My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
JADILAH APA ADANYA DIRIMU DI DEPANKU



Puluhan foto-foto itu merupakan foto para preman yang sudah dihajar habis-habisan oleh James tadi.


James yang bisa merasakan tubuh Elenora tersentak kaget dan menegang setelah melihat foto-foto itu, segera melingkarkan salah satu tangannya ke pinggang Elenora, memeluknya dengan erat.


Meskipun di foto-foto itu tampak wajah lebam, bengkak dan juga ada beberapa luka yang mengeluarkan tetesan darah, tapi Elenora masih bisa mengenali wajah-wajah yang selama bertahun-tahun ini begitu terpatri jelas dalam ingatannya, dan menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan untuknya setiap kali dia mengingat wajah-wajah yang baginya begitu mengerikan itu.


“Ap… apa yang terjadi pada mereka James? Bagaimana bisa mereka….” Elenora bertanya sambil memandang ke arah James yang langsung menaikkan kedua bahunya sambil tersenyum kecil, bersikap seolah-olah tidak tahu.


"Ka... kamu yang sudah melakukan semua itu... pada mereka James?" Elenora bertanya kembali dengan suara ragu, yang dijawab dengan sebuah anggukan kepala ke arah Elenora oleh James.


"Aku mau mereka membayar apa yang sudah mereka lakukan padamu bertahun-tahun yang lalu, dan tidak membiarkan mereka melakukan hal seperti itu lagi di masa depan." Mendengar perkataan James, Elenora langsung menangis.


Dengan cepat Elenora meraih tangan kanan James, memegangnya dengan erat dengan kedua tangannya, dan menciumi punggung telapak tangan James yagn tampak memar, menunjukkan cukup banyak dia menggunakan tinjunya untuk menghajar para preman itu.


"Eh...." James yang melihat bagaimana Elenora yang menangis sambil menciumi punggung telapak tangannya yang terlihat sedikit lebam, hanya bisa bergumam pelan.


"Ka... mu tidak harus... melakukan hal seperti... itu James. Tapi terimakasih... sudah membelaku sedemikian rupa...." Elenora berkata di tengah-tengah tangisnya sambil menempelkan punggung telapak tangan James di pipinya untuk beberapa saat, lalu kembali menciumi punggung telapak tangan James.


Melihat bagaimana sikap Elenora itu membuat hati James mengharu biru, karena tindakan Elenora baginya menunjukkan bagaimana Elenora yang begitu berterimakasih padanya, dan juga terlihat begitu jelas bahwa Elenora begitu mencintainya.


"Aku suka kamu sudah mulai berani mengungkapkan isi hatimu di depanku." James berkata sambil tersenyum dengan tatapan penuh kasih sayang ke arah Elenora.


Bagi James sendiri, rasanya tidak ada rasa penyesalan sedikitpun terhadap apa yang sudah dilakukannya untuk membela dan melindungi istrinya, justru dia merasa senang dan bahagia sekaligus bangga karena bisa melakukan hal itu untuk Elenora.


James sengaja membiarkan Elenora puas menangis sambil memeluk lehernya, membiarkan bahu dan pakaian yang dikenakannya basah oleh airmata Elenora.


Airmata yang bagi James menunjukkan bahwa Elenora begitu mencintainya dan mengaguminya.


"Kamu bebas menunjukkan ekspresi apapun di depanku ti amore. Entah kamu sedih, terharu, ataupun bahagia dan senang, jangan pernah lagi menyembunyikan semua itu di depanku." James yang meletakkan dagunya di bahu Elenora yang sedang memeluknya, berkata sambil tersenyum, dan kedua tangannya bergerak semakin erat memeluk tubuh Elenora yang tampak sedikit berguncang karena tangisnya.


James membiarkan Elenora menangis hingga puas, dan terus mengelus lembut tubuh Elenora sampai istrinya itu menghentikan tangisnya.


"Jadilah dirimu apa adanya di hadapanku. Entah itu kecantikan fisikmu, atau perasaanmu, jangan lagi menyembunyikannya dari pandangan mataku. Aku suka melihat apapun yang ada padamu." James berbisik pelan dan membiarkan semua indranya terfokus pada Elenora yang begitu dicintainya itu.


Elenora sendiri merasa sedikit tersentak kaget, begitu mendapati James yang dengan gerakan pelan tapi pasti mengarahkan wajah Elenora ke wajahnya, dan mulai mencium bibir Elenora dengan penuh gairah.


Dan sesuatu di bawah sana yang dirasakan oleh Elenora mulai bereaksi dan mengeras karena Elenora duduk di pangkuan James, membuat Elenora sadar akan apa yang akan terjadi diantara mereka berdua selanjutnya, sesuatau yang membuat mereka berdua semakin intim.


"Aku sungguh mencintaimu ti amore, dan semakin hari aku tahu aku semakin mencintaimu. Dan aku akan pastikan itu akan terus berlanjut sampai kita berdua menutup mata." James berkata lembut dengan tangannya yang mulai bergerak mengelus punggung Elenora, setelah tangannya menelusup masuk ke balik pakaian yang dikenakan Elenora.


Tindakan James membuat beberapa detik Elenora menahan nafasnya, kulit tubuhnya yang merasakan sensasi getaran-getaran kecil seperti sengatan listrik, membuat Elenora memejamkan matanya, untuk kemudian menyunggingkan senyum bahagia di bibirnya.


Kali ini, tanpa ragu seperti yang sudah pernah dia lakukan ketika James untuk pertama kalinya meminta haknya sebagai suami, Elenora membiarkan dan menyambut sentuhan dan ciuman mesra James pada dirinya, membuat gairah dan hasrat James yang sudah terpancing sejak Elenora duduk di pangkuannya dan pantat Elenora menyentuh sesuatu di bawah sana, semakin bangkit dan menggelora.


"Come sei bella. Mi sono infatuato di te. Senza di te non posso più vivere."   (Betapa cantiknya dirimu. Aku tergila-gila padamu. Aku tidak bisa hidup tanpamu)." James kembali berbisik pelan sebelum akhirnya bangkit dari duduknya sambil mengangkat tubuh Elenora dengan kedua lengannya, dan membawa tubuh istrinya yang sudah menjadi candu baginya itu ke arah tempat tidur, , untuk bisa saling membagi cinta mereka melalui penyatuan mereka kembali, untuk saling meluapkan rasa cinta mereka pada pasangannya mereka.