My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
ORNADO DAN ALVERO? SEBELAS DUA BELAS



Melihat bagaimana Jeremy dan Cladia bertahan menghadapi badai dengan saling bergantung antara satu dengan yang lain. Kedua kakak beradik yang kompak dan saling menyayangi itu menjadikan Niela kagum dan hatinya begitu mantap menetapkan Jeremy sebagai suaminya di masa depan.


Dan cinta Niela sendiri terhadap Jeremy semakin dalam karena bisa melihat bahwa Jeremy adalah laki-laki yang baik dan bertanggungjawab, terbukti dari cara dia merawat dan menjaga Cladia selama ini.


Membuat Niela merasa cukup beruntung bisa menjadi kekasih, bahkan calon istri seorang laki-laki seperti Jeremy.


# # # # # # #


"Jadi bagaimana sekarang kondisi Gracetian? Apakah semua berjalan dengan normal sekarang?" Pertanyaan James membuat Alvero melemparkan sebuah senyum kepada Ornado dengan tatapan mata yang menunjukkan rasa terimakasihnya.


"Semuanya pasti normal, apalagi sekarang dia juga akan segera memiliki calon penerus tahta." Ornado berkata dengan santai, menjawab pertanyaan James kepada Alvero, membuat Alvero langsung meninju lengan atas Ornado pelan sambil tertawa.


Meskipun Ornado mengucapkan perkataannya dengan nada acuh tak acuh, tapi Alvero harus mengakui bahwa yang diucapkan oleh Ornado memang sesuai dengan kenyataan, bahwa kehidupan Alvero sekarang sudah jauh lebih tenang, damai dan bahagia sejak kasus pemberontakan itu diselesaikan dengan baik, sampai ke akar-akarnya.


Apalagi dengan hilangnya para pemberontak itu dari bumi Gracetian, tidak adalagi ketakutan Alvero jika suatu saat ada orang-orang jahat yang berniat mencelakakan keluarga kerajaan, terutama permaisuri tercintanya.


"Berkat bantuan besar dari Tuan Ornado Xanderson, sekarang aku bisa berkonsentrasi pada pengembangan Gracetian, tanpa sibuk mengkhawatirkan para pemberontak lagi." Alvero berkata sambil meraih cangkir berisi kopinya yang baru saja datang, dan dengan sikap elegan, Alvero menyesap kopi itu setelah meniupnya pelan beberapa kali, sedang Ornado hanya menaikkan salah satu ujung bibirnya sambil berdecih pelan mendengar perkataan Alvero yang lebih mirip godaan daripada sebuah pujian.


"Lalu bagaimana kabar putri Desya sekarang? Apa sampai sekarang kamu belum bisa memaafkannya?" James bertanya sambil tersenyum kepada salah seorang pelayan untuk mengucapkan terimakasihnya setelah pelayan itu meletakkan sebuah piring berisi snack pesanannya.


"Maksudmu Desya? Di Gacetian sudah tidak adalagi yang namanya putri Desya." Alvero berkata dengan nada datar tanpa emosi, membuat Ornado tersenyum, karena dia cukup mengerti dengan perasaan Alvero tentang Desya.


Sikap Alvero saat menyebutkan tentang Desya itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Alvero masih belum bisa memaafkan apa yang sudah pernah dilakukan Desya pada permaisurinya.


Dan bagi Ornado, dia pasti akan bersikap sama seperti Alvero jika itu terjadi padanya dan Cladia, bahkan mungkin dia akan rela membayar seseorang untuk mengawasi Desya seumur hidupnya dan memastikan bahwa Desya tidak akan pernah kembali ke Gracetian, apapun yang terjadi.


"Ah ya, maksudku mantan adik tirimu." James berkata sambil memandang ke arah Alvero sambil meringis karena Alvero yang tidak mau menyebut Desya sebagai putri lagi.


"Aku dengar dia sudah jadi gelandangan di luar negeri. Tapi entahlah, aku juga belum ada niat untuk memberinya ijin untuk bisa kembali ke Gracetian. Lagipula, boleh dibilang tidak adalagi keturunan Edarian yang tersisa, hanya Eliana yang sudah mendekam di rumah sakit jiwa, dan keluarganya yang lain, semuanya ada di penjara. Hanya tinggal satu orang Edarian yang selamat, baron Amos yang sampai sekarang tidak menikah dan tidak memiliki keturunan. Jadi percuma saja dia kembali ke Gracetian, karena tidak adalagi yang akan bisa ditemuinya, apalagi menampungnya." Alvero berkata sambil mengingat bagaimana selain baron Amos, semua kelurga Edarian terbukti bersalah menjadi anggota kelompok pemberontak, dan harus menghabiskan sisa hidup mereka di penjara.


Semua yang berhubungan dengan Edarian tidak ada satupun yang berhasil lolos dari jeruji penjara, kecuali baron Amos yang memang terbukti bersih, dan juga sempat sedikit membantu pihak kerajaan dalam memberikan info tentang para pemberontak itu.


Untuk baron Amos sendiri, dengan semua kejadian itu, dia tidak akan berani menerima apalagi membantu Desya, jika tidak ingin dianggap membantu keturunan pemberontak dan menyebabkan masalah besar untuk dirinya sendiri.


"Orang perduli ada dua alasan, karena cinta atau benci, suka atau tidak suka. Aku berusaha mencari info tentang keberadaan Desya dan kondisinya, karena tidak ingin suatu ketika kelak dia mendapat kesempatan untuk membalas dendam apalagi melukai permaisuriku…."


“Aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Alvero. Kita mencari info dan kondisi tentang seseorang, kadang bukan berarti kita perduli, tapi justru karena kita bisa mencegah terjadinya hal buruk yang mungkin saja bisa dilakukan oleh orang tersebut. Itu namanya berjaga-jaga, siap siaga, sedia payung sebelum hujan.”  Ornado langsung memotong perkataan Alvero dan menjawabnya dengan apa yang ada di pikirannya, membuat James kembali meringis.


“Ah, sudahlah.... Tidak Alvero, tidak Ornado. Kedua pria ini selalu saja terlalu banyak berpikir dan bersikap siaga terhadap apapun, terutama jika itu menyangkut wanita tercinta kalian dan….” Belum lagi James melanjutkan kata-katanya, Ornado langsung menjitak kepalanya, membuat James langsung berhenti berbicara.


“Sembarangan bicara kamu! Padahal kamu yang pikirannya terlalu berbelit-belit….” Alvero berkata dengan nada protes.


“Eh, siapa bilang aku berbelit-bel….”


“Kalau begitu, masalah Elenora saja sampai sekarang kamu masih terus oleng. Tidak bisa memutuskan dengan tegas kelanjutan hubungan kalian. Kamu mau menunggu Elenora yang memutuskan untuk pergi darimu? Dan membuatmu menangis darah?” Perkataan Ornado yang langsung memutus perkataan James, membuat Alvero memandang James sambil tersenyum.


Enzo yang mendengar pembicaraan itu sedikit melongo melihat bagaimana James menjadi bulan-bulanan oleh Ornado dan Alvero, karena masalah percintaannya.


Sedang Dave, sedari awal memilih diam dan mengamati, meski sesekali dia tersenyum, dan dalam hati setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ornado dan Alvero tentang cinta.


Bukankah meskipun dalam diam, Dave juga sudah melakukan hal yang sama pada Laurel? Memaksa dokter cantik itu untuk menjadi istrinya dengan melakukan apapun untuk itu.


Untung saja pada akhirnya Laurel benar-benar membalas cintanya dan menjadi istri yang begitu memuja Dave.


“Kamu ini James… sejak dulu selalu sibuk dengan pikiranmu yang terlalu berbelit-belit. Suka ya suka, cinta ya cinta, buat apa kamu sibuk mencari cara untuk memungkiri perasaanmu sendiri.” Perkataan Alvero tanpa sadar membuat Enzo sedikit terkikik geli, karena dia kembali teringat bagaimana raja Gracetian itu memanfaatkan waktu, kesempatan, kejadian apapun untuk dapat menarik Deanda ke sisinya, dan menjadikan wanita cantik itu miliknya dengan semua rekayasa kejadian dan juga jebakan yang dia buat waktu itu.


“Ist… mentang-mentang kalian berdua memiliki sifat dan karakter yang mirip, jadi memojokkanku.” James berkata dengan wajah memberengut.


“Siapa yang kamu bilang memojokkanmu? Aku dan Ornado justru sedang mengajarimu, bagaimana caranya agar kamu menjadi laki-laki sejati yang berani meraih impiannya, termasuk dalam hal ini, bagaimana harusnya bersikap terhadap gadis yang kamu cintai. Jika sudah menemukannya, tidak perlu berpikir panjang. Asal kamu yakin mencintainya, cepat ambil sebelum yang lain mengambilnya, atau dia pergi meninggalkanmu.” Kali ini Enzo sedikit tertawa terbahak mendengar apa yang dikatakan oleh Alvero kepada James yang akhirnya tersenyum.


“Benar-benar, sebelas dua belas kamu dan Ornado.” James berkata dengan sikap cuek, sambil mencebikkan bibirnya.


“Biarkan saja Alvero. Percuma bicara tentang hal seperti itu pada James yang akan masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanannya. Kita tunggu saja sampai dia benar-benar tidak bisa menahan dirinya lagi dan bersikap gila kepada wanitanya.” Alvero langsung tertawa mendengar Ornado yang berkata dengan sikap seperti orang yang sedang mengutuki orang lain yang membuatnya kesal.


“Wah… sepertinya asyik sekali obrolan kalian. Boleh bergabung?” Suara ramah dari seseorang yang tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah para pria tampan itu langsung membuat Ornado dan yang lain memandang ke arah pemilik suara itu.