
Ingatan Jeremy kembali pada dua hari lalu, ketika dari tim penyelidik milik perusahaan Bumi Asia mengatakan mereka sudah menemukan siapa pemilik nomer tidak dikenal yang seringkali mengiriminya pesan-pesan tidak bertuan kepada Jeremy.
Yang membuat Jeremy cukup kaget, ternyata orang itu merupakan orang yang cukup di kenalnya, karena dia merupakan salah satu paman dari Jeremy, adik dari papanya, yang dulunya seringkali menginap di rumah Jeremy ketika kedua orangtua Jeremy masih hidup.
Dan kemarin pagi adalah pertemuannya dengan pamannya itu, setelah dia yakin bahwa pelaku pengirim pesan tidak bertuan itu adalah benar pamannya.
“Jeremy… aku benar-benar tidak berniat jahat padamu dan Cladia.” Hanya itu kata-kata yang bisa diucapkan oleh pamannya ketika Jeremy mempertanyakan tentang apa yang diinginkannya dengan mengiriminya pesan tidak bertuan seperti itu.
“Paman… tolong jelaskan padaku, jangan membuatku merasa digantung seperti ini. Membuatku berpikir bahwa paman berniat jahat kepadaku dan Cladia.”
“Jeremy, kamu tahu bahwa sejak kalian kecil, bahkan aku seringkali datang ke tempat kalian, agar bisa menemani kalian bermain dan bersenang-senang. Aku menyayangi keluarga kalian.” Paman Jeremy berkata lirih.
“Kalau begitu, kenapa dengan sembunyi-sembunyi Paman mengirimiku pesan aneh seperti itu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Setelah Paman menghilang begitu saja setelah kematian papa dan mama, tiba-tiba saja Paman mengirimkanku pesan seperti itu.” Jeremy kembali menuntut penjelasan dari pamannya yang terdiam dengan kepala tertunduk.
“Aku bersalah Jeremy. Aku bersalah pada keluargamu, pada papa dan mamamu, juga kepadamu dan Cladia.”
“Apa maksud perkataan Paman?”
Pertanyaan dari Jeremy membuat pamannya menarik nafas dalam-dalam dengan wajahnya yang terlihat sedih, dan seperti orang yang sedang menanggung beban yang begitu besar di pundaknya, dan itu memang yang sudah terjadi padanya selama bertahun-tahun ini.
"Aku... tanpa sadar sudah menjadi kaki tangan orang jahat itu. Aku sudah mencelakai papa dan mamamu." Meskipun Jeremy belum mengerti kemana arah perkataan pamannya, tapi mendengar hal itu membuat Jeremy menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya, agar tidak terpancing emosi dan juga prasangka buruk pada pamannya.
"Tolong Paman jelaskan dengan detail, agar aku tidak mengira Paman yang sudah menyebabkan kecelakaan itu." Perkataan Jeremy membuat pamannya langsung menatapnya dengan mata terbeliak kaget.
"Ti... tidak Jeremy. Sumpah, bukan paman yang melakukan itu! Aku tidak mungkin tega melukai kakak kandungku sendiri."
"Kalau begitu... ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu." Jeremy mencoba mengatakan semuanya dengan sikap tenang, walaupun di dalam sana, dadanya mulai bergemuruh.
Jeremy tahu, kematian kedua orangtuanya membuat dirinya sempat kehilangan pegangan waktu itu.
Kejadian itu merupakan pukulan yang begitu berat bagi Jeremy maupun Cladia.
Mengingat hal itu, Jeremy merasa bersyukur dengan keberadaan Ornado sebagai sahabat dekatnya yang selalu mendukungnya, meskipun saat itu kondisi Ornado yang jauh di Italia sana.
"Aku... sebenarnya mengetahui banyak hal tentang kematian orangtuamu, tapi aku begitu pengecut... tidak berani mengungkapkan kebenaran karena takut nyawaku sendiri terancam." Paman Jeremy mulai membuka suaranya.
"Beberapa hari sebelum kecelakaan, papamu menerima telepon dari seseorang yang mengajaknya untuk bertemu secara pribadi bersama dengan mamamu. Akhirnya mereka setuju untuk bertemu dengan papa mamamu di rumah ini...."
"Kenapa aku tidak bisa mengingat tentang hal itu Paman?" Jeremy langsung menyampaikan protesnya.
"Karena ketika itu kamu dan Cladia kebetulan berada di rumah nenekmu. Aku dipanggil papamu waktu itu karena dia memintaku untuk menjemput kalian malam itu, tapi siangnya papamu mengatakan kalau dia ada pertemuan penting dengan seseorang, sehingga dia memintaku untuk menjemput kalian besok pagi agar keberadaan kalian tidak mengganggu acara pertemuan mereka malam itu...." Paman Jeremy berhenti berbicara sambil menarik nafas panjang.
Bagi laki-laki itu, menceritakan kembali tentang hal yang sudah bertahun-tahun membuatnya terus terpuruk pada rasa bersalah yang berkepanjangan, bukanlah hal yang mudah.
"Kebetulan saat itu aku ada di ruang keluarga, yang dipisahkan oleh lemari buku dengan ruang tamu, sehingga mereka yang ada di ruang tamu tidak menyadari kehadirannya yang sedang sibuk membaca buku. Dan itu membuatku tanpa sadar bisa mendengar dengan jelas semua yang dibicarakan oleh mereka...."
"Paman... siapa tamu yang Paman maksudkan?"
"Dario... Dario Benigno...." Paman Jeremy langsung menjawab pertanyaan Jeremy, sambil matanya menerawang jauh pada ingatannya tentang kejadian beberapa tahun lalu, malam dimana Dario datang menemui orangtua Jeremy.
"Sungguh merupakan kejutan kamu datang ke rumah kami Dario. Masuklah...." Dengan sambutan hangat, Papa Jeremy mempersilahkan Dario untuk masuk.
Dengan senyum ramahnya, yang terukir di wajah tampannya, Dario langsung mengangguk dan berjalan memasuki rumah orangtua Jeremy.
Begitu masuk, mata Dario langsung terpaku, menatap foto keluarga berukuran besar yang tergantung di ruang tamu itu.
Di sana, tampak Cladia berdiri diantara Jeremy dan mamanya, yang memeluk pinggangnya, sedang Jeremy melingkarkan lengannya di bahu Cladia yang tampak tersenyum manis, terlihat begitu cantik di usianya yang baru menginjak remaja itu, membuat Dario menyungingkan senyum dengan tatapan kagum saat menatap lurus ke arah foto Cladia kala itu.
Saat itu di belakang Dario, berjajar orang-orang dengan membawa banyak kotak dan juga tas kertas, juga parcel buah dan juga rangkaian bunga segar yang terlihat indah.