My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
OBROLAN BERSAMA SAHABAT



Mendengar suara bunyi bel dari arah pintu rumah kacanya, Laurel yang sebelumnya sedang sibuk menggoda Dave dengan menyuapkan potongan kue buatan Evelyn yang ada di tangannya, langsung menoleh.


Hampir saja Laurel berlari ke arah pintu kalau saja Dave tidak meraih lengan tangan kanannya dengan cepat.


"Maaf...." Laurel langsung berkata pelan sambil meringis begitu melihat bagaimana mata biru suaminya menatap perutnya dengan kening sedikit berkerut, lalu menatap tepat ke mata Laurel dengan sedikit tajam.


Tatapan mata biru Dave jelas-jelas memberikan kode keras pada Laurel, berusaha mengingatkan Laurel bahwa dia harus bersikap hati-hati karena ada bayi dalam perutnya, yang harus dia jaga dengan baik.


"Biar aku yang membukakan pintu Kak." Evelyn yang sedang duduk di sofa ruang tamu Dave dan ikut mendengar suara bel dari arah pintu masuk rumah kaca, segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.


"Hallo Kak Ad, Kak Cladia." Begitu pintu terbuka, Evelyn langsung menyapa mereka berdua sambil tersenyum, sedang Mira yang mengantar mereka segera pergi menjauh, keluar dari area rumah kaca itu.


"Kamu juga sedang berkunjung di sini Evelyn?" Cladia langsung membalas sapaan Evelyn dengan ramah.


"Iya Kak, tadi aku sengaja mengantar kue kesukaan Kak Laurel. Aku juga membawakannya untuk Kak Cladia lho...." Evelyn berkata sambil mengedipkan matanya, lalu meraih lengan Cladia dan memeluknya dengan hangat, menggamit dan mengajaknya mendekat ke salah sisi ruang tamu dimana ada meja berukuran cukup tinggi.


Dengan cepat Evelyn mengambil sebuah kotak palstik dari atas meja tersebut.


Sejak Laurel dan Dave mengenalkan Evelyn kepada Cladia dan Ornado waktu itu. Evelyn memiliki hubungan cukup dekat dengan Cladia, karena Cladia sendiri sekarang menjadi penggemar berat masakan dari restoran Evelyn.


Saat Ornado merasa tidak tahu kemana harus mencari masakan sesuai keinginan Cladia yang seringkali ngidam dan meminta masakan yang bagi Ornado terdengar asing, Evelyn akan menjadi orang yang selalu bisa diandalkan untuk membantu Ornado, untuk memenuhi keinginan Cladia dengan kemampuan memasaknya.


Ornado sendiri setelah melihat Evelyn memeluk lengan Cladia, langsung berjalan ke arah sofa, dimana Laurel dan Dave sudah duduk di sana menunggu Ornado dan Cladia datang menghampiri mereka.


"Wah... darimana kamu tahu aku akan datang ke sini?" Cladia berkata sambil berjalan beriringan dengan Evelyn, menyusul Ornado yang mendekat ke arah Dave dan Laurel, setelah mengambil kotak plastik dari atas meja.


"Kak Laurel yang bilang. Kalian akan pergi bersama-sama ke undangan pindah rumah seorang kenalan sore ini. Karena itu aku sengaja menunggu Kak Cladia datang agar bisa bertemu Kakak dan memberikan langsung kue ini." Evelyn mengucapkan kata-katanya sambil menepuk-nepuk kotak plastik berisi kue buatannya untuk Cladia yang tadi diambilnya dari atas meja tinggi yang ada di samping sofa.


"Terimakasih ya, masakanmu memang yang terbaik." Cladia berkata sambil mengambil posisi duduk di samping Ornado yang sudah lebih dulu duduk sambil mencomot kue kering yang tersaji di atas meja, sedang Evelyn memilih duduk di sofa yang ada di sisi lain, di antara sofa yang sedang diduduki oleh Dave Laurel dan Ornado Cladia.


"Enak, apa kamu yang membuatnya Laurel?" Ornado berkata sambil tersenyum dengan wajah menggoda, sengaja menyindir Laurel, karena dia tahu pasti tentang kemampuan Laurel untuk membuat kue tidak ada sama sekali.


Jika berkaitan dengan masak memasak, masakan Laurel masih bisa diandalkan, apalagi masakan ayam bakarnya. Tapi untuk urusan membuat kue, Laurel tidak memiliki ketrampilan untuk itu.


"Tidak... tentu saja tidak. Maksudku tidak salah kalau aku menolak hasil kue buatanmu yang bisa-bisa membuatku sakit perut." Laurel langsung mencebikkan bibirnya begitu mendengar perkataan dari Ornado yang diucapkannya sambil memasang wajah begitu menikmati kue kering itu, sengaja menunjukkan bahwa kue kering itu begitu lezat dan pastinya bukan Laurel yang membuatnya.


"Coba saja Ad. Lain kali aku akan memasukkan obat pencahar di masakanku. Dan aku akan berikan khusus kepadamu." Ornado langsung tertawa mendengar ancaman dari Laurel.


(Obat pencahar atau laksatif adalah kelompok obat untuk mengatasi susah buang air besar (BAB) yang biasa disebut dengan sembelit, atau konstipasi. Selain itu, obat ini juga digunakan untuk membersihkan usus sebelum tindakan medis tertentu, seperti operasi usus atau kolonoskop. Terlalu sering mengonsumsi obat pencahar atau dengan dosis lebih tinggi dari yang dianjurkan berisiko memicu diare, ketidakseimbangan kadar mineral dan garam dalam tubuh serta penumpukan atau penyumbatan feses di dalam usus).


"Aku tidak perlu khawatir, toh dokter pribadi keluargaku adalah dokter Laurel Tanputra. Coba saja melakukan itu, dan kamu sendiri yang akan repot mengobatiku. Dan aku bukan tipe pasien yang menyenangkan lho. Termasuk dalam jenis pasien yang rewel." Kata-kata Ornado membuat Dave berusaha menahan senyumnya.


Di satu sisi Dave merasa geli ancaman Laurel justru dibalas dengan ancaman balik dari Ornado, tapi di sisi lain Dave tentu saja tidak berani tersenyum geli kalo tidak ingin istrinya protes karena menertawakan kekalahannya dalam berdebat melawan seorang Ornado.


Evelyn sendiri langsung tersenyum geli dan melirik ke arah Cladia yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bagaimana Laurel dan Ornado yang sedang berperang kata-kata.


"Aduh Dave, hati-hati. Jangan-jangan ancamannya bukan hanya untukku. Kalau kamu membuat hati Laurel tidak senang, bisa-bisa kamu sakit perut karena obat pencahar. Ah, untunglah istriku yang manis ini tidak pernah memberiku obat pencahar padaku meskipun sedang marah padaku." Ornado berkata sambil melingkarkan lengannya ke arah pinggang Cladia dan mengelusnya lembut, tanpa perduli saat ni bahkan mereka tidak sedang berada di rumah mereka sendiri, membuat Cladia tidak bisa menyembunyikan semburat merah di wajahnya yang tiba-tiba muncul karena tindakan suaminya.


"Tenang saja Ad, stok obat di rumah sakitku lebih dari cukup untuk sekedar menangani efek dari obat pencahar." Dave berkata sambil tersenyum, kali ini sebuah senyuman geli karena Ornado selalu saja membuat wajah istrinya memerah karena kemesraan yang selalu dia pamerkan tanpa memandang waktu dan tempat.


"Lagian Ad, memang Cladia tidak pernah memberikan obat pencahar padamu. Tapi bukannya sempat hampir memberikan obat tidur padamu?" Mendengar olok-olok Laurel, wajah Cladia semakin memerah, sedang Ornado kali ini benar-benar kalah telak dengan serangan dari Laurel.


Kalau saja bisa, Ornado ingin melawan kata-kata Laurel, tapi hal itu jelas tidak bisa dilakukannya, mengingat Cladia yang akan merasa malu jika mereka terus mengungkit-ungkit lagi kejadian di malam pertama mereka setelah menikah waktu itu.


Malam itu untuk menghindari malam pertamanya dengan Ornado, Cladia sengaja memberikan obat tidur di minuman Ornado, yang justru tanpa sengaja Cladia sendiri, yang pada akhirnya meminum obat tidur itu.


Dan insiden obat tidur itu justru menyebabkan terjadinya suatu kejadian yang benar-benar membuatnya shock pada pagi harinya, karena tanpa sadar, di bawah pengaruh obat tidur Cladia justru menyerahkan diri seutuhnya kepada Ornado, sehingga menyebabkan hadirnya seorang bayi, calon anak mereka dalam rahim Cladia.


Hal yang membuat Cladia sadar bahwa dia begitu bahagia dengan kehadiran bayi mereka dan juga membuatnya sadar bahwa dia sungguh mempercayai dan juga sangat mencintai Ornado.