
Beberapa diantara mereka bahkan dengan sengaja menendang para tawanan mereka dengan sedikit kasar, meskipun para sandera itu tidak melakukan kesalahan.
Dario hanya bisa menatap dengan tatapan mata tidak percaya dan begitu kaget, melihat bagaimana semua anak buahnya sudah dilumpuhkan oleh James dan para anggota mafia yang sedari awal memang tidak mau bergabung dengan Dario, dan tetap memilih untuk percaya agar Ornado tetap pada posisinya yang sekarang di dunia mafia.
“Berlutut!” Beberapa orang dari para mafia dan anggota pasukan khusus milik Grup Xanderson berteriak memberikan perintah pada anak buah Dario dan juga para anggota mafia yang lain yang ada di tempat itu.
Untuk beberapa orang yang dianggap mereka membangkang, tanpa segan-segan, orang-orang yang datang bersama James itu menendang bagian belakang lutut para lawan mereka, sehingga mereka langsung jatuh dengan posisi berlutut, untuk kemudian memaksa mereka menundukkan kepala mereka, memandang ke arah lantai.
Setelah itu, setiap orang yang datang bersama James, mengarahkan senapan laras panjang ataupun pistol yang mereka bawa, ke arah kepala para sandera mereka.
Dario masih dalam posisi diam terpaku tanpa bisa memikirkan jalan keluar atas masalah yang sedang terjadi padanya dan para pengikutnya, ketika terdengar sebuah suara teriakan yang cukup lantang, terdengar lembali.
“Letakkan senjata kalian!” Tiba-tiba saja Dante berteriak dengan tangannya kanannya menodongkan pistol ke pelipis kiri Cladia yang baru saja dipaksanya untuk berdiri.
Ornado yang mendengar teriakan Dante langsung memandang ke arah Cladia dengan mata melotot. Sedang Dario langsung berjalan mendekat ke arah Dante dan Cladia.
Aku harus tenang. Aku harus melawan rasa takut dan traumaku. Hanya kali ini saja Tuhan, sekali ini saja… beri aku kekuatan, beri aku ketenangan agar dapat menguasai diriku sendiri. Buat aku bertahan untuk kali ini saja. Aku mohon….
Cladia berdoa dalam hati sambil mencoba mengalihkan pikirannya saat ini, kepada hal-hal yang menyenangkan, agar dia bisa mengatasi rasa takut yang sedang menyerangnya saat ini.
Cladia tampak menahan nafasnya, berusaha menenangkan dirinya, agar dia tidak terlihat ketakutan, yang justru akan membuat Dante semakin nekat.
Amore mio! Sial! Bisa-bisanya Dante mengambil kesempatan untuk menjadikan istriku sebagai sandera untuk jaminan nyawanya!
Ornado berteriak dalam hati dengan wajah terliaht kaget sekaligus khawatir.
Saat ini rasanya Ornado ingin berteriak keras sambil berlari ke arah Dante, menghajar Dante yang dianggapnya sungguh kurangajar sudah berani menodongkan pistol ke arah Cladia, membuat Ornado begitu khawatir sekaligus takut akan terjadinya sesuatu yang buruk pada Cladia.
Belum lagi trauma Cladia terhadap pria yang dapat membuat kondisi kesehatan Cladia yang sedang mengandung menurun drastis karena tidak bisa mengendalikan emosi dan ketakutannya, membuat Ornado semakin khawatir.
Ornado kembali berteriak dalam hati dengan sikap frustasi.
“Letakkan senjata kalian berdua! Atau aku akan menembak kepala nyonya Cladia sekarang juga!” Dante berteriak memberikan perintah kepada Alberto dan Ornado yang tampak langsung saling berpandangan.
Melihat situasi yang berbahaya bagi Cladia saat ini, baik Ornado maupun Roberto, dengan gerakan perlahan menjatuhkan pistol yang mereka pegang saat ini dengan sikap pasrah.
“Jangan bertindak bodoh! Angkat tangan kalian! Sampai aku pergi dari ruangan ini bersama nyonya Cladia!” Dante kembali memberikan perintah pada Ornado dan Roberto yang terpaksa kembali menuruti perintah dari Dante.
“Dan kalian semua! Jika ada sedikit gerakan mencurigakan selama aku masih di tempat ini! Aku akan langsung menembus kepala nyonya Cladia dengan peluru tanpa harus berpikir dua kali!” Dante mengucapkan kata-katanya sambil mendorong kening Cladia dengan ujung pistol yang ada di tangannya saat ini, membuat Cladia menahan nafasnya sambil menggigit bagian bawah bibirnya, berusaha untuk tetap tenang meskipun sekarang dia sangat ketakutan.
Bukan sekedat takut karena adanya ujung pistol yang menempel di keningnya saat ini, tapi keberadaan Dante sebagai seorang laki-laki yang begitu dekat dengannya, cukup membuat dadanya terasa sesak, dan dia mulai mengalam kesulitan untuk bernafas.
Aku harus kuat! Aku harus bisa bertahan! Demi Al! Demi Bee. Aku harus kuat!
Cladia terus mengucapkan kata-kata yang dia harapkan bisa membuatnya tetap kuat dan bertahan pada situasi ini, meskipun dia tahu saat ini jantungnya berdetak dengan begitu keras tanpa kendali, dan keringat dingin mulai membasahi kedua telapak tangannya.
“Dante! Apa yang kamu lakukan? Jauhkan pistolmu dari nyonya Cladia! Jangan membuatnya takut!” Dario langsung berteriak dengan wajah khawatir.
“Tolong jangan mendekat Tuan! Atau aku akan melakukan sesuatu yang membuat Tuan menyesal!” Dante berkata sambil menggerakkan tangannya, untuk menunjukkan bahwa dia ingin Dario tidak melanjutkan langkah kakinya ke arahnya.
“Dante! Jangan berbuat kurangajar seperti itu terhadap nyonyamu!”
“Tuan! Sadarlah! Jangan menyerah hanya karena seorang wanita! Itu membuat Tuan terlihat lemah! Dan aku tidak suka itu! Nyonya Cladia, adalah kesempatan untuk kita pergi dari sini sekarang! Kalau Tuan mau, ikutlah dengan saya sekarang! Atau saya akan pergi sendiri dari tempat ini!” Dante berkata sambil mendorong kening Cladia dengan pistol yang menempel di sana, memberi tanda agar Cladia berjalan ke arah pintu samping ruangan itu, yang terhubung dengan ruangan lain dimana Dante tahu dia akan memiliki banyak kesempatan untuk kabur jika dia bisa mencapai ruangan itu bersama Cladia sebagai sandera.
Dario yang mendengar perkataan Dante, langsung menarik nafas panjang, mencoba mempertimbangkan apakah dia akan mengikuti Dante atau tidak.
“Tuan, waktu kita tidak banyak! Kita harus pergi sekarang juga sebelum terlambat!” Dante kembali berteriak ke arah Dario, sambil berjalan beberapa langkah, menjauh dari orang-orang itu, ke arah pintu dimana dia berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk kabur dari tempat itu.