My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KENANGAN TENTANG KAMAR ORNADO



Apalagi kata-kata Ornado itu, langsung mengingatkan James tentang kejadian tadi sebelum keluar dari kamar Elenora, setelah mereka berdua membereskan kesalahpahaman diantara mereka, dan saling menyatakan cinta mereka.


James ingat bagaimana manis dan juga panasnya ciumannya tadi bersama Elenora, dan dia hampir saja membuatnya lupa diri dengan tangannya yang tadi sudah sempat bergerak menurunkan sedikit slider resleting gaun Elenora, sehingga dia bisa sedikit merasakan mulus dan lembutnya kulit punggung istrinya itu dengan sentuhan jari-jarinya, yang menimbulkan sensasi seperti sengatan listrik dan detakan jantungnya yang semakin menggila tadi.


Cladia yang sudah bisa menduga bahwa suaminya sedang menggoda James, hanya bisa mengulum senyum geli di bibirnya.


Ad selalu saja mencari kesempatan untuk menggoda dan mengerjai James.


Cladia berkata dalam hati sambil meraih lengan Ornado, agar Ornado menghentikan niatnya untuk terus menggoda James, yang dilihat Cladia sudah terlihat begitu salah tingkah dengan wajahnya yang sedikit memerah karena kata-kata godaan Ornado.


"Baiklah, kita pulang sekarang amore mio. Kamu dan Bee malam ini harus beristirahat. Oke semua, kami pulang duluan." Setelah berbisik pelan kepada Cladia, Ornado segera berpamitan dan menggiring tubuh Cladia yang sudah berada dalam pelukan lengannya ke arah mobil yang sudah bersiap membawa mereka pulang ke mansion keluarga Ornado.


"Aku juga sudah merasa lelah Al. Untung semuanya berjalan baik, sesuai dengan rencanamu." Cladia berkata sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Ornado yang duduk tepat di sampingnya, di kursi penumpang dalam mobil yang sedang mereka tumpangi saat ini.


"Aku juga senang bisa melihat James dan Elenora akhirnya bisa saling terbuka dan berbaikan." Ornado berkata sambil mengelus kepala Cladia yang sedang bersandar padanya.


"Kamu terlihat sangat lelah amore mio. Aku sudah bilang kalau kamu tidak perlu ikut ke Italia, tapi kamu tetap saja bersikeras." Mendengar perkataan Ornado, Cladia langsung tersenyum.


"Iya, aku lelah sekali, tapi rasa lelahku sebanding dengan senangnya aku melihat kebahagiaan Elenora dan James. Apalagi, aku sangat merindukan suasana kamarmu yang ada di mansionmu." Cladia berkata sambil sedikit mendongakkan kepalanya ke arah Ornado, sehingga hembusan nafas Cladia yang terasa hangat langsung menyapa kulit leher Ornado dan membuat seketika Ornado menahan nafasnya disertai dengan aliran darah ke jantungnya yang mengalir deras dan membuat dadanya berdebar dengan hebat.


Hah... amore mio, sudah berkali-kali aku mengingatkanmu bahwa tindakanmu ini sungguh membuatku terpancing, tapi sepertinya seringkali kamu dengan mudah melupakan hal itu.


Ornado mengeluh dalam hati sambil berdehem pelan, dan berusaha menelan ludahnya yang seolah sedang mengganjal tenggorokannya, membuat suaranya tersekat.


Bagi Cladia sendiri, kamar Ornado selain desainnya yang bagi dia terlihat unik, juga dengan adanya puluhan foto dirinya yang di tata rapi memenuhi dinding kamar Ornado, membuat Cladia semakin mencintai pria yang sudah sejak 15 tahun lalu sudah menetapkan hati untuk dirinya.


Di samping itu, di kamar Ornado, Cladia memiliki kenangannya tersendiri.


Di sana merupakan tempat dimana dia merasa bahagia sekaligus bangga karena dia sudah bisa menjadi seorang istri yang sempurna bagi Ornado.


Dan bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali ke tempat itu membuat dada Cladia berdetak kencang, dipenuhi dengan rasa bahagia sekaligus tidak sabar, bahkan hanya dengan membayangkan suasana hangat dari kamar Ornado itu, yang selalu membuatnya betah dan nyaman tinggal di dalam sana.


"Kalau kamu ingin kita memiliki satu kamar lain khusus jika kamu berkunjung ke mansion, aku bisa mengaturkannya untukmu..."


"Tidak...! Aku tidak mau kamar lain." Cladia langsung menolak penawaran dari Ornado.


"Kenapa? Aku akan membuatkanmu kamar sesuai dengan keinginanmu. Kamu bebas untuk menentukan detail interior yang kamu inginkan. Aku akan memperkenalkanmu dengan arsitek terbaik yang aku kenal. Kamu tahu, kamarku itu adalah kamar yang tidak pernah berubah. Dan kamar itu tidak pernah dirombak, sejak aku masih kanak-kanak hingga dewasa. Hanya warna cat dan beberapa perabot yang ditambahkan di sana.” Ornado berkata sambil mengingat bahwa memang kamarnya sejak dulu tidak mengalami banyak perubahan besar, selain bertambahnya setiap saat foto-foto Cladia yang memenuhi setiap sudut kamarnya.


"Karena itu aku begitu menyukai kamar itu. Kamar itu menunjukkan bagaimana perasaan cintamu padaku yang tidak pernah berubah, sejak dulu hingga kini." Cladia berkata sambil mendekatkan bibirnya ke arah wajah Ornado, lalu mengecup pelan leher Ornado, membuat Ornado sedikit tersentak, dan langsung menoleh ke arah Cladia, sambil menggigit bagian bawah bibirnya, dengan menyungingkan senyumnya.


"Kamu salah amore mio... cintaku padamu selalu berubah dengan seiringnya waktu. Semakin besar dan semakin tidak terkendali. Semakin hari aku semakin mencintaimu. Dan aku selalu jatuh cinta padamu." Ornado berkata lembut sambil menundukkan kepalanya, untuk kemudian mencium mesra bibir Cladia yang tampak pasrah.


"Ti amo amore mio...." Ornado berbisik pelan untuk kemudian kembali mencium bibir Cladia.


Mendengar Ornado menyatakan cintanya, bibir Cladia yang masih dalam ciuman Ornado tersenyum, membiarkan Ornado menikmati ciuman panjang mereka hingga puas.


# # # # # # #


Begitu semua tamu sudah meninggalkan rumah tempat pesta ulang tahun mama Elenora diadakan, kini hanya tinggal James, Elenora dan kedua orangtua Elenora yang terlihat sedikit canggung.


“Ehem….” Papa Elenora berdehem pelan dengan sikap terlihat begitu ragu-ragu untuk memulai membicarakan rencana James malam ini, apakah akan pulang, atau menginap di rumah ini.