My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
PARA WANITA YANG MENGAGUMKAN



Begitu juga dengan Deanda yang terlihat begitu menyukai makanan-makanan khas Bali itu, bahkan tidak menyentuh suguhan makanan Eropa sama sekali.


Deanda justru hanya membiarkan makanan khas Bali yang masuk ke perutnya pagi ini dengan wajahnya yang terlihat puas.


Untuk Alaya, jangan dibilang... dengan santainya gadis cantik itu tanpa sungkan-sungkan bahkan beberapa kali tampak berputar-putar di sekitar meja sajian, mencicipi semua yang disuguhkan tanpa dia lewatkan satupun.


Dan begitu dia merasa cocok dengan rasa makanan itu, tanpa ragu dia akan mengambil lagi dan mengulang untuk mencicipinya.


Entah itu menu Eropa ataupun Asia, semuanya bagi Alaya terlihat begitu menarik dan menggugah selera makannya pagi ini.


Apalagi suasana teduh pagi ini karena mendung menutupi langit Bali, menyebabkan suasana syahdu dan dingin, membuat rasa lapar semakin terasa.


"Ukh... maaf... aku permisi dulu...." Cladia yang awalnya merasa senang bisa menghabiskan cukup banyak makanan pagi ini, tiba-tiba harus kembali merasakan rasa mual yang mulai mengaduk-aduk perutnya.


Dengan cepat Cladia bangkit dari duduknya untuk pergi ke toilet, sebelum rasa mualnya bertambah parah dan mengganggu selera makan yang lain.


"Biar aku saja yang menemani Cladia, Ad." Ornado ikut bergerak cepat bangkit dari duduknya begitu melihat kondisi Cladia, namun Laurel segera mencegah tindakan Ornado.


"Ayo Cla, aku temani." Laurel langsung menggamit lengan Cladia yang terlihat sibuk menutupi bibirnya dengan telapak tangan kirinya.


"Apa yang terjadi Ad? Kenapa istrimu seperti itu?" Alvero yang baru saja meneguk minumannya dan melap bibirnya dengan kain, langsung bertanya dengan wajah penasarannya.


"Karena hormon kehamilannya, Cladia agak sulit makan. Ini masih lebih baik dibanding biasanya. Aku lihat tadi dia makan cukup banyak. Biasanya masih makan sedikit saja dia sudah memuntahkannya." Ornado yang sudah kembali duduk di kursinya langsung menjawab pertanyaan Alvero.


Jawaban Alvero membuat Alvero melirik ke arah Deanda yang sepertinya selama kehamilannya tidak serewel itu.


Masalah yang dialami Deanda selama dia hamil tidak banyak. Deanda hanya pernah pingsan sekali ketika bertemu dengan Alexis setelah sekian lama berpikir bahwa Alexis sudah meninggal.


Dan justru karena Deanda yang sempat pingsan saat itu, Alvero baru tahu bahwa ternyata Deanda sedang mengandung anak mereka, karena sebelumnya Deanda tidak menunjukkan tanda-tanda atau mengeluhkan apapun, dan juga tetap terlihat beraktifitas seperti biasanya.


"Untung saja semalam dia juga makan cukup banyak dan tidak muntah, sehingga pagi ini dia terlihat lebih fit." Ornado kembali menjelaskan kondisi Cladia selama masa kehamilannya.


Bagi Alvero yang sudah begitu lama tidak pernah tertarik dengan yang namanya perempuan sebelum bertemu Deanda... Setelah dia merasakan jatuh cinta pada wanita yang sekarang menjadi permaisurinya itu, Alvero selalu tertarik dengan seluk beluk kehidupan wanita termasuk masa-masa kehamilan yang menurut apa yang pernah dipelajarinya, adalah sebuah pengorbanan besar bagi seorang wanita saat dia dalam kondisi hamil.


Kadang makan tidak enak, tidur sudah tidak bisa setenang dulu apalagi jika usia kehamilan semakin tua, perut semakin buncit dan membesar.


Emosi juga jadi tidak stabil, tidak bisa lagi bersikap egois, apapun yang mereka lakukan, mereka makan, harus memikirkan bayi dalam perut mereka juga, sehinggga mereka harus bisa menjaga diri dengan baik.


Dan setelah melahirkan pengorbanan para wanita sebagai ibu akan terus berlanjut dengan proses menyusui, memandikan, dan seringkali bergadang karena bayi yang baru lahir, biasanya jam tidurnya belum bisa menyesuaikan dengan jadwal tidur orang dewasa.


Belum lagi proses kehamilan akan sedikit banyak akan mengubah bentuk tubuh seorang wanita, dan juga banyak menguras waktu dan tenaga yang dimilikinya.


Setelah banyak membaca tentang bagaimana seorang wanita yang harus banyak berkorban dalam masa-masa kehamilannya, Alvero semakin hari semakin mencintai Deanda, dan juga semakin menghormati Larena sebagai wanita yang sudah berjasa melahirkannya ke dunia ini.


"Memang kondisi itu disebut dengan morning sick, tapi tidak selalu terjadi di pagi hari. Beberapa kasus terjadi tanpa melihat waktu dan tempat. Bahkan kadang terjadi sampai melahirkan." Dave langsung memberikan penjelasan tambahan.


"Ah, sampai separah itu ya kondisinya? Kasihan sekali, dia pasti merasa tersiksa. Aku kira karena kamu terlalu bersemangat Ad semalam, karena itu Cladia jadi kurang sehat pagi ini." Kata-kata polos dari Alvero membuat Ornado melotot, hampir saja membuatnya tersedak, dan langsung meletakkan garpu dan pisau yang sedang di pegangnya.


Dengan cepat Ornado meraih minuman di depannya dengan wajah terlihat memerah.


Sedang Dave, dan laki-laki lain yang mendengar itu, termasuk Enzo, James dan Vincent langsung tersenyum geli mendengar bagaimana dengan polosnya Alvero yang selama ini tidak mengenal wanita mengatakan hal seperti itu di depan banyak orang tanpa merasa bersalah.


Deanda dan Larena langsung mengalihkan pandangan mereka, pura-pura tidak mendengar perkataan polos dari Alvero barusan.


Aduh, yang mulia ini benar-benar polos dan seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa kalau masalah itu. Bagaimana bisa dengan begitu santainya yang mulia membahas urusan Ad dan istrinya di meja makan, di depan banyak orang? Apa dipikirnya semua pria seperti dia yang begitu susah untuk berhenti jika sudah memulainya?


Deanda berkata dalam hati sambil pura-pura mencari sosok Cladia dan Laurel yang belum juga keluar dari toilet.


"Ist! Sembarangan saja. Mungkin kalian yang lain yang tidak bisa menahan diri semalam, bukan aku." Ornado berkata sambil meraih garpu di piringnya, menusuk potongan steak daging yang sudah terpotong-potong dan langsung melahapnya, untuk menghilangkan rasa canggung karena perkataan Alvero sebelumnya.