
"Untuk berjaga-jaga. Jika memang serangan kita tidak berhasil. Lanjutkan dengan rencana cadangan kita, untuk menghancurkan Ornado menggunakan para mafia yang sudah bersedia bekerja sama dengan kita." Dario kembali berkata kepada Dante yang langsung mengangguk dengan sikap hormat.
Beberapa mafia, terlepas pengaruh besar yang dimiliki Ornado di dunia mereka, ada beberapa yang merasa tidak menyukai Ornado, karena dia bukanlah orang yang memang bekerja di dunia mafia, tapi begitu memiliki kekuasaan yang tinggi, dan bahkan keputusan apapun darinya terhadap mereka, tidak ada yang berani menentangnya.
Seperti dalam novel dan film Godfather, Ornado dianggap sebagai orang paling berpengaruh dan berkuasa di dunia mafia.
Tapi untuk kasus Ornado, dia sendiri bukanlah seorang mafia, dan itu menjadi pro dan kontra di lingkungan para mafia itu sendiri, untuk menjadikan Ornado orang yang berhak mengatur mereka seperti itu.
Sambil menunggu Dante melaksanakan perintahnya, Dario duduk di kursi kebesarannya, di balik mejanya sambil menatap ke arah foto Cladia dengan tatapan penuh cinta.
Setiap kali Dario merasa marah, jengkel, kecewa, hiburan terbesarnya adalah dengan memandangi foto wajah cantik Cladia dengan senyum manisnya.
Ingatan Dario kembali kepada kejadian belasan tahun yang lalu, ketika Alberto mengajaknya mengunjungi istrinya dan Ornado yang ada di Indonesia.
Saat itu Dario juga diajak mengunjungi kediaman orangtua Cladia, yang baru saja merayakan kelahiran Cladia.
Ketika melihat bayi Cladia yang tertidur sambil tersenyum dan menggigit ibu jari tangannya di tempat tidur bayi, Dario menatap bayi kecil yang terlihat begitu cantik itu tanpa berkedip, menatapnya dengan tatapan terkagum-kagum, sampai tanpa sadar tangannya terulur dan mengelus pipi lembutnya.
Dan ketika bayi itu mulai bangun dan membuka matanya, bayi Cladia langsung menangis dengan keras, meskipun sebenarnya karena baru lahir seorang bayi belum bisa melihat dunia sekitarnya.
Mungkin sebenarnya saat terbangun, bayi Cladia merasa tidak nyaman dengan dunia sekitarnya yang baru dikunjunginya, hanya saja, hal itu membuat DArio yang saat itu berdiri tepat di sebelahnya merasa bersalah karena merasa dia yang sudah membuat bayi Cladia menangis.
Begitu mendengar tangisan keras dari bayi Cladia, Ornado yang berada tidak jauh dari sana langsung berlari, dan begitu sampai di dekat tempat tidur bayi itu, Ornado kecil langsung mengelus-elus kaki bayi Cladia yang langsung terdiam dan menyungingkan senyumnya yang membuat bayi itu terlihat semakin cantik.
Setelah itu, ingatan Dario melompat beberapa tahun kemudian, pada hari dimana dia yang sedang duduk termenung sambil menangis karena mendengar beberapa orang yang mempergunjingkan dia sebagai anak angkat, bukan anak kandung Alberto.
Dan bagi Dario, obrolan anak-anak lain tentang hal itu membuatnya merasa sedih, marah, kecewa, sakit hati dan juga begitu jengkel, sampai tanpa sadar dia bahkan menangis karena kesal, meskipun sebenarnya dia tahu bahwa semua obrolan itu hanyalah sebuah omong kosong dan fitnah belaka.
“Apa kamu mau permen?” Di tengah kesendiriannya, sebuah tangan kecil terulur di depannya, menawarkan beberapa bungkus permen yang disodorkannya di atas telapak tangannya.
Dario yang awalnya sedang duduk sambil menangis di bawah pohon, dengan kepalanya tertunduk dan dahi menempel kepada kedua lututnya, langsung mendongakkan kepalanya mendengar suara dari gadis kecil yang bagi Dario selalu terlihat cantik itu.
"Kenapa kamu menangis? Kata papa anak laki-laki tidak boleh cengeng. Itu yang biasa aku dengar kalau kak Jeremy menangis setelah bermain dengan teman-temannya." Cladia berkata dengan senyum di wajahnya, berusaha menghibur Dario.
"Ini permen untukmu. Hust... jangan bilang ke siapa-siapa, kata kak Jeremy, manisnya permen bisa mencegah airmata turun karena jadi mengental terkena gulanya permen." Perkataan polos dari Cladia hampir saja membuat Dario tertawa terbahak-bahak, tapi karena takut Cladia nantinya akan merasa ditertawakan dan kata-katanya tidak dipercaya, akhirnya Dario hanya tersenyum sambil mengambil salah satu permen yang ada di tangan Cladia.
Jelas saja Jeremy mengucapkan kata-kata seperti itu, agar Cladia mau berbagi permen yang dimilikinya, karena sewaktu masih kanak-kanak, Jeremy selalu saja menghabiskan lebih dahulu permen bagiannya, setelah itu dia akan mencoba mengakali dan merayu adiknya agar mau membagi permen milik Cladia dengannya dengan berbagai cara, termasuk menipunya dengan kata-kata yang membuat Cladia mau berbagi permen bagiannya.
Dario langsung membuka bungkus permen itu, dan segera memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Enak kan?" Cladia bertanya dengan matanya membulat, terlihat senang Dario tidak lagi menangis.
Dario mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan untuk menjawab pertanyaan Cladia.
"Kalau begitu, simpan ini baik-baik. Kalau kamu ingin menangis, makan saja permen ini." Cladia berkata sambil meraih tangan Dario, memegangnya dengan erat, lalu meletakkan beberapa bungkus permen yang masih ada di tangannya ke atas telapak tangan Dario yang terlihat kaget dengan sikap manis Cladia padanya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Jangan menangis sendirian lagi ya. Aku mau menemui Al, kasihan kalau nanti Al mencariku. Da... dah... Dario...." Tanpa menunggu jawaban dari Dario, Cladia langsung berlari pergi untuk mencari Ornado dan kembali bermain dengannya, membiarkan Dario terpaku di tempatnya dengan tangannya menggenggam erat beberapa bungkus permen yang sudah diberikan Cladia padanya.
Kenangan yang bagi Dario begitu manis itu membuat Dario tersenyum, sambil mengelus punggung tangannya yang belasan tahun yang lalu pernah digenggam begitu erat oleh Cladia saat memberikan permen untuk menghibur dan menenangkan hatinya.