
“Eh… Ehmmm… belum….” Dengan sikap ragu dan gugup, Elenora menjawab pertanyaan James yang tidak mungkin dijawabnya tidak, karena saat ini, perutnya juga sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kelaparan, apalagi pikirannya tadi sempat terkuras saat mengerjakan sistem pengamanan untuk mencegah hacker berhasil menembus dan meretas data, sehingga dia butuh asupan makanan saat ini.
“Oke, aku akan meminta awak kabin untuk menyiapkan makan siang kita. Aku juga belum sempat makan siang tadi.” James menjawab dengan santai dan langsung memencet tombol yang ada di dekat kursinya untuk memanggil awak kabin agar bisa melayani makan siang mereka.
(Saat ini mulai banyak maskapai yang mengganti sebutan pramugari dan pramugara dengan awak kabin (cabin crew) atau flight attendant.
Tugas utama seorang awak kabin adalah menjaga keselamatan dan melayani penumpang ketika ada kendala terutama di dalam kabin pesawat. Hal ini dilakukan supaya penumpang bisa menikmati perjalanan dengan nyaman. Pada saat keadaan darurat, pramugari/pramugara harus mengambil keputusan dengan kepala dingin untuk menjamin keamanan dan keselamatan penumpang. Mengingat profesi ini bukanlah pekerjaan yang mudah, maka setiap calon pramugari/pramugara harus menjalani pelatihan intensif terlebih dahulu di training center milik maskapai penerbangan. Di samping pelayanan dengan penuh perhatian dan kepedulian, pekerjaan ini memerlukan kemampuan penanganan yang tepat dan pengambilan keputusan secara logis dan rasional).
Tanpa perlu menunggu lama, dua orang awak kabin segera datang menemui James dan menanyakan apa yang bisa dibantu.
"Selamat siang Pak James, apa yang bisa kami bantu?" Salah satu dari awak kabin itu bertanya dengan sikap ramah.
"Tolong siapkan makan siang untuk kami." James berkata sambil melirik Elenora yang hanya terdiam di tempatnya.
Melihat itu, James langsung memesan beberapa masakan yang membuat Elenora mengernyitkan keningnya.
"Eh... Pak James... Apa itu tidak terlalu banyak?" Dengan nada pelan, Elenora bertanya karena kaget dengan banyaknya makanan yang dipesan oleh James, seolah mereka sedang makan siang bersama dengan sekelompok teman, padahal saat ini mereka hanya berdua.
"Apanya yang terlalu banyak? Aku tidak tahu makanan apa yang kamu suka, jadi aku memesan beberapa alternatif supaya kamu bisa memilihnya nanti." Dengan santai James menjawab pertanyaan Elenora yang langsung memandang ke arah awak kabin yang tadi mencatat pesanan James.
"Ah, aku bisa makan apa saja selama itu bukan racun. Buatkan saja satu jenis makanan, yang simpel saja, mungkin nsepiring nasi goreng atau mie goreng sudah cukup, dan sebotol air mineral dingin untukku." Mata James langsung melotot mendengar permintaan dari Elenora kepada awak kabin.
"Haist, pantas saja tubuhmu ringan seperti bulu, ternyata makananmu hanya sekedar makanan yang bisa masuk ke perut tanpa mempertimbangkan gizinya." James berkata sambil melirik tajam ke arah Elenora yang merasa begitu canggung karena James yang meliriknya dari atas kepala sampai kakinya, seolah mata James membuatnya merasa ditelanjangi.
"Tapi... tidak ada yang salah dengan sepiring nasi goreng dan mie kan?" Elenora mencoba untuk tetap bersikeras, karena jujur saja, dia benar-benar tidak yakin bisa menghabiskan semua makanan yang sudah dipesan oleh James.
"Untuk hari ini, perbanyak makan protein, untuk membentuk otot tubuhmu supaya tubuhmu tidak seperti anak SD." James berkata sambil menahan senyumnya, apalagi perkataannya sudah berhasil membuat mata Elenora melotot dengan kaget karena bentuk tubuhnya yang dianggap seperti anak SD.
James sendiri harus sedikit mengalihkan pandangan matanya dari sosok Elenora, yang meskipun dia katakan seperti anak SD, dengan pakaian yang dikenakannya saat ini, meskipun bukan pakaian yang sangat ketat, James bisa membayangkan keindahan tubuh yang ada di balik kain itu.
Apalagi, saat tadi pagi ketika Elenora terpeleset dan dia memeluknya, tangan James yang menahan tubuh Elenora, dan karena dekatnya tubuh mereka, membuat dada James sempat bersentuhan dengan tubuh Elenora yang membuat James tahu bahwa tubuh Elenora terbentuk sempurna sebagai seorang gadis dewasa.
Begitu sadar atas pikirannya yang sudah mulai mengelana kemana-mana, James langsung merutuk dirinya sendiri dalam hati.
Meskipun selama ini banyak gadis cantik di sekitarnya, yang juga berteman dengannya, termasuk para model cantik yang merupakan teman-teman seprofesi Amadea, dengan gaya berpakaian mereka yang kadang sengaja menggunakan kain seminim mungkin, tidak ada satupun yang pernah membuat pikiran James mengelana seperti itu, tapi Elenora....
James hampir saja memukul kepalanya sendiri untuk mengendalikan pikirannya kalau tidak ingat bahwa saat ini di depannya berdiri dua awak kabin yang sedang menunggu keputusannya, dan di sampingnya duduk gadis yang sudah berhasil membuat pikirannya kacau.
"Sepiring nasi goreng juga sudah cukup mengandung protein." Elenora kembali menjawab perkataan James, karena Elenora yakin, di dalam pesawat jet pribadi yang semewah ini, tidak mungkin sepiring nasi goreng akan disuguhkan tanpa protein, minimal sebutir telur, itu yang ada di benak Elenora.
Meskipun pada kenyataannya, di pesawat itu, sepiring nasi goreng itu akan disuguhkan oleh awak kabin lengkap dengan ayam, udang, potongan cumi-cumi, dan juga telur mata sapi yang akan dibentuk dengan indah saat disajikan.
"Turuti saja permintaanku. Suupaya otakmu juga bisa bekerja dengan baik nanti." Perkataan James, lagi-lagi membuat Elenora melotot.
"Itu juga tidak ada ...."
"Buatkan semua makanan yang tadi aku pesan. Jangan perdulikan pesanan dia." Tanpa perduli, James langsung memotong perkataan Elenora sambil memandang ke arah awak kabin yang sebenarnya bingung dengan perdebatan mereka berdua, namun tetap menyungingkan senyum di wajahnya.
Dan jika harus memilih, tentu saja awak kabin itu akan memenuhi permintaan James tanpa perbantahan sama sekali.
"Segera kerjakan saja semua yang aku minta tadi dengan cepat, aku juga sudah lapar." James berkata tegas untuk menutup kesempatan bagi Elenora untuk membantahnya.
Setelah mendengar keputusan akhir dari James, kedua awak kabin itu segera berlalu, sedang James langsung melirik ke arah Elenora yang menyibukkan diri dengan sebuah majalah fashion yang tadi ditemukannya di bagian samping tempat duduknya.
Begitu James duduk tepat di sampingnya, Elenora yang tampak gugup berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mencari sesuatu di seklilingnya yang bisa membuatnya terlihat sibuk, sehingga James tidak menyadarai bagaimana salah tingkahnya dia saat ini karena keberadaan James di sampingnya.
Dan setelah matanya melihat ada sebuah majalah terselip, tanpa perduli majalah tentang apakah itu, Elenora segera menariknya keluar dan membukanya setelah meletakkannya di atas kedua pahanya.
"Sejak kapan kamu mulai tertarik dengan majalah fashion? Apa Cladia yang mengajarimu tentang itu?" James berkata sambil melirik ke arah majalah yang sedang terbuka di depan Elenora, yang kebetulan di halaman itu terpampang foto Serafina yang sedang mengenakan pakaian musim semi dari sebuah brand pakaian yang cukup terkenal.