
Aku harus segera melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat dan kedua pengawal kembarku itu membuat James benar-benar tidak bisa menahan diri dan berubah menjadi gunung api yang meletus dan mengeluarkan laharnya.
Alvero kembali berkata dalam hati dan mulai membuka layar handphone miliknya dan mulai mengetikkan sebuah pesan untuk Ernest.
Alvero yang sudah lama mengenal James, yang merupakan sepupu Ornado itu, cukup tahu bagaimana karakter dan sifat asli dari seorang James.
Meskipun orangnya ceria dan tidak gampang marah, tapi sekali dia marah, James bukan orang yang cukup pandai untuk bisa mengendalikan kemarahannya.
Saat James benar-benar marah, akan sulit bagi orang lain untuk bisa membuatnya berhenti, kecuali seorang Ornado yang selama ini menjadi salah satu orang yang dihormati sekaligus begitu dipercaya oleh James.
Dan menjadi orang yang perkataannya sangat didengar oleh James, sehingga seringkali bahkan kedua orangtua James meminta bantuan kepada Ornado jika butuh untuk menenangkan atau menasehati James dalam banyak hal.
"Nona, sudah berapa lama Nona Elenora tinggal di negara ini?" Pertanyaan dari nyonya Rose langsung menghentikan gerakan mulut Elenora yang sedang menikmati potongan cake dari piring kecil di tangannya.
"Belum lama nyonya. Saya sendiri berasal dari Italia. Namun dari awal sudah bekerja di Grup Xanderson." Elenora menjawab pertanyaan nyonya Rose dengan pikiran yang sedikit melayang, mengingat kembali, alasan utama dia begitu berani memutuskan untuk meninggalkan Italia, menetap di negara asing ini dan bekerja di kantor Bumi Asia.
"Senang sekali bisa menikmati keindahan alam seindah ini. Udara di daerah tropis terasa sedikit berbeda dengan tempat lain. Tapi terasa sungguh menyegarkan dan menimbulkan pengalaman unik." Ernest berkata sambil memandang ke arah nyonya Rose yang juga terlihat begitu menikmati suasana pulau Bali petang ini.
Sudah puluhan tahun sejak nyonya Rose mengadikan dirinya dalam istana, tidak pernah sekalipun dia menikmati liburan.
Sesekali dia pulang ke kampung halamannya hanya untuk menjenguk keponakan dan adiknya, sehingga dia lebih suka menghabiskan waktu di istana daripada temapt manapun yang dia tahu.
Ketika awalnya Alvero memaksa mengajaknya pergi berlibur, nyonya Rose langsung menolak dengan tegas.
Akan tetapi ketika Alvero mencoba merayunya dengan mengatakan bahwa kondisi Deanda yang hamil memerlukan bantuan orang yang bisa dipercaya untuk melayani dan menjaga kondisinya selama berlibur, mau tidak mau nyonya Rose akhirnya bersedia ikut berlibur.
Bagi nyonya Rose, tidak ada hal yang lebih penting daripada memastikan dan menjaga kondisi kehamilan Deanda, agar bisa melahirkan putra atau putri mahkota dengan selamat dan sehat.
Sebuah impian terbesar dari seorang nyonya Rose, sebelum dia tidak lagi mampu menjadi seorang kepala pelayan di istana. Sebelum masa pengabdiannya berhenti.
Meskipun Alvero seringkali menegur nyonya Rose agar tidak merasa tua, namun kali ini Alvero sengaja menggunakan alasan kehamilan Deanda agar nyonya Rose tidak bisa menolak ajakan untuk berlibur.
Apalagi Ernest tahu bunyi notifikasi pesan itu khusus untuk pesan-pesan yang berasal dari Alvero dan Deanda yang merupakan raja dan permaisuri Gracetian.
Ernest, sebaiknya kamu dan Erich segera menjauh dari tempatmu duduk atau sebentar lagi kamu akan mengalami badai kemarahan dari seorang James Xanderson. Bisa-bisanya kalian mendekati gadis milik James Xanderson. Apa kalian sudah bosan hidup?
Pesan dari Alvero sudah cukup bagi Ernest untuk membuatnya tiba-tiba bangkit dari posisi duduknya dengan sikap terburu-buru.
"Erich, ada sesuatu yang harus kita kerjakan sekarang. Yang Mulia baru saja meminta kita untuk dapat segera melaksanakannya sekarang juga." Ernest segera berkata sambil menepuk bahu Erich yang langsung mendongakkan kepalanya memandang Ernest dengan heran.
"Apa ada sesuatu yang penting yang sedang terjadi? Bukankah yang mulia dan permaisuri tampak masih makan dan bersantai dengan yang lain? Kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang mendesak?" Ernest sedikit melotot ke arah Erich begitu mendengar cercaan pertanyaan dari Erich untuknya.
Haist! Kenapa hari ini Erich tiba-tiba cerewet sekali di waktu yang tidak tepat. Apa dia tidak melihat bagaimana wajah tuan James yang sudah terlihat seperti singa mau menerkam mangsanya?
Ernest mengomel dalam hati sambil tangannya yang tadinya menepuk bahu Erich mengajaknya pergi bergerak cepat menarik lengan atas tangan Erich agar Erich segera bangkit dari duduknya.
"Maaf Nona Elenora, kami ada tugas dari yang mulia Alvero untuk segera dikerjakan. Nyonya Rose, kami pergi dulu." Tanpa menjawab pertanyaan dari Erich, Ernest justru langsung menarik tubuh Erich agar mengikutinya untuk pergi menjauh dari sosok Elenora sebelum suasana menjadi lebih runyam.
"Jangan mengeluarkan suara apapun, segera ikut denganku!" Ernest langsung berbisik pelan dengan tangan tetap berusaha menarik Erich agar segera menjauhi tempat duduknya sekarang.
"Yang Mulia meminta kita untuk segera menjauh dari nona Elenora, karena tuan James terlihat tidak senang." Setelah mereka berada cukup jauh, Ernest berkata sambil tangannya langsung menepuk pipi Erich dan menghalanginya untuk menoleh ke arah James.
"Jangan cari masalah. Buat apa kamu menoleh ke arah tuan James?" Ernest berkata sambil mengajak Erich berpura-pura menikmati pemandangan indah hamparan pantai yang terlihat indah karena semburat oranye warna langit karena matahari yang sudah hampir terbenam seluruhnya.
"Tidak apa-apa, hanya penasaran saja semarah apa wajah tuan James sekarang. Seingatku dulu ketika yang mulia Alvero mengejar-ngejar yang mulia Deanda, yang mulia Alvero tidak pernah memberikan kesempatan sedikitpun bagi yang mulia Deanda untuk menjauh dari sisinya. Tapi kenapa tuan James dan nona Elenora tampak justru saling menjaga jarak? Bahkan kalau tadi tuan Ornado tidak memperkenalkan nona Elenora kepada kita sebagai calon istri tuan James. Aku tidak akan pernah menyangka kalau nona itu sebenarnya ada hubungan khusus dengan tuan James." Erich berkata panjang lebar kepada Ernest, membuat Ernest sedikit frustasi.
"Ah, entahlah, urusan percintaan orang aku tidak mengerti sama sekali. yang penting jangan membuat orang laing tersinggung karena masalah cinta. Sungguh merepotkan...."
"Itulah akibatnya kalau kamu terlambat mengenal cinta." Erich memotong perkataan Ernest sambil berlalu pergi meninggalkan Ernest yang hanya bisa melongo melihat kepergian Erich.
"Eh, sejak kapan di gunung es itu bisa bicara tentang cinta? Wahhh... nona Cleosa benar-benar sudah berhasil mengubah sebuah gunung es menjadi sebuah perapian yang hangat. Bnear-benar suatu kejadian ajaib yang perlu kuingat dengan baik!" Ernest bergumam pelan sambil tersenyum menyadari bahwa Erich sudah menjadi orang yang sedikit lebih hangat karena Cleosa yang sudah berhasil membuatnya mengenal apa itu cinta.