My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
PENGAKUAN PAMAN JEREMY



Dan setelah itu, Dante sempat mencarinya kembali di gudang kosong tempat dia disekap, tapi dia sudah berhasil melarikan diri, dengan melepaskan ikatannya dengan menggunakan pecahan kaca jendela yang sengaja dia tendang dengan kakinya.


Butuh waktu berbulan-bulan dalam pelarian, yang bahkan membuatnya menyembunyikan diri di salah satu pulau terpencil di negeri ini untuk beberapa waktu, sampai paman Jeremy membuat Dante menyerah untuk mengejar dan berusaha menangkapnya kembali.


Begitu menyadari bahwa dia terlambat untuk memberitahukan kepada kedua orangtua Jeremy apa yang sudah dilakukannya, paman Jeremy hanya bisa menangis dengan frustasi dengan rasa bersalah yang begitu besar, membuatnya memilih untuk pergi jauh dari kehidupan keluarganya setelah itu.


Meskipun begitu, paman Jeremy selalu mengikuti perkembangan yang terjadi di kehidupan sehari-hari Jeremy dan Cladia, berharap mereka bisa hidup tenang dan bahagia, berharap Cladia akhirnya benar-benar menikah dengan Ornado tanpa diketahui oleh Dario.


Dan ketika pernikahan itu benar-benar diadakan, kebetulan waktu itu Cladia yang sebenarnya ingin menolak pernikahan itu meminta agar pernikahan mereka tidak diumumkan dan tidak diadakan resepsi besar-besaran untuk pernikahan mereka itu, sehingga waktu itu Dario yang sempat lama tidak berhubungan dengan Alberto dan Ornado, tidak tahu kalau mereka berdua sudah menikah, sampai diadakannya acara keluarga besar mereka di Italia untuk memperkenalkan Cladia sebagai istri sah Ornado, yang membuat Dario sempat kalap dan hampir saja berencana saat itu juga datang ke mansion keluarga Ornado dan membawa pergi Cladia.


Tapi setelah Dario menyadari bahwa jika dia berbuat senekat itu, justru dia akan gagal total, dia mencoba mencari cara sehalus mungkin untuk mengambil Cladia sekaligus menghancurkan Ornado, sehingga Ornado tidak akan bisa memiliki kesempatan untuk mengambil Cladia lagi darinya.


# # # # # # # #


“Aku bersalah Jeremy, aku begitu berdosa terhadap kakak dan kakak ipar. Aku bahkan tidak berusaha untuk menolak perintah untuk mencelakakan mereka. Aku adalah seorang pembunuh….” Paman Jeremy berkata sambil menangis dengan keras.


Jeremy yang mendengar cerita dari pamannya, langsung mengepalkan tangannya yang ada di bawah meja, rasanya, dia ingin memukul keras-keras meja yang ada di hadapannya saat ini, menjungkirbalikkan meja itu itu melupakan emosinya.


Tapi mengingat bahwa itu tidak akan menyelesaikan masalah, Jeremy memilih untuk menarik nafas panjang dengan mata menatap lurus ke arah pamannya.


“Lalu kenapa sekarang Paman muncul kembali dengan menuliskan pesan-pesan seperti itu kepadaku?” Pertanyaan Jeremy membuat pamannya menatap kea rah Jeremy dengan sikap takut.


“Dario… aku melihat dia datang ke Indonesia. Dan aku yakin, dia sedang merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Ornado dan Cladia. Dia juga… menyusul liburan Ornado dan Cladia ke Bali.” Perkataan pamannya langsung membuat dahi Jeremy berkernyit.


“Benar, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, karena aku sengaja mengikutinya. Aku sungguh mengkhawatirkan mereka dan juga kamu Jeremy.”


“Kalau begitu, kenapa Paman menunggu waktu yang cukup lama baru muncul kembali dan menemuiku? Kenapa tidak sedari dulu Paman menemuiku?” Paman Jeremy menundukkan kepalanya dalam-dalam mendengar pertanyaan dari Jeremy.


“A…. aku, benar-benar tidak berani menemuimu dan Cladia. Aku tidak memiliki cukup nyali untuk menjelaskan semuanya pada kalian. Tapi sekarang, kalian bisa memakiku, menyumpahiku, bahkan memenjarakanku. Aku sungguh rela jika itu bisa membuat kalian puas, dan aku bisa membayar semua kesalahan dan penyesalanku. Aku juga berharap, Cladia baik-baik saja, Dario tidak benar-benar berniat untuk melakukan sesuatu yang buruk pada Cladia, Ornado dan kamu juga.” Paman Jeremy berkata lirih.


“Terlebih dari siapapun, aku yakin Paman adalah orang yang paling menderita karena harus menanggung rasa bersalah itu seumur hidup Paman. Dan bagiku, rasa bersalah dan penyesalan itu, adalah hukuman terberat bagi Paman." Jeremy berkata sambil menahan nafasnya.


Bagi Jeremy, tidak ada yang bisa dia lakukan terkait dengan apa yang sudah terjadi antara pamannya dan orangtuanya.


"Maafkan aku Jeremy, aku benar-benar pengecut." Paman Jeremy berkata sambil kembali menangis.


"Paman harus mulai bisa memaafkan diri Paman sendiri, jika tidak seumur hidup Paman akan terus menderita. Bagiku, mungkin itu memang sudah takdir papa dan mama. Semua orang pasti akan mati dengan berbagai cara yang berbeda, akan tapi bagaimana cara mereka meninggal itu yang sungguh menyakitkan." Kata-kata Jeremy membuat tangis pamannya semakin menjadi.


"Aku akan segera mencari dan mengumpulkan info yang lain tentang kecelakaan hari itu. Jika Paman ingat sesuatu yagn bisa membantu penyelidikan, tolong Paman ceritakan semuanya pada pihak yang tim penyelidik dari Bumi Asia. Aku akan segera memberikan hasil penyelidikan itu pada Ad." Mendengar perkataan itu, paman Jeremy langsung menatap ke arah Jeremy dengan tatapan mata memelas.


"Jeremy, kalau Ornado tahu aku yang sudah mencelakakan orangtua kalian, dia pasti tidak akan mengampuniku." Perkataan pamannya membuat Jeremy mengernyitkan dahinya.


"Kenapa Paman bilang begitu? Ornado bukan orang seperti Dario yang kejam dan tidak tahu terimakasih." Jeremy langsung menanggapi perkataan pamannya.


"Aku tahu, tapi Ornado bukan orang sembarangan. Aku tidak yakin... dia bisa memaafkan aku." Paman Jeremy sedikit banyak memang sudah mengorek info tentang Ornado, yang diketahuinya, bukan orang sembarangan.