
"Kamu tidak perlu kembali ke kantor karena aku sudah menemukannya terselip di berkas untuk meeting yang lain." James mencoba memberikan penjelasan kembali kepada Elenora.
Sebuah penjelasan yang dia usahakan semasuk akal mungkin agar Elenora tidak curiga padanya yang sengaja mengada-ada alasan untuk memanggil Elenora dan membuatnya berhenti mengobrol dengan Alex.
"Maaf, lain kali saya akan lebih berhati-hati dan teliti saat menyiapkan bahan meeting untuk Pak James. Supaya kejadian seperti hari ini tidak terulang lagi." Elenora berkata dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya karena dia berpikir bahwa dia yang sudah salah mencampur berkas-berkas itu saat menatanya kemarin di kantor.
“Bagus kalau kamu mau menjadikan ini pengalaman berharga harga ke depannya bisa bekerja dengan lebih baik lagi. Yang penting semuanya sudah beres saat ini. Sudah siap untuk meeting kita dua hari lagi.” Perkataan James membuat Elenora langsung menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, saya akan kembali ke kamar saya Pak James.” Mendengar Elenora yang pamit padanya untuk keluar dari kamarnya, James terlihat sedikit tersentak kaget.
Eh, apa maksud Elenora? Kenapa begitu buru-buru? Ingin segera pergi dari sini? Apa dia memiliki janji penting dengan laki-laki lain? Siapa? Alex? Atau Dodi dan Gavino akan menghubunginya dari Italia? Tidak! Aku tidak boleh tinggal diam! Dan membiarkan hal itu terjadi.
"Elenora, aku sudah katakan agar tidak memanggilku dengan bahasa formal saat tidak ada orang lain. Bagaimanapun, kita juga sudah saling kenal sejak lama, tidak ada salahnya saling memanggil nama saat tidak di depan yang lain." Perkataan James bukannya membuat Elenora merasa senang, tapi justru merasa bingung, karena James mengucapkannya dengan nada sedikit tinggi, seperti orang yang sedang menegur anak buahnya yang sudah melakukan kesalahan.
"Maaf karena beberapa waktu ini sudah menjadi kebiasaan, jadi susah untuk mengubahnya." Elenora berkata dengan suara pelan dan sikap ragu.
"Kalau begitu biasakanlah lagi mulai sekarang. Aku juga tidak mau kamu suatu ketika membuatku malu karena di depan orangtua kita, kamu memanggilku dengan sebutan pak James." Mendengar perkataan James, Elenora hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala yang pelan.
"Aku akan berusaha mengingatnya dengan baik. Kalau begitu, aku permisi kembali ke kamarku, karena setelah ini kalian akan sibuk menyambut tamu. Sekali lagi aku akan periksa kembali semua kesiapan meeting dua hari lagi termasuk koneksi internet yang ada di tempat ini agar meeting online kita bisa berjalan lancar." Kata-kata Elenora kembali menyadarkan James bahwa gadis itu berniat pergi darinya.
Memeriksa koneksi internet? Bukankah itu artinya dia harus bekerja sama dengan pihak hotel dan juga Alex untuk melakukan hal itu?
James berkata dalam hati sambil mengernyitkan dahinya. Ada satu rasa yang menyakitkan dan membuat dadanya tiba-tiba terasa sesak.
"Kamu bisa melakukannya besok atau di waktu lain, tidak sekarang." James langsung mencegah Elenora untuk melaksanakan rencananya barusan.
"Kata Cladia besok dia ingin aku ikut menemaninya pergi bersama para tamu. Mumpung ini masih belum sore, aku akan membereskan pekerjaanku sekarang, selagi aku masih ada waktu." Perkataan Elenora membuat James memandangnya dengan tatapan menyelidik, mencoba menilik apa Elenora mengatakan itu hanya untuk mencari waktu untuk bisa bertemu Alex kembali, atau memang murni karena ingin mengurus tugas dan tanggung jawabnya sebagai sekretarisnya.
Aku harus menghalangi Elenora untuk kembali ke kamarnya. Setelah itu, sore ini aku akan mencari alasan untuk membawanya ikut menyambut kedatangan Alvero, agar sepanjang hari ini, tidak adalagi kesempatan yang bisa dia gunakan untuk bertemu dengan Alex.
"Kalau begitu, sebelum pergi, tolong belikan secangkir kopi espresso double shot untukku." James berkata sambil meraih handphonenya yang tergeletak di meja dan mulai berpura-pura fokus pada layar handphone itu.
Shot sebenarnya sebutan untuk satuan espresso yang biasa digunakan. Perbedaan one shot dengan double shot. hanya terletak pada volume air saja, jika one shot menggunakan cangkir espresso yang kecil, sedangkan double shot menggunakan cangkir yang agak besar
Untuk espresso one shot atau disebut juga single shot, digunakan 25-35 ml. Cara pembuatan espresso single shot adalah dengan memanaskan air hingga mendidih hingga uapnya melewati gumpalan padat. Kemudian tuangkan dari 9-12 gr bubuk kopi yang sudah digiling halus).
"Aku akan segera memesannya untukmu." Elenora berencana mendekati pesawat telepon yang ada di atas meja tempat James sedang duduk untuk melakukan pemesanan kopi melalui panggilan telepon resort.
"Hei! Apa yang sedang kamu lakukan Elenora? Aku mau kamu sendiri yang memesan kopinya. Pastikan kamu sendiri yang memesannya agar tidak keliru dan bawa langsung padaku kopi itu. Pastikan agar kopi tetep panas saat tiba di kamarku." James segera menghalangi Elenora untuk meraih gagang telepon itu.
Akhirnya dengan langkah bergegas, Elenora keluar dari kamar James, dan mulai mencari info tentang letak posisi restoran yang ada di sana untuk memesan kopi espresso, permintaan dari James.
# # # # # # #
"Silahkan." Elenora mengulurkan cangkir berisi kopi espesso pesanan dari James.
Melihat cangkir yang tersodor di depannya, James langsung mengernyitkan dahinya dan memandang ke arah Elenora dengan tatapan tajam dan menunjukkan wajah tidak puas.
"Darimana kamu mendapatkan kopi itu? Kenapa cepat sekali kamu memesannya? Apa jangan-jangan itu adalah kopi instan yang kamu seduh sendiri dengan air panas menggunakan teko listrik yang ada di kamarmu?" Elenora sedikit tersentak mendengar pertanyaan aneh dari James itu.
(Teko listrik atau pemanas air, adalah alat yang digunakan untuk memanaskan air yang menggunakan energi listrik sebagai sumber panasnya. Teko listrik biasanya menggunakan teko sebagai tempat menyimpan air panas sebelum digunakan).
"Tidak mungkin ini kopi instan. Aku memesannya dari restoran resort ini." Elenora berkata sambil memandang ke arah cangkir kopi yang beralaskan piring kecil di tangannya.
Situasi ini benar-benar tidak baik. Kalau aku tetap meminum kopi ini, itu akan membuat Elenora segera kembali ke kamarnya. Ayo James…. Cepatlah berpikir sebelum Elenora tidak lagi memiliki alasan untuk bisa segera meninggalkan kamar ini.
Tanpa sadar, James mulai merasa tidak tenang, dan tidak mau melepaskan Elenora untuk kembali ke kamarnya sendiri.
Tiba-tiba ada rasa takut dalam hati James jika Elenora kembali menemui Alex, mengobrol bersamanya, tersenyum dengan manisnya, seperti senyum yang tadi sempat dilihatnya dan membuatnya hampir saja tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak mendekat dan mengulurkan tangannya untuk mengelus wajah gadis itu.