
Seorang Ornado Xanderson akan lebih memilih untuk melakukan apapun demi istrinya, agar tidak kehilangan senyum manis Cladia.
Apalagi, sambil menunggu selesainya masakan rendang, dengan manja Cladia meminta Ornado duduk di sampingnya berselonjor, bersandar di sandaran tempat tidur, sambil kedua lengan Cladia memeluk erat pinggang Ornado dan berkali-kali menciumi lengan Ornado, kadang mengelus lembut perut six pack Ornado yang terbentuk sempurna, dengan wajah Cladia yang terus tersenyum, membuat Ornado tidak berkutik.
Dan setelah cukup lama menunggu, saat sepiring rendang, lengkap dengan sayur angka muda dan sambal hijaunya, beserta nasi hangat yang masih mengepulkan asapnya tersaji di depan Cladia, wanita cantik itu sudah menikmati tidur nyenyaknya dengan lengannya yang masih memeluk erat tubuh Ornado, yang akhirnya dengan gerakan perlahan dan lembut, berusaha melepaskan pelukan Cladia, dan membaringkan tubuh istrinya agar dalam posisi tidur yang nyaman.
Setelah itu, Ornado harus rela membiarkan masakan rendang tidak sempat dinikmati oleh Cladia, karena melihat wajah istrinya yang tertidur pulas dengan senyum di wajahnya, membuat Ornado tidak tega untuk membangunkannya.
“Lho, aku dengar dari Jeremy, Cladia sudah beberapa lama ini, sejak hamil, tidak mau memakan apapun yang berbau seafood karena selalu membuatnya mual.” James langsung mempertanyakan perkataan Ornado.
“Ya… namanya orang hamil, moodnya selalu berubah-ubah. Aku pikir dengan semakin bertambahnya usia kehamilannya, dia sudah tidak lagi mengalami mual dan muntah, mulai bisa menikmati seafood lagi, tapi ternyata dia masih saja mengalami morning sickness sampai sekarang.” Ornado berkata dengan suara pelan agar suaranya tidak membangunkan wanita tercintanya.
"Kasihan sekali Cladia, sampai sekarang masih saja mengalami morning sickness cukup parah. Lain kali pikirkan ulang jika kamu ingin meminta Cladia hamil anak berikutnya." Perkataan James diucapkannya dengan santai, sehingga tidak menyadari di seberang sana, mata Ornado langsung melotot tajam.
"Ist... jangan coba-coba mengatakan hal itu di depan amore mio. Karena aku pernah membahas hal ini dengannya, dan dia tetap ingin memiliki 3 anak. Dan dia percaya kalau setiap anak membawa ciri khas dan pembawannya sendiri-sendiri sejak dalam kandungan. Jadi belum pasti anak kami berikutnya juga akan membuat amore mio seperti sekarang ini. Lagipula, kamu ini sok mengajariku, bagaimana denganmu sendiri? Apa hubungan kalian sudah berjalan dengan normal seperti pasangan suami istri pada umumnya?" Pertanyaan dari Ornado membuat James terdiam seribu bahasa, dan jujur saja, dia tidak berani untuk sekedar menjawab pertanyaan Ornado itu.
Cih... si James ini! Melihat dia tidak berani menjawab pertanyaanku, aku jamin dia pasti belum meminta maaf dan menyatakan cintanya pada Elenora. Lihat saja! Karena kamu terus menundanya, aku sendiri yang akan membuatmu jera karena perlakuan burukmu pada Elenora yang sekarang sudah menjadi istrimu, yang harusnya kamu perlakukan dengan sebaik mungkin, bukan kamu gantung status dan perasaannya seperti sekarang ini! Sepertinya kamu memang harus diberi pelajaran keras.
Ornado mengomel dalam hati.
"Ini masih baru saja lewat tengah malam, dan waktunya kita beristirahat. Kenapa kamu menghubungiku? Apa ada sesuatu yang penting sudah terjadi di sana?" Ornado segera mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan tujuan James kenapa lewat tengah malam tiba-tiba menghubunginya, karena Orando sendiri sadar, dia sendiri ingin segera tidur terlelap di samping cintanya sambil memeluk tubuhnya, untuk berbagi kehangatan.
"Ad, sebenarnya masalah di tempat ini memang begitu banyak dan kompleks, hanya saja... bukan itu yang sedang ingin aku bicarakan denganmu." James berkata dengan suara terdengar begitu ragu.
Andai saja bisa semudah itu, aku dengan senang hati akan melakukan seperti apa yang baru kamu katakan tadi.
James berkata dalam hati sambil tangannya menggaruk alisnya yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Ehmmm... Ad... bisakah kamu memberikan ijin agar Ele menyusulku ke kota B?" Dengan suara tertahan, James akhirnya menyampaikan keinginannya untuk meminta Ornado mengijinkannya menyusul ke kota B.
"What?" Tanpa sadar Ornado berteriak dengan mata melotot mendengar perkataan James.
Namun dengan cepat Ornado langsung menutup bibirnya sendiri dengan telapak tangannya sambil melirik ke arah Cladia yang untungnya tidak terganggu dengan teriakan Ornado.
Setelah itu dengan cepat Ornado berjalan ke arah lain, menjauhi tempat tidur, agar tidak mengganggu tidur nyenyak Cladia.
Hah! Dasar James! Kali ini aku akan membuat pertahananmu benar-benar runtuh! Kamu memang benar-benar harus dikerjai agar membuang egomu terhadap Elenora. Jangan pikir aku akan diam saja melihat sikap seenakmu sendiri dan juga pengecut itu. Aku mau lihat sampai kapan kamu tahan untuk tidak menerobos apapun demi Elenora.
Ornado berkata dalam hati, mulai memikirkan cara terbaik agar James mendapatkan pelajaran berharga tentang hubungannya dengan Elenora, mendapatkan balasan setimpal karena tidak juga meminta maaf dan menyatakan cintanya pada Elenora.
"Ehem...." Ornado berdehem pelan.
"Tidak bisa James. Kamu tahu aku membutuhkan Elenora jika sewaktu-waktu adalagi hacker yang berusaha menyerang server kita, sedang Alex dan kita berdua tidak ada di tempat. Itu akan menjadi keputusan bodoh jika kita berani meninggalkan benteng pertahanan kita tanpa adanya orang yang bisa berjaga-jaga di sana." Perkataan Ornado spontan membuat tubuh James tiba-tiba terasa begitu lemas, lesu dan lunglai.