My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KECANTIKAN YANG TERSEMBUNYI



Dan seperti biasanya, senyuman Cladia, adalah senjata yang cukup mematikan bagi Ornado, yang akan rela melakukan apapun demi menjaga agar senyum itu selalu menghias wajah cantik istrinya kesayangannya itu.


Aist, sepertinya aku harus benar-benar menuruti keinginan amore mio, atau semua rencana indah antara aku dan amore mio malam ini hancur berantakan gara-gara sebuah celorot. Padahal sepanjang hari ini aku sudah membayangkan dan tidak sabar menanti datangnya malam.


Ornado berkata dalam hati sambil menggaruk-garuk rambut di kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.


“Al… bisakah?” Mendengar pertanyaan Cladia, Ornado  buru-buru mengangguk.


“Tenang saja amore mio, aku akan segera menemukan jajanan itu untukmu.” Ornado berakata sambil mengambil handphonenya dan langsung memberikan perintah kepada semua pegawai yang ikur bersamanya, termasuk Alex dan teamnya.


Tidak perduli dimana dan bagaimana caranya, segera dapatkan celorot, jajanan khas Bali untuk Ibu Cladia seceat mungkin. Siapa yang bisa mendapatkannya terlebih dahulu, akan mendapatkan bonus dobel bulan ini.


Ornado mengirimkan pesan ke grup yang berisi para pegawai dari Bumi Asia yang ikut ke Bali karena tugas.


Suara notifikasi yang berbunyi hampir bersamaan di handphone para pegawai dari Bumi Asia yang ikut di Bali membuat hampir bersamaan mereka membuka handphone dan membaca pesan dari bos besar mereka.


Begitu mereka membaca pesan itu, dengan cepat mereka langsung saling berbincang satu sama lain, dan masing-masing Menyusun rencana untuk dapat segera mendapatkan jajanan itu bagaimanapun caranya dalam waktu secepatnya.


Bahkan tanpa mereka sadari, mereka saling membentuk kelompok-kelompok kecil, dan masing-masing kelompok memikirkan rencana terbaik yang bisa mereka lakukan.


Mendapatkan celorot yang bisa ditukar dengan bonus bulanan yang kadang jauh lebih besar dari gaji bulanan mereka… siapa yang bisa menolak penawaran menggiurkan seperti itu?


# # # # # # #


“James… biar kuoleskan sendiri… salepnya.” Elenora yang akhirnya memberanikan diri untuk membuka matanya, berkata dengan sikap ragu setelah melihat James hanya memandanginya tanpa melakukan apapun, seperti patung korban dari tatapan mata medusa.


Sedangkan sebelumnya tadi James menawarkan bantuan dengan sedikit memaksa untuk mengoleskan salep ke wajah Elenora.


(Pada dasarnya, meski mengerikan, kenyataannya Medusa bukanlah dewa atau monster. Dia hanyalah wanita biasa yang menjadi korban dari percintaan di dalam mitologi Yunani. Sebelum menjadi monster yang mengerikan, ada cerita yang cukup menarik untuk diikuti.


Di masa hidupnya, Medusa merupakan pendeta dewi Athena yang merupakan dewi kebijaksanaan. Untuk menjadi pendeta sang dewi, ada syarat yang harus dipenuhi di mana wanita muda itu harus perawan dan menyerahkan hidupnya untuk mengabdi pada sang dewi.


Poseidon yang terlibat rivalitas dengan koleganya itu kemudian punya niat untuk mempermalukan Athena dengan cara berhubungan dengan Medusa di tangga kuil Athena.


Namun beberapa literatur mengatakan jika sebenarnya Medusa adalah korban pemerkosaan meski sebagiannya lagi bilang bahwa pesona kecantikan dari Medusa membuat Poseidon jatuh hati hingga merayu dan mendekatinya.


Medusa mencoba meminta pengampunan pada Athena, tapi Athena tidak terima dan marah dengan Medusa karena dianggap mengkhianatinya. Medusa dikirim ke pulau yang jauh dan dikutuk sehingga tidak ada pria yang menginginkannya. Dia diberi kaki ayam, sayap logam raksasa, kulit pecah-pecah, kegilaan, rambut ular, dan mata mengerikan yang khas, dimana siapapun yang menatap matanya akan langsung menjadi patung batu).


Cantik… sangat sangat cantik…. Tanpa mengenakan kacamata tebalnya, Elenora terlihat sangat cantik…. Dan aku, sepertinya merasa tidak asing dengan wajah Elenora saat ini. Kapan? Dimana? Kenapa aku merasa pernah bertemu dengan gadis yang wajahnya mirip dengan Elenora saat ini? Tapi aku benar-benra tidak bisa mengingat dimana dan siapa gadis yang aku maksudkan itu.


James berkata dalam hati dengan tatapan mata terpaku ke arah wajah cantik Elenora.


Meskipun wajah Elenora terlihat sedikit bengkak karena efek alerginya, James bisa melihat betapa cantiknya wajah gadis di depannya saat ini.


Ingatan tentang gadis yang pernah ditemuinya saat itu terasa kabur karena saat itu selain karena waktu itu Elenora berdandan dengan make up, sedang saat ini wajah Elenora terlihat polos tanpa make up, bengkak di wajah Elenora saat ini cukup menambah kabur ingatan James tentang gadis yang pernah diselamatkannya itu.


“Eh, biar aku yang membantumu.” Dengan sikap gugup James berkata sambil matanya melihat ke arah salep di tangannya sekilas untuk menenangkan hatinya, sebelum matanya kembali memandang ke arah Elenora.


Dengan sikap hati-hati, James mulai mengoleskan salep ke wajah Elenora, di bagian dimana timbul bentol-bentol merah di sana.


Hah, ternyata… sungguh tidak aku sangka… halus sekali kulit wajah Elenora, padahal setiap harinya sepertinya dia bukan orang yang cukup rajin untuk memakai kosmetik dan melakukan perawatan wajah. Kecantikan alami gadis ini, bahkan Serafina sebagai kakak kandungnya, tidak memiliki pesona dan kecantikan sebesar Elenora. Padahal gadis wajah gadis ini terlihat jelas jarang sekali tersentuh oleh kosmetik. Tapi kenapa sejak kecil dia cenderung berpenampilan culun dan kampungan, seolah sengaja ingin menyembunyikan kecantikan dan pesonanya dari orang lain? Tidak ada wanita yang tidak ingin tampil cantik dan menarik. Tapi kenapa Elenora justru selalu tampil sebaliknya?


James bergumam dalam hatinya yang dipenuhi oleh berbagai pertanyaan tentang Elenora, dengan jari-jari tangan James terus bergerak mengoleskan salep pada wajah Elenora.


Begitu merasakan halusnya kulit wajah dari gadis yang saat ini ada di hadapannya dengan sikap kikuk, tanpa sadar gerakan jari-jari tangan James berubah dari mengoleskan jadi sengaja mengelus wajah cantik di depannya.


Meski sempat mengelus wajah Elenora beberapa detik, James langsung tersadar dan berusaha untuk bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak melewati batas, karena ketika mengelus kulit halus Elenora, hampir saja James tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menggerakkan ibu jari tangannya, berniat mengelus bibir ranum Elenora yang tampak begitu seksi bagi James setelah dia melihat secara keseluruhan wajah Elenora tanpa kacamata tebalnya.


Kacamata tebal dengan bentuknya yang ketinggalan jaman, yang benar-benar merusak penampilan Elenora, dan menyembunyikan dengan sempurna wajah cantik gadis itu selama ini, namun saat ini, benda yang tidak lagi bertengger di wajah Elenora saat ini, seperti sebuah tirai yang dibuka, sehingga bisa memperlihatkan keindahan yang selama ini disembunyikannya dengan begitu baik di baliknya.