My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KHAWATIR



Kasihan sekali Elenora, apa yang sudah terjadi padanya? Dia pasti tersiksa mengalami hal seperti itu. Rasanya pasti gatal dan panas. Sungguh menyedihkan melihat Elenora seperti itu.


Alex berkata dalam hati sambil kembali fokus memandang ke arah Cladia, menunggu perintah selanjutnya dari Cladia.


"Alex. Ernest akan mengantar Elenora untuk membeli obat, kira-kira dimana letak apotek terdekat dari tempat ini?" Cladia langsung bertanya kepada Alex, yang sebenarnya ingin mengajukan diri untuk mengantar Elenora mencari obat.


Tapi apadaya, saat ini dia sedang bertugas dan tidak mungkin meninggalkan tempat, sedang posisinya sebagai kepala keamanan yang mengharuskannya selalu siap sedia, berada di sekitar tempat berkumpulnya Ornado dan para tamu undangannya.


Seperti apa yang Alex lakukan barusan, saat Ornado memanggilnya, dan memberikan perintah untuk menyusul istri majikannya dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja, Alex harus segera melaksanakannya dengan baik dan secepatnya.


"Yang saya tahu, saat melakukan survey lokasi untuk memastikan keamanan tempat ini, begitu keluar dari tempat ini, jika kita berjalan sekitar lima ratus meter ke arah kanan, akan ada sebuah apotek cukup besar. Dua ratus meter disebelah kiri temapt ini juga ada apotek kecil, tapi saya tidak yakin persediaan obat-obatan yang ada di sana cukup lengkap." Penjelasan dari Alex membuat Cladia menarik nafas lega, paling tidak ada apotek di dekat tempat ini, sehingga Elenora bisa secepatnya mendapatkan obatnya.


"Lima ratus meter, dari tempat ini ke arah kanan, ada sebuah apotek yang sepertinya cukup besar." Cladia berusaha menterjemahkan kata-kata Alex dalam bahasa Inggris, agar yang lain, seperti Deanda dan Ernest bisa mengerti apa yang dikatakan oleh Alex.


"O, baik Nyonya, saya akan segera mengantar Nona Elenora kesana. Mari Nona...." Dengan senyum ramahnya, juga tangan yang terulur ke samping, Ernest mempersilahkan Elenora untuk pergi bersamanya.


Tindakan Ernest membuat Alex sedikit menahan nafasnya, berharap bisa menggantikan posisi Ernest yang akan mengantar Elenora pergi, meskipun Alex tahu keinginannya itu tidak akan mungkin terwujud.


“Kalau begitu, aku pergi dulu Cla.” Cladia langsung menjawab perkataan Elenora dengan senyuman anggukan kepalanya.


Begitu Elenora dan Ernest berjalan menjauh, Elenora segera bertanya kepada Ernest, yang melangkahkan kakinya menuju tempat parkir mobil.


“Apa kita akan mengendarai mobil untuk pergi ke apotek?” Pertanyaan Elenora membuat Ernest langsung menganggukkan kepalanya sebagai ganti suara iya.


“Apa kamu punya ide lain?” Ernest yang beberapa waktu ini beberapa kali sempat mengobrol dengan Elenora yang sejak pertemuan pertama mereka jadi akrab dengan nyonya Rose, berkata dengan nada santai kepada Elenora.


“Aku pikir, lebih baik kita jalan kaki saja, toh hanya 500 meter saja dari tempat ini. Aku juga sedang ingin mencari angin segar sebentar. Itupun jika kamu tidak keberatan untuk menemaniku berjalan kaki.” Ernest langsung tersenyum mendengar perkataan Elenora.


“Terserah kamu saja. Aku hanya seorang pengantar saja hari ini. Asal kamu baik-baik saja dengan itu. Karena jika kita pakai mobil, tentu saja akan lebih cepat sampai ke apotek itu.” Jawaban dari Ernest membuat Elenora tersenyum lega.


Elenora, sepertinya dia tampak tidak bahagia, meskipun memiliki status sebagai calon istri tuan James. Bahkan selama kami semua bersama, aku sangat jarang melihat tuan James berada di dekat Elenora, apalagi mengajaknya mengobrol dengan santai seperti yang dilakukan oleh pasangan lain pada umumnya. Apa salah satu dari mereka tidak mencintai pasangannya? Tapi melihat bagaimana cara Elenora memandang tuan James, telihat begitu jelas bahwa dia begitu mencintai tuan James.


Ernest berkata dalam hati sambil memandang ke arah Elenora sekilas.


Ernest kembali berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke depan, meskipun sesekali dia dan Elenora berbincang santai sampai tertawa ringan karena pembicaraan lucu yang mereka lakukan, tapi Ernest cukup sadar diri untuk tidak terlalu sering memandang wajah Elenora, yang merupakan calon istri James itu, jika tidak ingin mencari masalah untuk dirinya sendiri.


Di tempat lain, begitu Cladia dan Deanda kembali ke posisi semula, duduk di samping sosok suaminya, Ornado langsung menyambut Cladia dengan sebuah senyum manis, tanpa lupa untuk melingkarkan lengannya ke bahu Cladia, seolah sudah begitu lama mereka berpisah, dan itu sudah membuat rasa rindu Ornado sampai di ubun-ubun.


“Kenapa lama sekali amore mio? Aku bahkan sempat berpikir apakah kamu tertidur di kamar mandi.” Perkataan Ornado membuat Cladia langsung tersenyum geli.


“Kamu ini ada-ada saja Al. Aku dan Deanda tadi sedang mencoba membantu Elenora….” Cladia berkata dengan suara lirih.


“Eh, iya, aku baru sadar. Dimana Elenora? Kenapa dia tidak kembali ke sini bersama kalian?” Ornado yang baru saja sadar bahwa Elenora tidak ada bersama mereka langsung bertanya, dengan suara terdengar sedikit keras.


James yang awalnya tampak menikmati makanan yang di hadapannya tanpa perduli dengan kembalinya Cladia dan Deanda ke meja makan itu, sedikit menghentikan makannya, dan melirik ke arah Ornado dan Cladia, saat mendengar nama Elenora disebutkan dengan cukup keras oleh Ornado.


Tanpa sadar, begitu Ornado mengucapkan nama Elenora, membuat James merasa penasaran dan langsung memfokuskan perhatiannya kepada Ornado.


“Ah ya, tadi Deanda meminta Ernest untuk mengantar Elenora untuk membeli obat alergi di apotek terdekat. Kata Elenora dia tadi tidak sengaja memakan masakan yang mengandung udang, dan ternyata dia memiliki sejarah alergi terhadap udang,” Kali ini perkataan Cladia cukup untuk membuat James bangkit dari duduknya dan langsung bergegas mendekat ke arah Ornado.


“O, begitu? Semoga Elenora segera mendapatkan obat yang ampuh untuk bisa segera mengatasi alerginya. Apa perlu kita minta anak buah kita yang lain untuk ikut menyusul mereka? Bagaimanapun Elenora, apalagi Ernest tidak familiar dengan daerah ini dan….”


“Ad, aku pergi sebentar, ada sesuatu yang harus aku lakukan sekarang.” Ornado tidak jadi meneruskan kata-katanya, karena James yang tiba-tiba sudah ada di dekatnya berbisik pelan ke telinganya, membuat Ornado menoleh dengan sedikit mendongakkan kepalanya.


“Ok, pergilah, pastikan semua baik-baik saja.” Seolah mengerti kemana dan apa yang akan dilakukan oleh James, Ornado segera menjawab ijin dari James.


“Terimakasih Ad, aku pergi dulu.” James buru-buru menyelesaikan kata-katanya dan berlalu pergi.


“Al, kira-kira siapa yang perlu kita kirim untuk menyusul Elenora?” Begitu James pergi, Cladia segera melanjutkan pembicaraannya yang belum tuntas dengan Ornado sebelumnya, karena Cladia tidak mendengar apa yang tadi dibisikkan James kepada Ornado.


“Tidak perlu lagi memikirkan untuk mengirim orang lain agar menyusul Elenora, amore mio. Orang yang memiliki tanggungjawab untuk menjaga Elenora sudah turun tangan dan bergerak sendiri ke sana.” Dengan sikap santai Ornado berkata, karena dia yakin, saat ini James sedang bergegas menyusul Elenora.


Laki-laki mana yang tahan mendengar bahwa wanita yang dicintainya sedang sakit, dan ada laki-laki lain yang berusaha untuk membantu dan menemaninya. Apalagi James tahu Elenora memang alergi terhadap udang sejak kecil, dan alergi itu kadang menimbulkan efek berbahaya bagi gadis itu.


Ornado berkata dalam hati sambil menyungingkan sebuah senyum tipis di bibirnya, karena tindakan James barusan, yang bagi Ornado terlihat jelas rasa khawatir di wajah tampannya begitu mendengar alergi yang sedang dialami oleh Elenora akibat tanpa sengaja memakan makanan yang mengandung udang.