
Cladia, andai saja kamu tahu, apa yang aku lihat saat ini, antara kamu dan Ornado, sungguh membuatku begitu ingin menarik tanganmu untuk menjauh dari laki-laki yang sudah sejak kecil selalu berusaha merebutmu dariku. Bahkan bukan hanya merebutmu, dia juga sudah merebut cinta dan perhatian dari papa dan mama. Dia sudah merebut semuanya dariku. Semuanya boleh dia ambil, entah itu status atau kekayaanku, aku tidak perduli. Tapi aku sungguh tidak bisa membiarkan dia mengambilmu dariku.
Dario berkata dalam hati sambil mengalihkan matanya dari pemandangan mesra yang terpapar di depannya, yang membuat hatinya serasa mau meledak karena panas akibat rasa cemburu yang memenuhi hati dan pikirannya saat ini.
Sekedar kebetulan? Atau sebuah kesengajaan? Sungguh membuat hati terasa tidak nyaman.
Laurel berkata dalam hati sambil tetap menatap ke arah Dario, menunggu jawaban apa yang akan diberikan Dario padanya.
Laurel tidaklah sepolos Cladia. Aku merasa dari tatapannya, dia bukan orang yang akan percaya begitu saja jika aku mengatakan bahwa kehadiranku di pulau Bali dan pertemuan kami sore ini hanyalah sekedar suatu kebetulan belaka.
Dari menatap ke arah Laurel yang masih menatapnya, menunggu jawaban darinya.
“Ah, mereka juga tadi menanyakan hal yang sama karena kaget dengan kemunculanku di sini. Aku di tempat ini karena kegiatanku yang sedang melakukan survey pasar untuk industri kosmetik baruku, yang akan mulai aku kembangkan di negara ini dalam waktu dekat.” Dario berkata dengan sikap dan gerakan tubuh, juga suara yang dia buat setenang mungkin.
“O, begitukah? Semoga kamu mendapatkan hasil survey yang terbaik.” Laurel berkata sambil membenarkan letak tali tas yang bertengger di bahunya.
“Ladies, apa kalian mau memesan minuman terlebih dahulu, atau kita segera meluncur ke tempat makan malam kita dan menikmati waktu bersantai di sana sekalian?” Ornado tiba-tiba langsung memotong pembicaraan antara Laurel dan Dario, dengan menawarkan pilihan kepada mereka yang baru datang dari berbelanja.
“Aku sih ingin langsung kesana, aku dengar Mozaic Ubud benar-benar tempat yang indah sekaligus romantis.” Deanda berkata sambil memandang ke arah yang lain, meminta pendapat mereka juga.
“Aku setuju dengan Deanda. Lebih baik kita menghabiskan banyak waktu di sana sambil menunggu makan malam. Apalagi, aku dengar untuk makan malam di sana bisa menghabiskan waktu 2 sampai 3 jam. Kita bisa memulainya dengan minum dan mengobrol.” Laurel menjawab pertanyaan Deanda dengan cepat, dan langsung memandang ke arah Cladia.
“Aku juga setuju dengan kalian.” Jawaban dari Cladia bagi mereka sudah cukup untuk memutuskan bahwa mereka semua setuju dan akan pergi sekarang menuju destinasi selanjutnya, Mozaic Ubud, yang akan menjadi tempaat mereka menikmati makan malam mereka juga.
Bagaimanapun, karena semua hal tentang liburan kali ini yang mengatur dan membiayai adalah Ornado, mereka menghormati posisi Ornado dan Cladia sebagai tuan rumah dan keputusan maupun pendapat mereka, dianggap penting oleh yang lain.
“Oke kalau begitu, kita berangkat sekarang saja.” Ornado berkata sambil mulai bangkit dari duduknya, menopang pinggang Cladia untuk membantunya berdiri dari duduknya, dan segera disusul oleh yang lainnya.
“Ah, aku tidak sabar sampai di Mozaic Ubud, aku sudah search di internet review tentang tempat itu. Tempat itu dikenal selain makanannya yang unik, kadang menggubungkan resep Asia dan Eropa, tempatnya juga memberikan eksan begitu romantis dari gambar-gambar yang pernah aku lihat.” Deanda yang berjalan sedikit mendahului Alvero berkata kepada Cladia yang langsung menanggukkan kepalanya, meskipun dia sendiri belum pernah mengunjungi tempat itu.
Tapi dari cerita Ornado dan juga foto-foto seperti yang sudah dibicarakan oleh Deanda tadi, Cladia bisa menebak bahwa tempat itu memang tempat yang memiliki review bagus dan romantis.
Deanda yang berencana kembali mengobrol dengan Cladia, sedikit menghentikan langkahnya, dan memandang ke arah Alvero, karena tanpa diketahui oleh siapapun, tangan Alvero barusan mencolej pinggang Deanda pelan.
“Kenapa my Al?” Deanda yang memperlambat jalannya, sehingga berdiri di samping Alvero yang juga memperlambat jalannya, sehingga jarak mereka dengan yang lain cukup jauh, berbisik pelan ke arah Alvero, karena mengira ada sesuatu hal yang sangat penting ingin dibicarakan oleh Alvero dengannya.
“Aku lihat, semangat sekali kamu mengunjungi tempat-tempat romantis? Bukannya hal yang paling romantis seharusnya dilakukan di dalam tempat tertutup? Yang hanya ada kita berdua? Seperti…” Alvero berbisik sangat pelan di telinga Deanda yang sedikit membeliakkan matanya mendengar perkataan suaminya itu.
“Tempat tidur?” Dengan suara yang semakin pelan, Alvero meneruskan kata-katanya yang membuat wajah Deanda sedikit memerah.
Aduh yang mulia… ini di tempat umum, banyak orang. Bagaimana jika ada yang mendengarnya? Aduh…. Aku malu sekali. Kenapa dengan santainya yang mulia bisa mengatakan hal seperti itu di sini?
Deanda berkata dalam hati dengan mata yang sibuk berkeliling, sungguh berharap agar jangan ada seorangpun yang mendengar tentang apa yang baru saja dibisikkan oleh Alvero padanya.
Dan Deanda langsung menarik nafas lega begitu melihat semua orang sedang sibuk dengan pasangannya masing-masing, atau sedang serius berbincang dengan orang yang ada di dekatnya, sehingga bisa dipastikan hanya Deanda seorang diri yang bisa mendnegar apa yang baru saja dibisikkan oleh Alvero padanya.
“My Al, please, jangan bahas itu di sini…” Deanda membalas bisikan Alvero secepatnya, sebelum suaminya yang memang kadang begitu polos terhadap hal seperti itu melanjutkan kata-katanya.
“Oke… kita lanjutkan pembicaraan kita nanti malam di tempat yang cocok, sambil melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan di sana.” Tanpa perduli, Alvero menanggapi perkataan Deanda sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Deanda yang hanya bisa tersenyum dengan wajah kikuk, karena Deanda mengerti dengan jelas arah pembicaraan Alvero yang dengan cepat meraih tangan Deanda, dan menggandengnya sambil berjalan berdampingan, dengan senyum bahagia terlukis di wajah tampannya, meskipun matanya menatap lurus ke depan, tanpa memandang ke arah Deanda yang tetap asja bisa merasakan besarnya cinta dari Alvero, melalui bagaimana raja muda yang tampan itu memperlakukannya dengan manis dan penuh kasih sayang.
Dan itu cukup untuk membuat Deanda memandang ke arah Alvero dengan tatapan penuh cinta, menunjukkan rasa syukur dia bisa memiliki laki-laki hebat dan juga tampan seperti Alvero sebagai suami yang begitu mencintainya.
“Ad.” Suara panggilan dari James, membuat Ornado menahan langkahnya, diikuti oleh Cladia yang berada di sampingnya, dalam rengkuhan lengannya.
Untuk beberapa saat, James yang berjalan mendekat ke arah Ornado sengaja membiarkan yang lain berjalan sedikit lebih jauh dari posisi mereka sekarang, agar dia bisa mengatakan sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak melihat Ornado dengan sikap tegas dan cenderung tidak perduli berdebat dengan Dario masalah pembayaran acara makan malam mereka selanjutnya.
“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu Ad.” James berkata sambil memandang ke arah Ornado dan Cladia secara bergantian.