My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KEKECEWAAN DARIO



“Hallo, selamat sore semua.” Suara Leo yang baru saja masuk dengan langkah sedikit bergegas setelah menerima pesan singkat dari Evelyn, langsung terdengar ramah menyapa semua yang ada di situ.


Suara ramah dari Leo yang masih mengenakan snellinya (jas dokter), membuat yang lain langung memandang ke arahnya dan tersenyum untuk membalas sapaan dari Leo, termasuk Evelyn yang langsung menatap ke arah kekasihnya itu dengan pandangan kagum dan terpesona.


“Maaf aku sedikit terlambat, baru saja ada pasien masuk IGD yang perlu aku tangani kondisinya dengan cepat karena mengalami fraktura terbuka akibat kecelakaan lalu lintas yang dialaminya.” Leo berkata sambil memandang Cladia dan Ornado secara bergantian sambil menganggukkan sedikit kepalanya, setelelah itu memandang ke arah Dave dan Laurel sekilas.


(Kelainan pada tulang akibat kecelakaan yang mengakibatkan patah tulang disebut fraktura. Fraktura merupakan salah satu kelainan pada tulang dimana tulang patah karena sebab tertentu. Fraktura terbuka, kondisi di mana patah tulang menyebabkan tulang menonjol atau mencuat keluar kulit. Fraktura tertutup, di mana patah tulang tidak sampai menyebabkan tulang keluar kulit).


Walaupun menjadi yang terakhir ditatapnya, tanpa lupa Leo melirik ke arah Evelyn dan melemparkan senyum penuh cintanya kepada gadis yang akan menjadi calon istrinya itu.


Dan tentu saja senyum Leo langsung dibalas dengan sebuah senyuman manis dari Evelyn.


“Tidak masalah Leo, justru setelah ini kami yang merepotkanmu. Mau meminta tolong padamu mengantar Cladia pulang bersama Evelyn.” Ornado langsung menanggapi permintaan maaf Leo.


“Ah, tenang saja Ad. Evelyn sudah memberitahukan hal itu padaku. Kenapa harus merasa sungkan seperti itu kepadaku.” Leo berkata sambil melepaskan snelli yang dikenakannya.


Dengan cepat Evelyn mendekat ke arah Leo dan meraih snelli milik Leo, sebelum Leo sempat melipatnya.


Dan dengan gerakan yang terlihat fasih, Evelyn melipat rapi snelli milik Leo dan menggantungkannya di lengan tangan kirinya sendiri, untuk menggantikan Leo.


“Thank you my princess.” Leo menggerakkan bibirnya mengucapkan kata thank you kepada Evelyn tanpa mengeluarkan suaranya dengan tatapan mata terlihat bahagia saat menatap ke arah Evelyn yang sudah membantunya melipat snelli miliknya.


Sejak menjadi kekasih Leo, Evelyn memang seringkali melakukan hal-hal yang menunjukkan bagaimana dia sebagai seorang putri dari keluarga kaya raya tetap menghargai posisi Leo sebagai calon suami, calon kepala rumah tangga milik mereka kelak.


Dan setiap perhatian, tindakan sayang dan bagaimana Evelyn menunjukkan begitu menghargai dan tidak segan-segan melayani Leo, membuat dokter yang merupakan tangan kanan Dave itu semakin hari semakin mencintai Evelyn dan ingin secepatnya menjadikan gadis cantik itu sebagai pendamping hidupnya.


Tindakan Evelyn dan Leo membuat yang lain ikut tersenyum melihat bagaimana calon pasangan pengantin itu terlihat sudah begitu kompak dan saling mendukung satu sama lain, bahkan sebelum mereka benar-benar menikah.


“Ok, kalau begitu, aku dan kak Leo akan segera mengantar pulang kak Cladia. Ayo Kak, kami akan segera mengantar Kakak sebelum Kak Ornado menarik kembali ijinnya.” Evelyn berkata sambil tersenyum geli dan menggandeng lengan tangan Cladia.


Namun hanya dua langkah, Evelyn terpaksa berhenti karena tubuh Cladia ternyata tertahan, karena tangannya yang lain masih berada dalam genggaman tangan Ornado yang terlihat belum mau melepaskannya pergi.


“Al, pergilah bersama Dave dan Laurel sekarang. Aku juga akan segera pulang diantar oleh Evelyn.” Cladia berkata sambil melepaskan tangan Ornado yang masih erat menggenggam tangannya, yang pada akhirnya mau tidak mau melepaskan tangan Cladia.


“Baiklah. Hati-hati di jalan. Seperti janjimu tadi, makan dan istirahat yang baik begitu sampai rumah. Jika tubuhmu masih terasa lemas, langsung tidur saja, tidak perlu menungguku pulang. Aku akan usahakan untuk pulang secepatnya, tapi tidak mungkin begitu sampai di sana aku langsung pulang.” Ornado berkata sambil membiarkan Cladia melepaskan tangannya dari genggamannya dengan berat hati.


“Jangan khawatir, akan aku lakukan semua yang kamu katakan.” Cladia menjawab cepat perkataan Ornado padanya.


“A dopo amore mio. Non dimenticare di avvisarmi quando torni a casa.” (Sampai nanti cintaku. Jangan lupa untuk memberiku kabar begitu sampai rumah) Ornado berkata sambil mengecup sekilas bibir Cladia dengan gerakan begitu cepat.


Cladia bahkan tidak sempat berpikir untuk menghindar.


Tindakan Ornado padanya meninggalkan semburat merah di kedua pipi Cladia, membuat yang lain sedikit tersentak sambil menahan senyumnya, melihat kemesraan Ornado yang selalu diumbarnya tanpa rasa ragu sedikitpun.


Dasar si Ad ini. Selalu saja ingin menunjukkan pada dunia bahwa Cladia adalah miliknya seorang. Dan seolah ingin memberikan peringatan kepada orang lain melalui tindakannya, bahwa jangan sampai ada seorangpun yang berani mengusik atau menginginkan Cladia, meskipun hanya sekedar dalam hati.


# # # # # # #


"Selamat malam."


"Selamat datang."


"Selamat atas rumah barunya."


"Semoga betah di sini."


"Terimakasih sudah datang."


"Selamat untuk kepindahannya."


"Rumah indah, bisnis maju."


"Semoga rencana bisnis di sini berjalan dengan lancar."


"Selamat menikmati rumah barumu Dario."


Berbagai ucapan selamat datang dari Dario, maupun ucapan selamat dari para tamu undangan terdengar silih berganti memenuhi ruang tamu dari penthouse Dario yang sudah disulapnya menjadi ruang pesta, yang mampu menampung lebih dari 300 orang karena begitu luasnya ruang tamu itu.


Meskipun sebenarnya yang diundang oleh Dario tidak lebih dari 40 orang, namun ruang tamu penthouse itu terlihat penuh karena di hampir seluruh sisi ruangan terdapat meja berisi makanan dan minuman yang tertata rapi sekaligus mewah, membuat ruangan sebesar itu tampak meriah dan tidak kosong.


"Hai Dario, selamat buat rumah barunya. Semoga membawa kesuksesan dalam rencana pengembangan bisnis barumu juga." Ornado berkata sambil memeluk Dario dengan hangat, setelah itu Fred menyodorkan sebuah tas berisi hadiah dari Ornado untuk Dario.


"Terimakaih untuk kedatangannya Ad." Dario segera membalas perkataan Orndo dengan mata memandang ke arah sekeliling Ornado, mencari sosok wanita cantik yang ingin sekali dilihatnya.


Dengan berusaha agar tidak terlihat mencolok, Dario berusaha mempertajam pandangan matanya, untuk mencari sosok Cladia yang sedari tadi sudah dibayangkannya akan bisa dia temui dan dia pastikan akan membuatnya terpesona malam ini dengan penampilan anggun dan cantiknya.


Hanya saja, pada akhirnya Dario harus menelan rasa kecewanya dengan cepat begitu menyadari sosok wanita yang sedang dicarinya itu tidak terlihat sama sekali.


"Apa terjadi sesuatu pada Cladia? Kenapa dia tidak hadir di sini? Bukannya jika dihitung-hitung, harusnya dia juga ikut senang, aku sebagai kakak iparnya membeli rumah baru seindah ini." Dario bertanya tanpa bisa menghilangkan rasa penasarannya atas ketidakhadiran Cladia, sambil melepaskan pelukannya pada Ornado yang langsung tersenyum.


"Maaf, Cladia merasa tidak enak badan, jadi dia memutuskan untuk beristirahat di rumah." Ornado menjawab sambil tersenyum.


"Apa kondisi Cladia cukup parah?" Ada sedikit nada khawatir yang terdengar dari cara Dario bertanya.


"Tidak, sebenarnya dia merasa kurang fit hanya karena efek kehamilannya. Tapi dia tidak ingin kehadirannya di pesta justru merepotkan orang lain." Ornado berkata sambil menatap lurus ke arah Dario, untuk memastikan sesuatu tentang Dario.


"Ooo..." Dario menanggapi perkataan Ornado dengan senyum di wajahnya untuk dapat menyembunyikan kekecewaannya.


Jika boleh jujur, bagi Dario, tamu yang paling dia harapkan untuk hadir di pestanya malam ini adalah Cladia. Tapi ternyata wanita itu tidak datang, karena sedikit banyak, dia ingin memamerkan keindahan dan kemewahan penthouse baru miliknya ini kepada Cladia.