My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
TRAGEDI BIBIR SAPI



"Itu namanya rujak cingur Al. Mungkin bisa dibilang seperti campuran antara salad buah dan sayur, tapi sayurnya direbus sampai matang, dan bumbu sausnya berasal dari berbagai macam bahan, termasuk petis yang membuatnya berwarna hitam sekaligus menimbulkan bau khas yang memang sedikit menyengat." Mendengar perkataan Cladia, Ornado berusaha keras untuk tidak bergidik, sambil tangannya mengaduk pelan rujak cingur di depannya dengan sendok.


Aist.... entah bagaimana rasa makanan ini. Tapi melihat amore mio memakannya dengan lahap, mungkin rasa makanan ini tidaklah seburuk yang aku bayangkan.


Ornado berkata dalam hati sambil menyendok irisan ketimun yang terlihat hanya terkena sedikit bumbu, untuk mencicip makanan itu.


"Emmmm, rasane sedikit aneh bagiku, tapi cukup enak. Segar, pedas, gurih manis, asin, asam, jadi satu." Ornado berkata dengan suara pelan kepada Cladia yang langsung tersenyum mendengar bagaimana komentar Ornado tentang makanan di depannya.


Satu persatu Ornado mulai mencicip bagian-bagian dari rujak itu, sampai dia memakan sesuatu yang terasa kenyal dan sedikit aneh bagi mulutnya.


"Amore mio...." Panggilan lembut dari Ornado membuat Cladia yang sudah menghabiskan makanannya dan sedang menikmati es kelapa muda dicampur dengan irisan jeruk nipis menghentikan kegiatannya dan membersihkan bibirnya dengan tissue yang diambilnya dari dalam saku blazernya.


"Kenapa Al?"


"Ini...." Ornado menyendok sesuatu dari dalam piringnya dan menunjukkannya kepada Cladia, sebuah potongan berbentuk kotak, dengan warna coklat dan terasa kenyal saat tadi Ornado mencoba memakannya.


Melihat Ornado menyodorkan potongan cingur itu padanya, Cladia tersenyum dengan kedua alisnya naik ke atas, meminta penjelasan kepada Ornado kenapa laki-laki itu menunjukkan potongan cingur itu padanya.


"Apa ini amore mio? Rasanya... sedikit aneh dan membuatku merasa sedikit geli." Cladia hampir saja tidak bisa menahan tertawa mendengar perkataan dari Ornado, yang bagi Cladia hari ini terlihat begitu innocent wajahnya, membuatnya merasa sedikit gemas.


Ornado yang biasanya tampil berwibawa dan percaya diri, saat ini dengan tatapan polosnya sedang menatap ke arah Cladia yang tanpa sadar hampir membuat tangannya bergerak untuk mengelus wajah tampan suaminya.


Untungnya Cladia cukup sadar diri bahwa saat ini mereka sedang berada di tempat umum, sehingga dia mencegah dirinya sendiri melakukan hal seperti itu jika tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri.


Di negara Eropa seperti Italia, Cladia tahu pasangan suami istri, bahkan yang masih sebatas hubungan kekasih, terbiasa memamerkan kemesraan mereka dengan pasangannya. Tapi di negara ini, bagi Cladia hal seperti itu akan jadi bahan pembicaraan orang lain. Dan Cladia bukan tipe orang yang suka jika menjadi bahan pembicaraan orang lain, karena dia sendiri boleh dibilang tidak suka bergosip.


Cladia yang pada dasarnya seorang wanita pendiam dan karena traumanya tidak memiliki banyak teman, membuat dia selalu berhati-hati dalam bertindak di depan umum, berbanding terbalik dengan Ornado yang tidak pernah canggung menunjukkan kemesraan dan cintanya di depan banyak orang.


"Al... itu dinamakan cingur, sebuatan lain dari bibir sapi." Mata Ornado melotot sempurna mendengar penjelasan dari Cladia, tanpa bisa menyembunyikan wajah jijiknya.


"Bi... bibir apa? Bibir sapi?" Melihat anggukan kepala dari Cladia setelah mendengar pertanyaan darinya hampir saja membuat Ornado memuntahkan isi perutnya.


Bibir sapi? Yang benar saja? Kenapa aku harus makan bibir sapi? Akh...


Ornado berkata dalam hati dengan wajah terlihat frustasi, membuat Cladia langsung meraih tangan Ornado, meletakkan sendok yang tadi dipegangnya, dan menjauhkan piring berisi rujak itu dari hadapan Ornado, mendekatkan ke arahnya sendiri.


"Al, minum ini biar segar." Cladia menyodorkan gelas berisi es kelapa muda ke arah Ornado yang langsung bergegas meneguknya dan mengunyah daging kelapa muda dalam es dengan sikap sedikit terburu-buru, untuk menghilangkan rasa dari cingur yang dia makan sebelumnya.


Sebuah rasa asing yang masih belum bisa diterima Ornado, apalagi mengetahui bahwa yang barusan dia makan adalah bagian dari bibir sapi.


"Ah...." Ornado sedikit menarik nafas lega setelah kesegaran es kelapa muda yang diminumnya membuatnya merasa lebih nyaman, menghilangkan keinginannya untuk muntah karena jijik.


Membayangkan apa yang baru dimakannya adalah bibir sapi membuat perut Ornado seperti diaduk-aduk.


"Kamu tidak suka ya? Maaf ya, karena mengantarku, kamu jadi terpaksa tidak bisa menikmati makan siangmu dengan enak." Cladia berkata sambil mulai lagi memakan rujak dari piring Ornado yang masih banyak karena Ornado menghentikan makannya begitu mendengar tentang cingur.


Amore mio, kamu sepertinya begitu menginginkan makanan itu, sampai milikku juga kamu ambil. Aist... kalau saja tadi dia tidak menyebutkan tentang bibir sapi, mungkin aku juga akan menghabiskan makanan aneh itu. Dan celaka jika setelah menghabiskannya, amore mio baru mengatakan tentang bibir sapi itu. Bisa-bisa aku benar-benar muntah. Aku harap bayi kita baik-baik saja di dalam sana, jangan sampai dia ikut mendengar tentang bibir sapi dan mual karena itu.


Ornado berkata dalam hati sambil menarik nafas lega tanpa sepengetahuan Cladia, karena masih sedikit rujak yang dia makan.


"Tenang saja amore mio, selagi kamu dan bayi kita senang. Nikmati saja makan siangmu. Aku yakin melihatmu begitu menikmati makanan itu, bayi kita di dalam sana juga ikut merasa senang. Aku akan segera meminta Fred agar mengaturkankan makan siang untukku." Ornado segera memberikan tanda kepada Fred agar mendekat padanya, lalu membisikkan sesuatu di telinga asisten pribadinya itu, yang dengan sikap sigap langsung mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda mengerti dengan tugas yang diberikan oleh Ornado barusan.


Tanpa menunggu lama, begitu Ornado selesai mengucapkan perintahnya, Fred langsung pergi menjauh, dan melakukan panggilan telepon untuk mengatur makan siang untuk Ornado.


# # # # # # #


Ornado memasuki ruang kantor Cladia yang jika dibandingkan dengan miliknya terlihat jauh lebih kecil dan juga jauh lebih sederhana, namun bagi Ornado tempat itu terasa begitu nyaman baginya karena keberadaan Cladia di sana.


Suara panggilan telepon membuat Ornado menghentikan rencananya untuk langsung duduk di sofa yang di depannya sudah tersaji rapi berbagai makanan yang tampak menggugah selera.


"Ah..." Sebuah senyum cerah segera terlihat di wajah Ornado begitu melihat siapa yang menghubunginya.


"Apa kabar Yang Mulia?" Alvero yang mendengar sapaan dari Ornado langsung tersenyum lebar.


"Baik sekali. Bagaimana denganmu Ad?"


"Tentu saja tidak akan kalah baik dengan kabarmu Alvero."


"Syukurlah.... sekarang aku bisa menikmati hari-hari tenang di Gracetian semua berkat bantuanmu yang besar saat itu." Perkataan Alvero membuat Ornado tersenyum, ikut merasa bahagia saat ini sahabatnya bisa menikmati kehidupannya di Gracetian tanpa diikuti bayangan pemberontakan dari Eliana dan antek-anteknya.


"O, ya terimakasih untuk hadiah besarmu Ad. Duke Evan sudah mengurusnya dengan baik." Alvero langsung berterimakasih begitu mengingat tetang kiriman senjata canggih yang seharusnya dipergunakan oleh kelompok pemberontak untuk melawan pemerintahan resmi negara Gracetian.


Setelah Ornado melakukan sabotase terhadap senjata-senjata itu, Ornado sengaja mengaturkan agar senjata itu diserahkan kepada pemerintah Gracetian secara resmi, dan Alvero baru saja menerima kabar dari Evan bahwa senjata-senajta itu baru datang dua hari lalu di Gracetian.


Ternyata setelah Ornado mengganti semua senjata itu dengan mainan anak-anak, beberapa waktu kemudian Ornado sengaja menyimpan senjata itu untuk sementara waktu agar bisa diberikannya kepada Alvero sebagai hadiah sekaligus sebagai kenang-kenangan tentang peristiwa hari itu.


Peristiwa yang membuat sejarah baru di Gracetian, karena bukan hanya membuat para pemberontak dikalahkan, tapi keluarga Alvero kembali bersatu. Sebuah akhir yang bahagia bagi Alvero dan Deanda.