
Sedikit goncangan yang terjadi pada badan pesawat karena proses pendaratan, membuat Elenora tersentak kaget dan terbangun dari tidurnya.
Begitu Elenora membuka matanya yang terpejam dengan sempurna, Elenora yang menyadari bahwa dia sedang bersandar di bahu seseorang , membuatnya hampir melompat dari tempat duduknya.
A... apa yang sudah aku lakukan? Bagaimana bisa aku begitu percaya diri melakukan hal ini pada James? Semoga dia tidak memarahiku setelah ini.
Elenora berteriak dalam hati dengan panik.
Dengan cepat Elenora berusaha mengembalikan kesadaran dirinya sepenuhnya, agar bisa segera menjauhkan kepalanya daei bahu James, yang harus diakuinya sungguh terasa nyaman.
Namun, beban suatu benda yang dirasakannya menumpu pada kepalanya yang condong ke samping kiri, membuat Elenora menghentikan rencananya untuk segera menjauh dari James.
Dengan gerakan ragu dan juga takut, Elenora sedikit menoleh ke samping, dan ternyata terlihat bahwa saat ini kepala James bersandar di atas kepala Elenora dan tertidur.
"Hah...." Elenora bergumam pelan sambil menarik nafas lega, karena ketakutan bahwa James akan memarahinya langsung berkurang begitu melihat James yang sedang tertidur dengan tenang dengan kepala bersandar ke kepalanya.
Dengan gerakan sangat pelan dan hati-hati, Elenora menyangga kepala James dengan telapak tangannya, agar dia bisa menjauhkan kepalanya dari bahu James.
Akan tetapi, meskipun Elenora mencoba melakukannya dengan sangat hati-hati, goncangan pada badan pesawat membuatnya mengerjap-kerjapkan matanya dan terbangun.
"Eh... Ele... kamu juga sudah terbangun? Apa kita sudah sampai?" James berkata pelan sambil bergerak, menegakkan tubuhnya sambil mengarahkan kedua tangannya ke depan, menariknya, diikuti dengan mulutnya yang menguap, menunjukkan kalau dia masih sedikit mengantuk.
"Ah... iya James. Kita sudah mendarat sekarang." Elenora berkata dengan sikap gugup, merasa tidak enak karena sudah berani-beraninya tidur besandar pada bahu James.
Sedang James sendiri, setelah meregangkan otot-otot tubuhnya setelah terbangun dari tidurnya, langsung tersenyum begitu melirik ke arah Elenora yang wajahnya tampak gugup sekaligus bingung, karena tidak tahu harus mengatakan apa pada James, begitu sadar dia sudah berani tidur bersandar pada bahu James.
"James... maaf... aku benar-benar tidak bermaksud bersandar padamu waktu tertidur tadi." Dengan suara dan sikap ragu, Elenora meminta maaf pada James yang justru langsung tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya.
Eh, James tersenyum? Padaku? Tidak marah? Apa aku sedang bermimpi?
Elenora bertanya dalam hati sambil matanya menatap ke arah James tanpa berkedip dengan tidak percaya karena melihat apa yang baru saja dilakukan oleh James padanya.
Tidak ada wajah marah atau kecewa pada wajah James saat ini, dan justru wajah dengan senyumnya yang menawan, yang membuat wajah James terlihat begitu tampan, dan berhasil membuat jantung Elenora kembali berdegup dengan kencang kembali.
"Apa sebaiknya aku juga minta maaf padamu? Karena aku juga tanpa sadar nsudah bersandar di kepalamu saat kita tertidur tadi." Perkataan James membuat wajah Elenora menampakkan semburat warna merah.
"Tentu saja tidak.... Kamu tidak perlu meminta maaf padaku." Elenora menjawab lirih perkataan James yang langsung tertawa kecil.
"Kalau begitu kita anggap impas saja. Bagaimana?" James bekata dengan nada santai, sambil kedua telapak tangannya terkatup, lalu saling dia gosok-gosokkan karena udara dingin dari ac yang menerpa tubuhnya yang memang tertidur tanpa selimut tadi.
Akhirnya Elenora menjawab pertanyaan James dengan menganggukkan kepalanya dengan gerakan pelan, membuat James menyungingkan senyumnya, karena sikap Elenora saat ini cukup membuatnya gemas.
"Oke, kita mampir dulu ke rumah Ornado untuk meletakkan barang-bawaanmu." Perkataan James membuat Elenora sedikit tersentak, karena dia baru ingat, bahwa sebagian barang-barangnya sudah dia letakkan di apartemen barunya.
Elenora memang sudah berencana sepulang dari liburan akan langsung tinggal di apartemennya yang baru, dan dia juga sudah berpamitan pada Ornado dan Cladia, juga sudah mendapatkan ijin dari mereka berdua.
Dan tentang kepindahannya memang Elenora belum mengatakan apapun pada James, karena Elenora mengingat bahwa dia belum memiliki hubungan apapun dengan James, sehingga merasa belum waktunya dia memberitahukan hal yang bersifat pribadi tentangnya pada James.
"Eh... tidak usah James, nanti keburu sore. Kenapa kita tidak langsung ke kantor saja? Masalah barang-barangku bisa aku bereskan nanti." James langsung mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Elenora.
"Lho, kenapa Ele? Apa tidak lebih baik kita antar barang-barangmu dulu? Supaya nanti kamu bisa langsung pulang tanpa membawa beban?"
"Tidak apa-apa, aku lebih nyaman jika setelah mengurus masalah server baru mengurus barang bawaanku."
"Atau aku minta sopir untuk mengantar barang-barangmu?" Mata Elenora langsung terbeliak mendengar penawaran dari James.
"Tidak perlu sampai seperti itu James. Apalagi mereka di perusahaan tidak ada yang tahu kalau selama ini aku tinggal di rumah Ornado. Aku tidak mau membuat rumor tidak sedap jika mereka tahu tentang hal itu." James sedikit menahan nafasnya mendengar perkataan Elenora.
Hah... Aku benar-benar lupa tentang hal itu. Bagi orang lain Elenora hanyalah seorang pegawai biasa yang tidak memiliki hubungan apapun denganku dan Ornado.
James berkata dalam hati sambil menatap pasrah ke arah Elenora, karena apa yang dikatakan oleh Elenora memang benar, dan lagian... memang dia sendiri yang sejak awal memberikan peringatan keras pada Elenora agar bertindak hati-hati agar tidak ada seorangpun di kantor yang mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya.
Dan entah kenapa, mengingat itu juga merupakan keinginan dan perintahnya pada Elenora, ada sedikit rasa nyeri di dada James mengingat hal itu, seolah ada rasa penyesalan yang begitu dalam yang menghantam dadanya.
"Kalau begitu apa rencanamu? Masa kamu mau membawa semua barang-barangmu ke kantor?" James kembali bertanya pada Elenora yang sedikit mengigit bibir bawahnya, namun sebentar kemudian dia langsung tersenyum.
"Tenang saja, aku akan menitipkan barang-barangku ke front office. Toh mereka sudah tahu kalau aku memang pergi untuk membantumu di sana." James langsung mengangkat salah satu alisnya begitu mendengar perkataan dari Elenora, rasanya ingin memberikan ide yang lebih baik.
Tapi pada akhirnya James memilih untuk diam, sambil bersiap untuk bangkit dari duduknya, karena pesawat sudah mendarat dengan sempurna, dan awak kabin sudah bersiap berdiri di samping pintu pesawat dan mempersilahkan James dan Elenora untuk turun meninggalkan pesawat.
# # # # # # #
Begitu sampai di depan gedung perkantoran Bumi Asia, Elenora langsung berjalan ke arah front office, dimana di belakang meja front office ada ruangan kecil dimana dia bisa menitipkan kopernya di sana.
Tanpa disadari oleh James maupun Elenora, beberapa mata pegawai yang berpapasan dengan mereka berdua tampak menunjukkan tatapan mata heran, kaget, ingin tahu dan selanjutnya membuat mereka saling berbisik.