
"Tentu saja Dave masih berlibur bersama denganku. Dia tidak mungkin meninggalkan istrinya seorang diri bersenang-senang tanpanya, kalau tidak ingin ada yang tiba-tiba ingin mengambil istrinya." Laurel berkata sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana yang sedikit tegang karena peristiwa sebelumnya, tapi juga tidak memberikan kesempatan pada Dario untuk melakukan sesuatu pada Cladia di luar batas.
Dan Laurel tidak perlu terlalu khawatir karena beberapa orang pengawal, termasuk Ernest dan Erich yang merupakan pengawal pribadi raja Gracetian juga sudah ada bersama mereka.
"Seperti kataku tadi, sepertinya bukan suatu kebetulan kamu ada di tempat ini. Apa proyek bisnismu direncanakan akan dikembangkan di tempat ini? Atau kamu sedang ada janji temu dengan seseorang?" Dario yang bisa melihat tatapan menyelidik dari Laurel langsung mengembangkan senyum di bibirnya, dengan matanya melirik ke arah Cladia yang memilih diam dan memandang ke arah lautan lepas di depannya, berharap Ornado segera datang padanya.
Di satu sisi, Cladia bisa menjadi wanita mandiri yang biasa melakukan banyak hal tanpa tergantung pada orang lain, tapi karena traumanya, ketergantungannya terhadap Ornado yang selalu melindunginya jadi begitu tinggi jika itu berhubungan dengan rasa aman dari ketakutannya jika berada di dekat laki-laki lain.
Asal ada Ornado di dekatnya, Cladia merasa lebih percaya diri jika berada di keramaian atau ada laki-laki lain di sekitarnya.
"Hari ini aku akan pergi meninggalkan Bali. Dan untuk beberapa lama aku akan kembali ke Italia, karena itu aku mencari kesempatan untuk mengucapkan terimakasihku karena selama di Indonesia beberapa waktu lalu Cladia sempat membiarkanku menumpang di rumahnya." Dario berkata sambil menggerakkan tangannya ke arah Dante yang langsung menyodorkan sebuah kotak berlapis berludru berwarna merah.
"Tolong terima ucapan terimakasihku yang tidak seberapa ini, tapi ini benar-benar untuk menunjukkan ketulusan hatiku, agar ke depannya hubungan kita bisa semakin baik."
Begitu menerima kotak berlapis kain beludru itu dari Dante, Dario berkata sambil menyodorkan kotak itu ke arah Cladia yang akhirnya mau tidak mau menerima pemberian Dario dengan sikap ragu, dan juga sangat berhati-hati agar ujung-ujung jarinya tidak menyentuh jari-jari Dario.
Laurel maupun Deanda tampak menahan nafasnya dengan wajah tegang melihat bagaimana Cladia yang dengan sikap terpaksa menerima kotak berlapis kain beludru itu.
Dan ketika Cladia merasakan bahwa kemungkinan dia tidak bisa menghindari sentuhan jari tangannya dan Dario, dengan reflek Cladia melepaskan kotak itu, membuat Dante yang ada di dekat mereka bergerak cepat, bermaksud menahan tangan Cladia, yang terlihat hampir berteriak histeris kalau saja Ornado tidak langsung berdiri di sampingnya dan memeluknya, sambil mengelus lembut punggungnya.
"Tenanglah amore mio. Ada aku di sini." Ornado langsung berbisik pelan sambil mengecup puncak kepala Cladia, seolah lupa bahwa pakaiannya yang masih basah saat ini membuat Cladia juga terkena imbasnya.
Cladia sendiri tanpa perduli dengan pakaian renang Ornado yang masih basah, kedua tangannya langsung memeluk erat lengan kanan Ornado yang memeluknya dari arah samping, sambil telapak tangannya merangkum kepala Cladia, mendekat ke arah tubuhnya.
Sedang tangan kiri Ornado, masih terus mengelus lembut punggung Cladia.
Dario sendiri begitu melihat kejadian itu dengan spontan langsung menendang tangan Dante, membuat laki-laki bertubuh kekar itu mundur beberapa langkah ke belakang sambil memegang tangannya yang terkilir akibat tendangan Dario.
Tuan Dario....
Dario langsung bergumam dalam hati, dengan sikap kebingungan karena mendapatkan serangan dari Dario barusan.
“Jangan berani bersikap kurangajar terhadap nyonya Cladia!” Dario langsung menegur Dante yang tampak menelan ludahnya karena heran dengan sikap Dario padanya.
Sejak beberapa tahun lalu, Dante hanyalah anak muda tanpa tujuan hidup, yang hampir saja bunuh diri karena sudah tidak tahan dengan siksaan yang dia alami oleh ayah tirinya, dan juga saudara-saudaranya yang lain.
Dante dilahirkan dengan wajah cacat karena banyaknya obat-obatan yang dikonsumsi oleh ibunya semasa kehamilannya. Dan itu menyebabkan banyak orang selalu mengejek dan menghinanya, menjadikannya bulan-bulanan dengan menjadikannya seperti barang yang dengan mudah dipukuli dan diperlakukan seenaknya.
Saat itu Dante ingat dengan jelas bagaimana Dario yang menyelamatkannya dari hajaran teman-teman sekolahnya yang selalu meneriakinya dengan sebutan “monster,” sambil menendang dan memukulinya sesuaka hati mereka.
Begitu Dario menghajar mereka semua, Dario langsung membawa Dante ke rumah sakit terbaik, mengobatinya, bahkan membiayai operasi plastik pada wajahnya, sehingga dia bisa hidup dengan wajah normal.
Dario membuat hidup Dante berubah 180 derajat. Tidak kekurangan uang, bisa tampil bergaya dengan pakaian-pakaian mewah, makan enak, tempat tinggal mewah, karena Dario menjadikan Dante orang kepercayaannya dengan semua pelatihan yang diberikan Dario untuk Dante.
Bahkan Dario memberikan kesempatan kepada Dante untuk membalaskan dendam kepada orang-orang yang sudah menyakitinya, termasuk ayah tirinya yang akhirnya mati mengenaskan dengan puluhan tusukan pisau yang dilakukan oleh Dante dengan tangannya sendiri, bahkan tanpa mengedipkan matanya sedikitpun saat menghujamkan pisau itu pada tubuh ayah tirinya.
Beberapa orang teman yang pernah membullynya, dibuat cacat oleh Dante.
Dan semua kejahatan yang dilakukan Dante, terhapus begitu saja karena bantuan Dario, sehingga sampai saat ini Dante tetap hidup dengan nyaman tanpa khawatir tentang semua kejahatan yang sudah dia lakukan.
Jika dulu Dante selalu bergantung pada Dario dan semua masalah yang ada padanya selalu diselesaikan oleh Dario.
Namun, untuk sekarang ini, Dario hanya perlu memerintahkan apa saja pada Dante, dan Dario akan mendapatkan apa saja yang diinginkannya tanpa perlu susah payah melakukannya sendiri.
Sejak awal, Dario sendiri yang melatih dan menggembleng Dante dalam banyak hal, termasuk bagaimana bersikap kejam dan licik.
Dan menjadikan Dante satu-satunya orang yang tidak pernah mendapatkan bentakan ataupun terguran, apalagi pukulan secara fisik dari Dario yang menganggap Dante sebagai sosok penting dalam hidupnya, yang setia menemani dan melakukan apa saja yang diperintahkan Dario padanya.
Karena itu, begitu tadi Dante mendapatkan tendangan telak di pergelangan tangannya, dan melihat tatapan penuh kemarahan dari seorang Dario padanya karena seorang wanita benama Cladia itu, sungguh Dante merasa tidak terima.
Namun, Dante berusaha menenangkan dirinya dengan sedikit menundukkan kepalanya dan mundur beberapa langkah ke balakang, berharap bahwa apa yang baru dilihatnya dari Dario tadi hanyalah perasaannya saja, karena baginya, Dario yang seperti malaikat untuknya, tidak mungkin bersikap kasar padanya hanya demi seorang wanita.