pembicaraan sedikitpunm antara kita! Ini benar-benar tidak masuk akal!" Serafina mengomel dengan tangannya terkepal erat.


Untuk bisa menghadiri pertemuan hari ini, Serafina merasa sudah mengorbankan banyak hal, termasuk harga dirinya yang merasa terinjak-injak karena seorang model terkenal seperti dirinya harus merelakan diri untuk mengendarai ojek online di negara nun jauh di sana, dengan sepeda motor butut dan pengendaranya yang baginya terlihat kumal.


Belum lagi, karena dia pergi meninggalkan Indonesia dengan buru-buru, Serafina kehilangan kesempatan untuk berlibur, dan juga kesempatan berharga untuk dapat menjalin hubungan dengan orang-orang penting, berlatar belakang hebat.


Bagaimana tidak? Selain tempat berlibur yang begitu nyaman dan dengan semua fasilitasnya yang mewah, Serafina bisa bertemu dengan Dave Alexander Shaw yang merupakan BOD dari sebuah perusahaan farmasi terbesar di Irlandia, yang menguasai hampir 90 persen pasar obat-obatan di seluruh benua Eropa, Amerika dan Asia.


Orang penting lain yang bisa dia temui di sana adalah Alvero Adalvino, seorang raja muda dan tampan dari kerajaan Gracetian yagn dikenal makmur dan kaya raya dengan hasil pertambangannya.


Dan satu lagi, Ornado Xanderson, yang meskipun sejak lama keluarganya sudah mengenal laki-laki hebat itu, hubungan mereka berdua tidaklah akrab. Dengan liburan ini awalnya Serafina berharap bisa menjalin hubungan baik dengan Ornado.


Selain itu, awal niat kedatangannya ke Indonesia adalah merebut James dari tangan Elenora, menggantikan posisi Elenora sebagai calon istri James.


Namun semua hal yang diangan-angankan itu hilang begitu saja tanpa bekas, bahkan saat ini dia haru melawan jet lag yang dialaminya akibat perjalanan jauh menggunakan pesawat yang sudah dilakukannya.


"Kira-kira apa yang membuat mereka melakukan hal seperti itu padaku? Bisakah kita menuntut mereka dengan tuduhan merugikan kita?" Mendengar pertanyaan konyol dari Serafina, managernya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendesis pelan.


"Apa yang mau kita tuntut dari mereka? Sedangkan kita belum menandatangani kontrak kerjasama apapun dengan mereka."


"Sial! Kurangajar!" Bibir Serafina terus mengeluarkan puluhan kata-kata umpatan yang tiada hentinya untuk meluapkan emosi dalam dadanya, meskpiun itu tidak bisa menghilangkan kekecewaannya


"Apalagi, kamu tahu sendiri, mereka perusahan berkelas internasional, yang pasti memiliki kekuatan dan pengaruh besar di dunia hiburan. Jika kita salah bertindak dan berani menentang mereka, bisa jadi kamu yang akan rugi sendiri. Kamu akan menggali kuburanmu sendiri dengan mencoba menentang mereka." Penjelasan lebih lanjut yang diucapkan oleh managernya, membuat kemarahan Serafina semakin menjadi.