My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
ANTARA GAVINO DAN ELENORA



"Benar-benar serasi." Niela menjawab cepat sambil tersenyum geli, melihat wajah Elenora yang memerah karena godaan mereka berdua, Niela dan Laurel.


Sedang James terlihat mengalihkan wajahnya dengan sedikit kesal karena berhasil dikerjai oleh Laurel tanpa bisa berbuat banyak.


Rasanya hati James dongkol sekali, tapi untuk menjaga perasaan Elenora yang dia tahu bagaimanapun tidak bisa dia perlakukan seenaknya karena kedekatan keluarga mereka, James hanya bisa memiringkan dan mencondongkan tubuhnya ke arah kanan, dengan lengan bawah tangan kanannya bertumpu pada lengan kursi untuk menahan berat tubuhnya.


Lalu membuang mukanya ke samping sambil berpura-pura sibuk dengan handphone di tangannya, sehingga tubuhnya terlihat jauh dari Elenora yang duduk di sebelah kirinya.


"Kenapa denganmu James? Sedang sakit pinggang?" Tiba-tiba saja Ornado yang datang ke arah mereka bersama James berkata sambil mendekat ke arah James dan berdiri tepat di depannya.


Awalnya Ornado merasa heran dengan cara duduk James yang terlihat tidak nyaman, tapi begitu melihat di samping kiri duduk Elenora, Ornado hanya bisa tersenyum tipis.


Dave sendiri langsung menarik salah satu kursi kosong yang ada, mendekatkannya pada Laurel dan mengambil posisi duduk di samping istrinya itu.


"Tidak apa-apa, terasa nyaman saja duduk seperti ini." James menjawab pertanyaan Ornado tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


"Eh, Elenora, baru saja Gavino menghubungiku. Dia merasa kaget tiba-tiba saja kamu pindah ke Indonesia tanpa memberitahunya." Ornado berkata sambil melirik ke arah James yang tanpa sadar langusng menggerakkan tubuhnya yang awalnya miring dan condong ke kanan menjadi tegak, membuatnya dekat dengan posisi Elenora.


Dan posisi James saat ini memungkinkan James untuk dapat melirik dan mengamati wajah Elenora dari samping.


"Tadi dia sudah menelponku." Elenora menanggapi perkataan Ornado dengan suara lirih.


"Sepertinya dia sedikit kesal karena tiba-tiba kamu pergi tanpa memberitahunya. Bahkan dia bertanya padaku, mau sampai berapa lama kamu tinggal di Indonesia. Aku bilang tanya saja sendiri kepadamu. Aku pikir, kamu yang paling tahu jawaban dari pertanyaan Gavino." Ornado berkata sambil melirik ke arah James yang terdiam, dengan sikap terlihat serius menatap layar handphonenya.


Namun bagi Ornado terlihat jelas bahwa saat ini, sepupunya itu sedang memasang telinganya baik-baik agar bisa mendengar percakapan antara dia dan Elenora tentang Gavino.


Gavino merupakan pengusaha muda di bidang IT yang bekerjasama dengan Grup Xanderson milik Ornado.


Jika Ornado bergerak di sistem IT nya, sedang Gavino bergerak di bidang penyedia peralatan yang dibutuhkan untuk mendukung berjalannya sistem IT.


Pria berdarah asli Italia itu merupakan teman bisnis sekaligus teman yang satu angkatan dengan Afro ketika kuliah dulu, dan kebetulan satu kampus juga dengan Elenora yang berbeda jurusan.


Dulunya Gavino dan Elenora tidak terlalu dekat. Akan tetapi sejak Elenora bekerja di perusahaan Ornado di Italia dan seringkali diminta tolong oleh Afro sebagai admin yang seringkali menghubungkan antara perusahaan Gavino dan Grup Xanderson, hubungan mereka menjadi lebih akrab satu sama lain.


"Aku sudah mengatakan padanya bahwa sekarang aku bekerja di Indonesia."


Sejak kapan Gavino dekat dengan Elenora? Apa mereka memiliki hubungan istimewa? Wah... jika memang seperti itu, kenapa dia mau menerima perjodohan kami berdua? Apa dia terlalu takut untuk menolak perjodohan ini? Apa perlu aku mengatakan padanya akan membantunya dengan senang hati kalau dia ingin bersama Gavino dan membatalkan perjodohan kami?


James sibuk bertanya-tanya dalam hatinya tentang hubungan antar Elenora dan Gavino, yang dia tahu juga merupakan pengusaha sukses di bidang IT. Meskipun dia bukan tipe laki-laki yang terlihat mengutamakan penampilan fisik, tapi dia juga bukan golongan pria yang bisa dibilang jelek.


Walaupun kata-kata sangat tampan tidaklah cocok untuk sosok Gavino, tapi secara penampilan fisik dan wajah Gavino bisa dibilang cukup menarik dan menyenangkan untuk dilihat.


"Ok, akan pulang lebih dahulu. Kalian nikmati saja pesta malam ini." Ornado berkata sambil dengan sengaja menepuk bahu James, membuat James yang awalnya sempat melamun, sedikit tersentak.


"Eh, kenapa buru-buru Ad? Bahkan pesta belum berjalan lama." James langsung bertanya dengan wajah mendongak menatap ke arah Ornado.


"Aku harus menemani Cladia. Aku sudah berjanji padanya untuk segera pulang. Istriku pasti tidak sabar menungguku segera pulang ke rumah." Ornado berkata dengan penuh percaya diri, membuat Laurel tersenyum geli dan dengan cepat timbul keinginan dalam hatinya untuk menggoda Ornado.


"Ad, bukannya kamu yang tidak sabar untuk segera bertemu Cladia? Rasanya tadi Cladia tidak keberatan jika kamu menghabiskan malammu di pesta ini. Dan dia tidak memintamu untuk segera pulang. Itu yang aku tahu sih." Laurel berkata kepada Ornado dengan tersenyum, menunjukkan saat ini dia sengaja mengejek Ornado yang selalu mencari alasan untuk bersama Cladia.


“Ah, itu kan hanya penilaianmu saja. Mana ada wanita hamil yang tidak ingin selalu ditemani suaminya. Kamu juga mengerti kan tentang perasaan itu? Benar tidak Dave? Aku tidak percaya Laurel tidak sibuk mencarimu jika kamu pergi jauh darinya terlalu lama.” Dave hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Ornado, sambil melirik wajah istrinya.


Sedang Laurel langsung meringis begitu mendengar bagaimana Ornado yang selalu bisa membalikkan kata-kata dan keadaan, sungguh sulit untuk dikalahkan.


“Ah, sudahlah, aku harus segera pulang sekarang. James, tolong temani tante Ema dan Elenora selama di pesta ini, dan kamu wajib mengantarkan mereka kemabali pulang ke rumahku dengan selamat.” Ornado berkata sambil menatap ke arah James yang terlihat sedikit terdiam, seperti orang yang sedang banyak pikiran, membuat Ornado langsung berjalan mendekat ke arahnya.


“Kenapa denganmu? Apa karena Gavino yang langsung sibuk mencari Elenora setelah tahu calon istrimu itu pergi ke Indonesia?” Ornado berbisik pelan setelah membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya ke telinga James.


Seolah baru saja terbangun dari tidur lelapnya, mendengar perkataan Ornado, James langsung menggerakkan wajahnya, menoleh ke arah Ornado.


“Aku justru senang jika memang Gavino ingin menggantikan posisiku untuk dijodohkan dengan Elenora.” Mendengar perkataan James, Ornado langsung tersenyum.


“Benarkah?" Ornado kembali berbisik pelan.


"Baguskan kalau begitu. Aku tidak perlu pusing lagi memikirkan cara bagaimana untuk membatlakan perjodohan kami.” James membalas bisikan Ornado dengan tidak kalah pelan, berusaha mengucapkannya dengan nada setenang mungkin.


Bagaimanapun James tidak ingin pembicaraannya dengan Ornado yang melibatkan nama Elenora, didengar oleh orang lain yang sedang ada di tempat itu, terutama oleh Elenora sendiri, walaupun saat ini James bisa merasakan ada yang aneh pada dirinya.