
"Apa kamu memerlukan bantuan seseorang dari keluargaku?" Carina sengaja bertanya seperti itu, kerena sebagian besar dari keluarga Carina, merupakan orang-orang penting yang menduduki posisi cukup tinggi dalam pemerintahan, dan juga ada seorang jenderal dalam bidang kemiliteran di negara Italia, yang menjadi sepupunya, sehingga sedikit banyak pasti bisa membantu memecahkan masalah itu.
Mendengar pertanyaan Carina, Ornado segera mengambil map berwarna hijau yang sedang dipegang oleh Afro.
Selain itu, Afro juga menyerahkan sebuah handphone pada Ornado yang setelah meraihnya langsung bangkit berdiri dan berjalan ke arah James.
“Tidak perlu repot-repot Uncle.” Ornado berkata sambil berjalan dan memandang ke arah James yang menyipitkan matanya, melihat apa yang sedang dipegang oleh Ornado.
Begitu berdiri tepat di hadapan James, tangan kanan Ornado langsung menyerahkan handphone itu ke tangan James dengan senyum di wajahnya sambil mengedipkan salah satu matanya pada James, dan juga menyerahkan map berwarna hijau yang ada di tangannya yang lain kepada James.
Hal itu membuat James sedikit melotot, karena dia tahu handphone yang baru saja diserahkan oleh Ornado adalah handphone milik Elenora yang dipikir Elenora sudah hilang ketika dia berada di bandara, saat dia berangkat ke Italia.
“Itu…. Handphoneku ya?” Elenora berkata sambil melirik ke arah handphone yang sedang dipegang oleh James.
Dasar Ad! Pantas saja Ele tidak bisa aku hubungi, ternyata dia biang kerok dari semua masalah yang timbul sejak Ele mendengar berita dari Italia. Jangan-jangan….
James berkata dalam hati sambil memberikan handphone yang dipegangnya kepada Elenora.
“Ah, aku pikir handphoneku benar-benar hilang.” Elenora berkata dengan wajah terlihat begitu lega.
“Ad… apa kamu sengaja mengambil handphone Ele? Sehingga aku kesulitan untuk menghubunginya waktu itu?” Ornado langsung tertawa mendengar pertanyaan dari James.
“Bukan aku, tepatnya petugas bandara yang melakukannya, meskipun itu terjadi karena Fred sudah bekerja sama dengan mereka.” Ornado berkata sambil kembali berjalan ke tempat duduknya semula, dan duduk di sana dengan sikap santai, tidak perduli bahwa Elenora dan James saat ini sedang memandangnya dengan tatapan mata penasaran.
“Ad, apa itu artinya, telepon dari Afro, berita tentang mamaku yang terkena serangan jantung, kemunculan Fred, hilangnya handphoneku semuanya adalah rencanamu?” Elenora bertanya dengan nada pelan, karena di sisi lain, dia yang penasaran, juga merasa tidak enak kalau sampai semua yang ditanyakannya tadi hanya sekedar tebakannya.
Jika saja benar seperti itu, Elenora takut berbagai pertanyaannya tadi membuat Ornado tersinggung.
“Ada satu hal lagi yang belum kamu sebutkan Elenora. Keberangkatanku ke Italia yang tidak diketahui oleh kalian, karena aku sengaja menggunakan jet pribadi milik keluarga James, agar James bisa menggunakan jet pribadiku untuk terbang menyusulmu ke Italia tanpa curiga bahwa semua ini adalah rencanaku bersama semua keluarga yang ada di sini.” Ornado berkata sambil tersenyum ke arah pasangan pengantin baru yang langsung saling berpandangan itu, tidak menyangka Ornado sudah merencanakan semuanya dengan sedetail itu.
Jika Ornado saat ini tidak berterus terang, James dan Elenora akan berpikir bahwa beberapa dari kejadian itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.
“Benar, semua sudah direncanakan oleh Ad dari awal. Sebelumnya kami memang sempat mengadakan video conference untuk membahas masalah ini. Ad yang memberitahukan kepada kami tentang tindakan nekatmu untuk memaksa Elenora menandatangani akta nikah kalian. Bahkan kamu sengaja mendatangkan 2 orang commune dari Italia untuk melaksanakan penandatanganan akta nikah itu.” Afro langsung mewakili Ornado untuk menjelaskan kepada James, tentang apa yang sudah terjadi.
(Video Conference atau Konferensi Video dalam Bahasa Indonesia, adalah teknologi telekomunikasi yang interaktif dan memungkinkankan dua pihak atau lebih yang berada di lokasi berbeda agar dapat berinteraksi melalui pengiriman dua arah audio dan video secara bersamaan.
Video Conference pertama kali diperkenalkan pada publik oleh perusahaan telepon AT&T pada tahun 1964 pada ajang World's Fair di New York, Amerika Serikat. Ketika pertama kali diperkenalkan tidak ada orang yang menduga bahwa video conference akan berkembang sangat pesat hingga data menggantikan telepon standar).
“Kami yang ada di sini tentu saja keberatan dengan caramu yang tidak masuk akal itu. Waktu mendengar itu, para orangtua yang ada di sini sangat marah dan hampir saja menyusul kalian ke Indonesia. Tapi Ad berjanji bahwa dia akan membuat kalian datang ke Italia dan menjelaskan sendiri tentang apa yang sudah terjadi pada kalian. Karena itu Ad mengatur semuanya ini.” Afro kembali melanjutkan penjelasannya, yang membuat James tidak dapat mengatakan apa-apa untuk menyampaikan keberatannya tentang apa yang sudah dilakukan Ornado padanya dan Elenora.
“Sudah Afro, tidak perlu menjelaskannya pada James. Dia pasti sudah mengerti tentang semuanya itu. Sekarang yang terpenting, biarkan James membuka map hijau itu dan melihat isinya.” Ornado berkata sambil tangannya menunjuk ke arah map berwarna hijau yang ada di tangan James.
Dengan wajah bertanya-tanya dan dengan gerakan terlihat sedikit ragu, James membuka map itu.
Elenora yang duduk tepat di samping James, mau tidak mau karena ikut merasa penasaran, akhirnya membiarkan matanya melihat ke lembaran kertas yang ada di dalam map itu.
Begitu Elenora melihat info apa yang ada di dalam sana, tiba-tiba saja keringat dingin membasahi kening Elenora yang dadanya berdegup dengan begitu kencang dan mata melotot.
“Ele…” Carina yang melihat perubahan yang terjadi pada Elenora segera memanggil nama menantunya itu.
Dan itu membuat James langsung menoleh ke samping, melihat ke arah Elenora yang wajahnya terlihat pucat, dan terlihat ketakutan.
“Ele… apa kamu baik-baik saja?” James berkata dan langsung menutup map berwarna hijau yang menunjukkan foto-foto para preman yang dulu hampir saja memperkosa Elenora, berserta dengan info dan foto-foto kejahatan lain yang pernah dilakukan oleh beberapa dari mereka.
Elenora yang memang masih begitu ingat dengan jelas wajah para preman itu, begitu melihat foto-foto itu membuatnya langsung teringat pada malam yang baginya sangat mengerikan itu.
“Aku….” Elenora berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan airmatanya yang sudah bersiap turun, dengan tubuhnya yang terlihat mulai menggigil.
“Tenanglah Ele. Aku berjanji mereka tidak akan bisa menyakitimu lagi. Bahkan mereka tidak akan bisa mendekatimu lagi.” James berkata sambil memeluk Ele, dan mengelus-elus bahu istrinya itu, mencoba memberikan ketenangan pada Elenora.
Yang lain hanya bisa terdiam melihat apa yang terjadi pada Elenora, termasuk kedua orangtua Elenora yang langsung menghela nafas panjang, karena kondisi Elenora saat ini mengingatkan mereka pada malam dimana Elenora pulang ke rumah dengan wajah pucat, ketakutan, tubuh menggigil, dan gaun yang sobek.