My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
IDE CLADIA



Dasar anak baru tidak tahu diri! Kalau Dodi, aku sih tidak keberatan sekantor dengannya, selain ramah, dia memang terlihat tampan. Tapi gadis dengan penampilan seperti orang kampung itu, benar-benar merusak moodku, apalagi seharusnya posisi asisten pak James adalah milikku, kenapa dia masih baru masuk sudah menempati posisi penting dan menguntungkan seperti itu?


Dea mengomel dalam hati, berpura-pura tidak perduli dengan kehadiran Elenora yang duduk di kursi yang ada di depannya. Namun matanya terus saja mencuri pandang untuk terus mengomentari, mencari kesalahan dan kejelekan atas keberadaan Elenora dalam hati.


Kelebihan dari gadis kampung itu adalah wajah bule dan tinggi badannya yang cocok menjadi seorang model, membuat orang merasa sedikit penasaran. Yang lainnya, benar-benar merusak pemandangan. Apalagi dengan pakaiannya yang tampak kedodoran. Memang siapa yang akan tertarik dengan wajah culunnya kalaupun dia memakai pakaian ketat? Aku yakin bentuk tubuhnya serata papan triplek. Bagusan juga tubuhku yang sejak remaja sudah aku rawat dengan baik dan rajin berolahraga.


Dea kembali mengomel dalam hati.


Dan akhirnya Dea memutuskan bekerja kembali dan berusaha untuk tidak perduli dengan apa yang sedang dibicarakan antara Elenora dan Dodi.


"Eh, Elen, bolehkan aku memanggilmu dengan Elen supaya lebih simpel? Jujur saja nama Elenora terlalu panjang untuk disebutkan. He he he" Dodi bertanya, sambil membetulkan letak berkas di meja kerja Elenora yang hampir terjatuh, dan tersenyum dengan sikap seperti anak kecil yang malu-malu saat meminta sesuatu kepada orangtuanya.


Elenora tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan mendengar pertanyaan dari Dodi agar diijinkan untuk memanggilnya Elen.


"Kalau begitu, nanti siang kita akan makan siang bersama di kantin perusahaan. Kita ajak Tina juga ya, supaya kita bertiga bisa lebih saling mengenal sebagai sesama orang baru di sini." Dodi kembali berkata sambil tersenyum memamerkan sedeertan gigi putihnya yang tersusun rapi, membuat ketampanannya semakin terlihat sempurna.


Dodi adalah orang asing pertama yang bersikap begitu ramah padaku. Semoga kami bisa berteman dengan baik.


Elenora berkata dalam hati sambil menganggukkan kepalanya kembali, begitu melihat bagaimana Dodi yang memberikan kode melalui tangannya akan kembali ke mejanya sendiri.


Ah, aku harus segera memulai pekerjaanku di tempat ini. Semoga aku bisa melakukannya dengan baik. Atau James akan semakin rendah menilai tentang aku.


Elenora berbisik dalam hati sambil menarik nafas panjang untuk menyemangati dirinya sendiri, sebelum akhirnya dia mulai menyimpan nomer Audrey ke kontak handphonenya, membuka komputer di depannya, melakukan login dan mengganti passwordnya seperti yang diingatkan oleh Audrey tadi.


Setelah itu, Elenora langsung sibuk berkutat dengan berkas-berkas yang tadi pagi diserahkan oleh James kepadanya untuk diperiksa.


# # # # # # #


Sedari pagi, Cladia sedang serius memperhatikan layar monitornya yang sedang menunjukkan gambar-gambar kalung hasil desain dari Niela yang baru diselesaikannya pagi ini, setelah sebelumnya berkutat dengan laporan keuangan yang disodorkan Jeremy untuk dia periksa.


Karena begitu seriusnya Cladia menatap ke arah layar monitor, dia tidak begitu memperdulikan ketika ada suara dari arah pintu kantornya terdengar dibuka oleh seseorang.


Dengan santainya Cladia berpikir bahwa yang datang ke kantornya adalah Jeremy atau Niela, karena hanya dua orang itu, di kantor Sanjaya yang berani masuk ke kantornya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Setelah beberapa saat dari pintu dibuka Cladia tidak menyadari adanya suara sapaan, Cladia langsung menghentikan tatapan matanya ke arah layar komputer, dan mengarahkan matanya ke arah pintu.


"Ck ck ck ck... kebiasaanmu masih saja tidak berubah. Jika sedang serius bekerja, tidak perduli ada hujan badai atau gempa bumi, matamu tetap fokus pada layar komputer." Mendengar perkataan Ornado, Cladia yang sedang mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan suaminya langsung tersenyum dengan wajah malu.


Lagi-lagi Ornado menangkap basah bagaimana Cladia yang serius bekerja tidak akan perduli dengan sekelilingnya, termasuk kehadiran Ornado yang dengan sengaja langsung masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu dan menyapanya.


"Kenapa tiba-tiba datang ke Sanjaya? Apa ada sesuatu yang penting perlu kamu bicarakan dengan Kak Jeremy?" Cladia berkata sambil berencana bangkit dari duduknya.


Namun dengan gerakan cepat, Ornado mendekat ke arah Cladia, memegang kedua bahu Cladia dengan lembut, menghalangi Cladia untuk bangkit dari duduknya.


Haist, dasar amore mio. Memangnya keberadaan Jeremy lebih penting darimu? Padahal aku jelas-jelas ke Sanjaya untuk bisa bertemu dengannya. Bagaimana dia bisa bersikap begitu tenang sedangkan aku merasa dadaku terasa sesak setiap membayangkan bagaimana dia berada jauh dariku. Apa kamu tidak tahu? Setiap jam, setiap menit, pikiranku begitu sulit lepas dari bayanganmu. Aku hanya akan merasa tenang jika kamu tetap ada dalam jangkauan mataku.


Ornado berkata dalam hati sambil memijat lembut bahu Cladia yang wajahnya langsung memerah karena merasa canggung dengan tindakan Ornado, walaupun sebenarnya dia begitu menikmati bagaimana tangan Ornado yang sedang memijatnya, dan juga tubuhnya yang begitu dekat dengan Cladia, membuat Cladia bisa dengan puas menghirup bau harum dari pasrfum yang biasa digunakan oleh Ornado.


Bau khas dari Ornado, entah itu parfum, sabun mandi, ataupun tubuh Ornado yang akhir-akhir ini membuat Cladia begitu merasa ketagihan untuk selalu mencium bau itu, dan membuatnya ingin selalu berdekatan dengan Ornado.


Sesuatu hal yang membuat Cladia merasa sedikit aneh, dan bahkan merasa dirinya menjadi gadis yang norak karena kebiasaan barunya itu. Sehingga jika dalam keadaan sadar, Cladia berusaha keras untuk menahan dirinya untuk tidak terlihat seperti wanita yang terlihat mesum, padahal Ornado sama sekali tidak pernah mempermasalahkan itu, justru begitu menikmati bagaimana Cladia yang akhir-akhir ini terlihat begitu suka jika berada di dekatnya.


"Aku datang untuk mengajakmu makan siang. Sudah beberapa hari ini kita tidak makan siang bersama." Ornado berkata pelan sambil tangannya tetap dengan lembut memijat bahu Cladia.


"Yang benar saja Al. Ini masih pukul 10 pagi. Mana ada makan siang pukul 10 pagi?" Mendengar pertanyaan Cladia, Ornado hanya bisa meringis.


"Kan kita bisa mulai memikirkan rencana makan siang kita jika kita memiliki banyak waktu." Perkataan Ornado yang berusaha berkelit dari alasan sebenarnya dia datang ke kantor Sanjaya membuat Cladia tertawa kecil.


"Selalu pandai mencari alasan. Aku khawatir jangan-jangan sebentar lagi kamu akan memutuskan untuk memindahkan kantormu di sini." Mendengar perkataan Cladia, dengan cepat Ornado menghentikan pijatan tangannya, dan langsung berjalan ke arah meja kerja Cladia, dan duduk di sana, tepat di depan Cladia yang sedang duduk di kursi kerjanya, membuat Cladia sedikit kaget dengan tindakan Ornado yang terlalu tiba-tiba dan cepat.


"Eh, amore mio. kamu benar sekali. Idemu benar-benar brilian. Kenapa kemarin-kemarin aku tidak terpikirkan untuk melakukan itu? Kalau begitu, sekarang juga aku akan minta James untuk mengatur agar aku bisa pindah kantor ke Sanjaya." Mata Cladia langsung terbeliak mendengar bagaimana bersemangatnya Ornado mendengar ide yang dia ucapkan dengan asal-asalan barusan.


Dan yang jelas bukan sekedar besemangat, Ornado terlihat begitu serius dengan perkataannya barusan.


Waduh, apa yang barusan aku katakan? Aku harusnya tidak memancing Al seperti tadi. Rasanya lucu sekali kalau sampai seorang Al, pemimpin tertinggi dari Grup Xanderson memutuskan untuk bekerja di kantor Sanjaya. Ah.....


Cladia berkata dalam hati dengan sikap menyesal, sambil memandang ke arah Ornado yang terlihat tersenyum lebar karena ide Cladia barusan.