
"Tidak perlu! Aku mau menginap bersamamu, tidak mau di hotel lain. Pokoknya aku akan menginap sekamar denganmu!" Tanpa menunggu jawaban atau tanggapan dari Elenora, Serafina langsung menutup teleponnya, meninggalkan sentakan pada tubuh Elenora yang merasa kaget karena tiba-tiba Serafina menutup panggilan teleponnya tanpa berpamitan.
“Apa yang terjadi Elenora?” Laurel bertanya sambil kepalanya bergerak sedikit miring untuk melihat wajah Elenora yang tampak kebingungan.
"Ma... maaf.... Aku harus pergi sekarang, ada sesuatu yang harus aku urus untuk kakakku." Begitu Serafina menutup teleponnya, dengan gugup Elenora berpamitan kepada Laurel dan James, juga Dave yang tampak ikut kaget mendengar suara teriakan orang yang menelpon Elenora barusan.
"Elenora..." Elenora baru saja berniat beranjak pergi dari sana ketika dirasakannya tangan James mencekal pergelangan tangannya, sedikit menariknya dan menahannya untuk pergi menjauh.
"Ja... James...." Begitu Elenora menyebutkan namanya, dengan cepat James melepaskan cekalan tangannya dari tangan Elenora, seolah baru sadar bahwa barusan dia terlalu kuat memegang pergelangan tangan Elenora, dan membuat gadis itu bertambah gugup.
"Kenapa dengan kakakmu? Apa yang sebernarnya terjadi? Kenapa dia sepertinya marah padamu? Apa yang diinginkannya darimu?" Pertanyaan James yang bertubi-tubi, membuat Elenora terdiam, sekaligus membuat Laurel menganggukkan kepalanya pelan karena mulai mengerti siapa Serafina tanpa perlu menanyakan kepada James atau Elenora.
Beberapa saat Elenora tetap diam, membiarkan tatapan mata James tajam ke arah wajahnya, seperti orangtua yang sedang menghakimi anaknya karena berbuat salah.
"Elenora... Apa kamu tidak mau menjawab pertanyaanku?" James kembali bertanya dengan nada suara terdengar cukup tinggi dan mata menatap tajam ke arah Elenora yang tidak tahu harus memulai dari mana untuk menceritakan tentang niat Serafina.
"Elenora, katakan saja pada kami, apa ada masalah antara kamu dan kakakmu? Mungkin kami bisa membantu?" Laurel berkata dengan suara lembut, mencoba menenangkan Elenora yang tampak semakin tertekan karena bentakan James barusan, yang sebenarnya melakukan itu karena dia cukup khawatir pada Elenora.
"Eh, aku… aku tidak tahu…. Akan sangat memalukan untuk menceritakan hal seperti ini." Elenora berkata dengan suara ragu.
"Memangnya kenapa? Maaf karena tadi suaranya terlalu keras. Walaupun tidak mendengar dengan jelas dan semuanya, tapi kami jadi bisa mendengar kakakmu sepertinya ingin menyusulmu ke Bali." Perkataan Laurel sempat membuat Elenora sedikit keget, namun akhirnya dia hanya bisa menjawab dengan sebuah anggukan kepala, karena tidak adalagi yang bisa dia sembunyikan.
"Dia ingin aku meminta ijin kepada Ornado agar dibiarkan menginap bersamaku, dan tidur sekamar denganku. Dia ingin ikut berlibur bersama kita. Tapi bagiku itu akan sangat memalukan dan tidak sopan." Elenora kembali berkata dengan suara ragu.
Kali ini perkataan Elenora membuat James mengernyitkan dahinya, mulai menebak-nebak apa yang sebenarnya sudah terjadi antara Elenora dan Serafina.
"Aneh sekali, kenapa mendadak sekali? Apa kakakmu tidak ada kesibukan lain sehingga bisa memutuskan untuk pergi secepat ini? Kamu saja baru tahu 2 hari sebelum berangkat ke Bali. Dan dia sekarang sedang menuju ke Bali?" James berkata sambil melipat kedua tangannya ke depan perutnya.
"Biarkan saja dia menginap denganmu Elenora." Suara Ornado yang memotong perkataan Elenora, membuat semua yang ada di situ menoleh ke arah sumber suara, dan melihat Ornado sedang berjalan mendekat ke arah mereka yang sedang bergerombol sekarang.
"Kenapa? Biarkan saja dia menginap bersamamu Elenora." Ornado berkata sambil mengangkat kedua bahunya dan melihat satu persatu ke arah mereka yang sedang berdiri tidak jauh darinya dan mereka semua sedang menatap ke arah Ornado.
Tanpa disadari oleh mereka yang sedang berkumpul di sana tadi, Ornado sempat mendengar pembicaraan mereka, tentang Serafina yang ingin ikut bergabung bersama mereka.
Sebenarnya tadi awalnya Ornado hanya ingin memanggil mereka agar segera masuk ke mobilnya masing-masing agar mereka bisa segera melanjutkan tujuan mereka selanjutnya, karena Alvero dan keluarganya dilihatnya satu persatu mulai kembali ke mobil yang ditumpangi mereka juga.
Karena Ornado sendiri sudah merasa lapar, dan di Mall Galleria Bali, dimana selain merupakan tempat berbelanja, di sana ada tempat makan yang bisa dia gunakan untuk bersantai, dia juga ingin secepatnya pergi ke sana.
Paling tidak dia bisa menikmati kopi di starbucks, atau mengganjal perutnya dengan roti dari bread talk. Itu yang ada di pikiran Ornado sebelumnya.
Ternyata setelah mendekat ke arah mereka, Ornado justru mendengar pembicaraan tentang Serafina yang memaksa Elenora untuk meminta ijin padanya agar dibiarkan ikut berlibur dan menginap bersama Elenora.
Sepertinya Serafina ini tetap saja tidak berubah, suka memaksa dan mengintimidasi orang yang lebih lemah.
Ornado berkata sambil mengingat bahwa sejak kecil, Serafina tidak memiliki banyak teman karena sifat sombong dan suka memerintahnya, membuat dia maupun James tidak suka untuk terlalu dekat dengannya, dan lebih memilih berteman dengan Elenora.
"Eh, Ad.... Tapi..." Elenora berkata dengan terbata-bata karena merasa tidak enak dengan Ornado.
Sepertinya aku harus dengan sengaja membiarkan Serafina tinggal bersama Elenora kali ini agar bisa membuatnya mengerti bahwa banyak orang yang menyukai dan menganggap Elenora sebagai teman. Supaya dia bisa belajar banyak hal dari Elenora. Lagipula, ada sesuatu yang ingin aku pastikan tentang Serafina.
Ornado kembali berkata dalam hati sambil berjalan mendekat ke arah mereka berempat, dengan mata menatap ke arah Elenora yang merasa tidak enak kepada Ornado.