My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
AKAN KULAKUKAN APAPUN UNTUKMU



"Mama memang yang terbaik dan selalu mengerti dengan situasi dan keinginan anak-anaknya." James menjawab perkataan mamanya dengan sikap santai dan senyum di wajahnya, tanpa merasa canggung karena kata-kata Carina barusan.


“Tentu Mama tidak perlu khawatir tentang hal itu. Tenang saja. Mama mau berapa cucu? Aku dan ti amore akan siap memberikannya untuk Mama.” Perkataan James yang dilakukannya sambil memeluk erat bahunya, bukannya membuat Elenora merasa dibantu oleh James, tapi justru membuat wajahnya semakin memerah.


"Berapapun yang bisa kalian berikan. Tapi sebelumnya, lakukan usaha terbaik yang kalian bisa agar bisa segera memberikan cucu untukku." Carina berkata sambil tertawa dengan wajah terlihat sangat senang.


“Kalau begitu, biarkan kami masuk ke kamar dan segera memproses pembuatan cucu untuk Mama sebanyak mungkin agar cepat memberikan hasil.” James berkata dengan senyum di wajahnya, sambil membuka pintu kamarnya, dan tanpa menunggu jawaban dari mamanya yang tertawa tergelak dan berjalan menjauhi pintu kamar mereka, James langsung membawa Elenora ke dalam kamarnya, yang mau tidak mau membuat lutut Elenora terasa lemas dan dada yang berdegup dengan kencang karena tindakan dan kata-kata James.


James kembali menyungingkan senyum bahagia mengingat pembicaraan itu.


Dan mengingat kejadian kemarin malam, membuat James dengan bersemangat melangkah dengan langkah lebar, menuju mobilnya untuk menemui Elenora yang dia tinggalkan di mansion keluarganya.


# # # # # # #


Elenora sedang membalas beberapa surel yang dia terima dari beberapa rekannya di Bumi Asia, ketika James tiba-tiba saja datang dan memeluk tubuhnya dari belakang sambil membungkukkan tubuhnya.


"Apa yang sedang kamu kerjakan ti amore?" James berbisik lembut di telinga Elenora dengan menyebutkan nama panggilan sayangnya untuk istri tercintanya itu.


Setelah itu dengan lembut juga, James mencium leher jenjang Elenora setelah menyingkirkan rambutnya yang panjang tergerai dan menutupi lehernya, membuat bulu kuduk Elenora meremang, dan juga dadanya yang berdegup dengan kencang, disertai dengan senyuman manis yang tersungging di bibirnya.


Dengan gerakan cepat, Elenora langsung menoleh sambil sedikit mendongak, menatap ke arah James yang masih sibuk menciumi leher istrinya dengan mesra, sambil kedua tangannya melingkar di tubuh Elenora, dan tangannya saling menggenggam di depan dada Elenora.


"Aku merindukanmu ti amore.... Entah bagaimana nasibku ke depannya, karena baru berpisah beberapa jam saja aku sudah begitu merindukanmu." James berkata sambil melepaskan genggaman tangannya, tepat pada saat mata Elenora melihat ke arah tangan James dan melihat ada sedikit warna lain di kulit tangan suaminya itu.


"James...." Dengan cepat Elenora memegang tangan James yagn sudah menegakkan kembali tubuhnya di belakang kursi tempat Elenora duduk.


"Mmmm..." James menjawab panggilan Elenora dengan sebuah gumaman pelan.


"Kenapa dengan tanganmu?" Elenora bertanya sambil mengamati tangan James yang tampak sedikit memar.


Pertanyaan Elenora membuat James menghela nafasnya sambil tersenyum, setelah itu dengan gerakan cepat, dia menarik tangan Elenora agar bangkit dari duduknya.


Hah!


Elenora berteriak dalam hati melihat tindakan James padanya yang membuat jantungnya berdisko ria di dalam sana, dengan tubuhnya yang terasa kaku karena bagaimanapun, hal seperti ini baru pertama kalinya dia alami meskipun dia sudah menyerahkan jiwa dan raga seutuhnya pada James.


Apalagi, pada dasarnya hanya dengan James, satu-satunya laki-laki yang membuat Elenora merasakan sensasi aneh dan juga debaran dada ketika dekat dengannya, tanpa adanya rasa takut atau khawatir kalau James akan menyakitinya, dan memperlakukannya dengan kasar.


Saat ini Elenora bisa merasakan bagaimana dia yang semakin mencintai James yang ternyata tanpa disangkanya merupakan seorang laki-laki yang memperlakukannya dengan begitu lembut dan mesra, sungguh berbeda 180 derajat dengan ketika masih ada kesalahpahaman antara mereka berdua dulu.


Sikap dingin, pemarah, tidak perduli, dan juga kasar dari seorang James yang dulu, tidak sedikitpun dilihatnya pada James yang sekarang, bahkan jejaknyapun tidak adalagi tertinggal.


Untuk sekarang, yang bisa dlihat dan dirasakan oleh Elenora dari seorang James adalah sikap hangat, lembut, mesra, dan juga penuh perlindungan.


Elenora bener-benar tidak menyangka bahwa James ternyata adalah seorang pria romantis yang bisa bersikap begitu manis padanya.


"James... kenapa dengan tanganmu?" Untuk menutupi rasa gugupnya, Elenora kembali fokus pada tangan James yang tampak memar.


"Ah, ini? Ini terjadi ketika aku menyiapkan hadiah untukmu." Perkataan James yang terdengar santai dan tidak dimengerti olehnya, membuat Elenora mengernyitkan dahinya, sambil menolah menatap ke arah James yagn langsung tersenyum dan mengecup sekials bibirnya, yang lagi-lagi membuat jantung Elenora rasanya seperti akan melompat keluar karena rasa kaget, sekaligus bahagia yang memenuhi dadanya.


"Aku... tidak mau mendapatkan hadiah… yang bisa membuatmu... terluka seperti ini." Elenora berkata dengan suara pelan, dan sedikit terbata-bata karena kikuk.


"Ah, menggemaskan sekali perhatianmu padaku ti amore. Sungguh kamu membuatku semakin jatuh cinta padamu." James berkata sambil mencium kembali Elenora, kali ini hidung mancung itu sibuk menciumi lengan atas Elenora yang tepat berada di depan wajahnya, membuat Elenora tertawa kecil karena merasa sedikit geli akibat tindakan James padanya.


"James... jangan mengalihkan perhatian... kenapa dengan tanganmu itu?" Di tengah tawa kecilnya, Elenora tetap meminta penjelasan pada James tentang apa yang terjadi pada tanganya.


"Tunggu...." James berkata sambil menghentikan tindakannya menggoda Elenora.


Dengan gerakan cepat, James mengambil handphonenya, membuka layarnya dan menunjukkan beberapa foto pada Elenora.