
“Jika melihat sekilas, aku benar-benar tidak mengerti adanya hal yang aneh dengan foto-foto ini. Di sini hanya menunjukkan bagaimana parahnya kecelakaan mobil yang ditumpangi oleh kedua orangtuamu saat kejadian kecelakaan itu, sehingga menimbulkan efek yang begitu parah pada mobil yang ditumpangi kedua orangtuamu, dan membuat mereka berdua tidak selamat waktu itu.” Niela memberikan komentarnya setelah cukup lama mengamati foto-foto kecelakaan itu.
“Aku juga merasa seperti itu, Sehingga aku kadang berpikir bahwa orang yang mengirim pesan ini hanyalah orang iseng yang sedang bermain-main saja. Namun melihat dia bisa menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi malam itu, seolah dia terlibat di dalamnya, membuat aku merasa dia benar-benar serius dengan pesan-pesan yang ditulisnya.” Jeremy kembali berkata sambil mengambil kembali handphonenya yang disodorkan oleh Nilela kepadanya.
“Aku setuju dengan pendapatmu. Tapi Jer, coba serahkan foto-foto itu pada detektif. Kita orang awam , mungkin memang tidak bisa mengerti dimana letak hal yang aneh pada foto-foto itu. Namun detektif mungkin bisa menemukan hal-hal aneh tersebut.” Perkataan Nilea membuat Jeremy mengernyitkan dahinya, dan terdiam untuk beberapa saat.
“Sepertinya apa yang baru kamu katakan cukup masuk akal. Aku akan segera mengaturkan itu secepatnya.” Jeremy berkata sambil mencari kontak nama seorang detektif yang cukup dikenal baik olehnya, karena orangtuanya merupakan teman yang cukup dekat dengan orangtua Jeremy dulu ketika masih hidup.
Selain mengenal dengan baik detektif itu, Jeremy beberapa kali emmang pernah menggunakan jasanya, berhubungan dengan penipuan perhiasan yang pernah dilakukan salah satu rekan bisnisnya, dan juga pencurigan desain perhiasan yang pernah dilakukan oleh salah satu anak buahnya.
Dan Jeremy cukup puas dengan hasil kerja detektif itu, sehingga tanpa ragu namanya menjadi yang pertama diingat oleh Jeremy hari ini, meskipun sebenarnya ada beberapa nama detektif yang cukup terkenal yang dikenalnya dulu ketika dia sedang mencari-cari jasa detektif untuk membantunya.
Untuk beberapa saat Jeremy menghubungi detektif itu dan menceritakan tentang pesan-pesan, juga foto-foto yang dia terima selama beberapa waktu ini, yang seringkali memberitahukan dengan kalimat tersirat, bahwa kematian orangtuanya karena kecelakaan waktu itu memang sengaja dilakukakan oleh seseorang.
Termasuk isi dari pesan-pesan itu, yang menyatakan bahwa seseorang sedang mengincar keselamatan Deanda dan orang-orang yang ada di dekatnya, sekilas Jeremy menjelaskannya kepada detektif itu.
Niela sendiri memilih untuk mengamati berkas di meja Jeremy yang berisi tentang surat-surat kontrak bahan baku perhiasan seperti mutiara, berlian, permata yang harus ditandatangani oleh Jeremy, sambil menunggu Jeremy menyelesaikan panggilan teleponnya.
“Aku sudah menghubunginya, dia bilang secepatnya akan berusaha membantuku menyelidiki kasus ini. Hanya saja, dia bilang akan sedikit sulit untuk menemukan bukti dan hasil pemeriksaan polisi waktu itu, karena kasus ini sudah cukup lama berlalu. Dia khawatir, berkas-berkas yang ada sudah tidak lagi lengkap, dan sulit ditemukan. Apalagi jika pelakunya merasa terancam dan menemukan cara untuk menghilangkan jejak dan bukti-bukti yang ada. Untuk sementara ini, dia bilang aku harus bersikap seperti biasa, agar pelaku tidak merasa curiga ada seseorang yang sudah mengirimkanku pesan berantai.” Penjelasan Jeremy membuat Niela menghela nafasnya.
"Dan lagi, dia mengatakan bahwa kita belum tahu apa modus dari pemberi pesan tidak bertuan itu kepadaku. Jangan-jangan dia yang justru sedang berniat jahat padaku dan Cladia. Sebelum semuanya jelas, dia meminta aku untuk tetap tenang dan tidak menanggapi pesan-pesan itu apalagi dengan emosi." Jeremy melanjutkan bicaranya sambil menatap wajah Niela dalam-dalam.
Dengan gerakan pelan, Jeremy mengelus pipi Niela yang dia tahu, dari wajahnya terlihat cukup khawatir dengannya dan Cladia.
Mendengar perkataan Niela, Jeremy langsung berjalan mendekat ke arah Nilea, merengkuh kedua bahunya dan memeluknya dengan erat.
“Dan kebahagiaanku akan semakin sempurna, dengan adanya kamu yang sebentar lagi akan selalu mendampingiku sebagai istriku, wanita yang paling aku cintai.” Setelah menyelesaikan kata-katanya, Jeremy mengecup lembut kening Niela yang langsung menyambut ucapan cinta Jeremy dengan sebuah senyuman bahagia, dan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Jeremy.
“Tapi Jer, kapan kamu berencana menceritakan tentang pesan-pesan itu kepada Ornado? Apalagi, salah satu pesan itu juga menyebutkan jika kamu tetap diam, semua orang yang ada di dekat Cladia akan terluka, termasuk suaminya? Bukankah itu berarti Ornado juga akan dalam bahaya?” Niela kembali mengingatkan Jeremy tentang rencananya untuk memberitahukan kepada Ornado tentang masalah pesan-pesan tidak bertuan yang memang seringkali menyebutkan bahwa Cladia sedang dalam bahaya karena seseorang sedang mengincarnya.
“Tunggulah sebentar lagi. Ornado dan Cladia sedang menikmati liburan mereka. Kamu tahu sejak kejadian hari itu, pergi berlibur bersama orang lain, adalah hal yang tidak pernah dilakukan oleh Cladia. Setelah Ornado berhasil menghilangkan traumanya sedikit demi sedikit, baru Cladia bisa menikmati segarnya udara di luar sana. Aku tidak ingin berita ini merusak waktu liburan mereka, apalagi merusak kebahagiaan Cladia yang juga baru saja pulih dari amnesianya.” Jeremy menghentikan bicaranya sambil tangannya mengelus lembut rambut di kepala Niela.
“Biarkan mereka menikmati liburan mereka dahulu. Nanti sepulang dari sana, pelan-pelan aku akan mencoba menceritakan hal ini pada Ornado dan menyakan tentang pendapatnya. Aku harap Ornado bisa membantuku memecahkan masalah ini. Dan aku sungguh berharap, Ornado tidak melakukan sesuatu yang ekstrim yang bisa membuat kebebasan Cladia terpenjara, meskipun dengan alasan untuk melindungi Cladia. Kamu tahu bagaimana sikap Orando terhadap Cladia, yang menganggapnya jauh lebih berharga dari dirinya sendiri.” Jeremy melanjutkan kata-katanya.
“Aku harap kita sama-sama bsia mengatasi semuanya dengan baik, tanpa menyakiti apalagi membahayakan siapapun.” Niela berbisik pelan sampil menyandarkan kepalanya ke dada bidang calon suaminya itu, dengan bibir mendesah pelan untuk melepaskan beban yang menghimpit dadanya.
Bagi Nilea yang sejak beberapa waktu ini menjadi sahabat Cladia, sekaligus kekasih Jeremy, dia sudah cukup melihat bagaimana kedua kaka beradik itu berjuang untuk kehidupan mereka berdua, tanpa bantuan dari orangtua yang sudah meninggal sejak mereka masih begitu muda.
Dan selama ini, mereka juga hidup dan mengurus bisnis keluarga mereka tanpa bantuan dari saudara-saudara mereka yang lain.
Semua mereka lakukan dan lalui berdua. Entah itu kebahagiaan, masalah ataupun kesedihan, sehingga membuat Niela begitu menyayangi kedua kakak beradik itu, yang baginya merupakan orang-orang yang hebat dalam menjalani hidup mereka sendiri sejak di usia yang terbilang masih sangat muda.