
Elenora langsung tersentak kaget begitu melihat sosok James yang baginya tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya dengan dua wanita cantik di sampingnya, sedang menatapnya, seolah sedang mencoba menebak apa yang baru saja dilakukannya.
Apa James benar-benar sudah buta? Ternyata benar yang dikatakan oleh Cladia. Walaupun penampilan gadis ini memang terlihat kampungan dan juga sederhana. Namun, jika diperhatikan benar-benar, gadis ini sebenarnya sangat cantik. Memang sekilas dia terlihat tidak menarik, tapi hanya perlu sekejap saja, dengan menjauhkan benda-benda yang menutupi kecantikannya, dia akan tampil cantik bak seorang foto model terkenal seperti Amadea, sepupu James dan Ornado yang memang merupakan foto model kelas dunia.
Laurel berkata dalam hati sambil melirik ke arah Niela yang dilihatnya juga sedang mengamati Elenora.
Dan seolah memiliki pemikiran yang sama, Niela juga melirik ke arah Laurel dan saling melempar senyum setelah mengamati Elenora sesaat.
"Apa kamu yang namanya Elenora? Perkenalkan, aku Laurel, teman James." Dengan cepat Laurel mendekat ke arah Elenora dan menyapanya dengan hangat sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Laurel.
"Ah... eh... iya, aku Elenora Bianchi. Senang berkenalan denganmu." Dengan sikap gugupnya yang langsung menghampirinya karena berada di dekat James sekaligus dua orang asing yang terlihat begitu cantik, Elenora menerima uluran tangan Laurel dan menjabatnya.
"Dia Laurel, istri dari dokter sekaligus pengusaha terkenal, salah satu pemilik Shaw Corporation, Dave Alexander Shaw. Sedang ini, calon istri Jeremy, calon kakak ipar Cladia." James memperkenalkan Laurel dan Niela kepada Elenora yang langsung tersenyum dengan wajah tidak percaya diri di hadapan kedua wanita cantik itu dan tangannya terlulur ke arah Niela.
“Eh, iya… Cladia sering menyebutkan nama kalian berdua ketika kami mengobrol berdua.” Elenora berkata dengan suara lirih.
"Senang berkenalan denganmu. Semoga ke depannya kita bisa berteman baik..." Niela berakta sambil tersenyum ramah ke arah Elenora.
"Betul sekali. Hubungan kami dengan James cukup dekat, jadi kami berharap kita juga bisa dekat, karena kami juga ingin dekat dengan istri James ke depannya." Wajah Elenora langsung memerah mendengar perkataan Laurel yang secara tidak langsung begitu mengatakan bahwa saat ini Elenora adalah calon istri dari James.
Sedang James, matanya sedikit melotot, bibirnya sedikit terbuka, berencana mengeluarkan perkataan protesnya, namun akhirnya dia hanya menarik nafas panjang.
Dasar Laurel. Benar-benar minta dijitak. Tapi sudahlah, jika aku memprotesnya, bukannya diam, aku yakin Laurel justru akan semakin mengerjaiku dan membuat keributan. Bisa-bisa Elenora bakal pingsan berdiri dikerjain habis-habisan oleh Laurel.
James berkata dalam hati sambil berdehem pelan untuk membuat dirinya tidak merasa canggung.
"Ah, James, bisa minta tolong ambilkan kami paa wanita cantik ini kue untuk teman mengobrol kami?" James yang sudah berusaha bersikap normal sedikit mengernyitkan dahinya mendengar permintaan dari Laurel yang begitu tiba-tiba.
"Ayolah James, permintaan dari ibu hamil, harus dipenuhi supaya bayinya kelak tidak mengeluarkan air liur terus menerus. Dan juga hitung-hitung bisa menambah rejekimu karena sudah berbuat baik kepada ibu hamil. Tapi, aku juga akan senang sekali jika sekalian saja diambilkan." Niela langsung menguatkan perkataan Laurel.
"Wah... kalian ini, sudah seperti saudara kemabr yang terikat telepati saja, sengaja membuatku repot melayani kalian. Apa kalian sedang merencanakan sesuatu yang buruk padaku selagi aku pergi mengambilkan kue untuk kalian?" James berkata dengan tatapan curiga ke arah Niela dan Laurel yang baginya terlihat terlalu banyak senyum setelah melihat sosok Elenora.
(Telepati adalah kemampuan untuk berkomunikasi atau saling menukarkan informasi dengan orang lain tanpa menggunakan indra. Dalam film-film populer, telepati digambarkan begitu fantastis. Antara dua orang mampu saling bercakap-cakap tanpa perlu berbicara).
Membuat mau tidak mau James menghilangkan kecurigaannya, berdecih pelan, sebelum akhirnya menggerakkan tubuhnya menjauh, untuk benar-benar mengambilkan para wanita itu kue yang diminta mereka.
Bisa-bisanya aku selalu saja kalah jika berdebat dengan Laurel. Hebatnya Dave bisa menaklukkan seorang Laurel, bahkan rela menunggunya selama tujuh tahun. Ornado dan Dave, mereka berdua sama-sama laki-laki gila yang bahkan rela menunggu begitu lama untuk wanita yang dicintainya.
James mengomel dalam hati, namun setelah itu menyungingkan senyumnya setelah sedikit menoleh dan melirik ke arah Laurel sebentar.
Walaupun seringkali James berdebat dengan Laurel, James tahu pasti bahwa wanita cantik milik Dave itu adalah wanita baik hati dan kuat, juga ceria dan memiliki pengetahuan luas.
Bagi James, Laurel adalah wanita cantik dan menyenangkan yang membuat James juga betah saat mengobrol dengannya, membuatnya maklum kenapa Ornado begitu menyayangi Laurel seperti adiknya sendiri, apalagi Cladia juga begitu dekat dan manja kepada Laurel.
“Elenora, apa kamu betah tinggal di Indonesia?” Laurel langsung mengajak Elenora mengobrol begitu melihat James sudah menjauh dari mereka.
“Ahh… itu ya? Sepertinya lumayan betah…. Semoga saja begitu.” Dengan ragu Elenora menjawab pertanyaan Laurel.
“Aku cukup salut melihat bagaimana kamu yang sepertinya tidak terlalu nyaman tinggal di negara ini. Namun demi James, sepertinya kamu rela melakukan apapun.” Niela ikut mengeluarkan suaranya untuk mengajak Elenora mengobrol.
Perkataan Nilea cukup membuat Elenora menahan senyum malu-malunya karena tujuan utamanya datang ke negara ini memang untuk mendekati James.
“Apa kamu sebegitu sukanya dengan James?” Pertanyaan to the point dari Laurel sukses membuat wajah Elenora benar-benar memerah, membuat Laurel maupun Niela langsung tersenyum.
“Tidak perlu dijawab, wajahmu sudah menunjukkan betapa besarnya rasa sukamu kepada James.” Laurel langsung menjawab sendiri pertanyaannya begitu dilihatnya Elenora terlihat begitu canggung dan tidak berani langsung menjawab pertanyaan darinya.
Gadis ini, hal paling besar yang membuatnya terlihat culun adalah kacamata tebal, potongan rambut kepang dan berponinya, juga pakaiannya yang terlihat kedodoran. Sepertinya aku harus sedikit membantunya melakukan sesuatu agar mata James terbuka dan bisa melihat betapa cantiknya calon istrinya ini. Agar James tidak merasa seenaknya sendiri menganggap dirinya yang keren ttidak pantas bersanding dengan gadis yang sedang menyembunyikan kecantikannya ini.
Laurel berkata dalam hati sambil mengamati sosok Elenora dengan teliti, yang akhirnya justru membuatnya semakin ingin mengubah penampilan gadis itu jika saja mungkin dia lakukan sekarang.
Rasanya tanganku terasa begitu gatal, ingin mengurai rambut Elenora dengan kepang klasiknya itu, sekaligus melepas kacamata yang bertengger di wajahnya, yang membuatnya wajahnya memang terlihat sedikit aneh dan tidak proporsional.
Laurel kembali berkata dalam hati dengan wajah terlihat gemas, ingin sekali melakukan make over pada wajah dan penampilan Elenora, yang Laurel yakin sebenarnya seorang gadis yang sangat cantik.