
"Al...." Ornado yang baru saja mengambil handphone dari saku celana jasnya menghentikan rencananya untuk menghubungi James begitu Cladia memanggilnya dengan suara pelan.
"Ada apa amore mio?" Ornado langsung menjawab panggilan Cladia dengan senyum mesranya.
"Apa yang mau kamu lakukan? Jangan bilang kalau kamu benar-benar serius ingin memindahkan ruang kerjamu di kantor Sanjaya." Perkataan Cladia membuat Ornado sedikit mengernyitkan dahinya.
"Maksudmu? Apa salahnya memindahkan kantorku di sini? Apa menurutmu Jeremy akan merasa keberatan menerimaku di sini? Biar aku bicara padanya sekarang." Begitu menyelesaikan kata-katanya, Ornado meloncat turun dari meja kerja Cladia, berencana mencari Jeremy dan mengatakan tentang keinginannya bekerja di kantor Sanjaya selama Cladia juga bekerja di tempat itu.
"Jangan Al...." Dengan cepat Cladia meraih lengan Ornado yang langsung membalikkan tubuhnya kembali, berdiri tepat di hadapan Cladia yang mendongakkan kepalanya menatap ke arah Ornado.
"Kenapa amore mio? Bukannya akan lebih baik kalau kita bisa kembali bekerja dalam satu kantor seperti kemarin-kemarin?" Dengan nada santai Ornado menanyakan tentang pendapat Cladia, yang dari wajahnya terlihat keberatan jika Ornado memindahkan kantornya di sini.
Aduh Al, yang benar saja, setiap kunjunganmu ke kantor Sanjaya selalu saja membuat heboh. Hampir semua staf perempuan di tempat ini pasti mencari-cari kesempatan untuk dapat mencuri pandang ke arahmu, bahkan secara diam-diam mereka berusaha mengambil fotomu. Dari pintu masuk sampai ke tempat ini puluhan mata selalu mengikuti gerak-gerikmu. Untung saja kamu jarang ke sini. Tapi kalau setiap hari kamu datang, bisa-bisa setengah dari pekerjaan karyawan di sini adalah bergosip tentangmu.
Cladia berkata dalam hati sambil memandang dalam-dalam ke arah Ornado.
Aist, ada apa denganku? Aku sudah seperti gadis remaja yang cemburu karena laki-laki yang aku sukai begitu memiliki banyak penggemar. Tapi memang tidak masuk akal jika Al harus memindahkan kantornya di sini. Anak buahnya di kantor Bumi Asia pasti akan mengalami banyak kesulitan kalau Al pindah ke tempat ini.
Cladia kembali berkata dalam hati sambil sedikit menahan nafas dengan pandangan mata yang tetap terpaku kepada wajah suaminya.
Selama ini Ornado cenderung tidak terlalu perduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya jika itu tidak berhubungan dengannya.
Karena itu Ornado tidak pernah perduli melihat bagaimana para karyawan di perusahaan Sanjaya selalu heboh jika dia datang berkunjung ke kantor itu.
Bagi mereka melihat kehadiran Ornado yang tampan dan memiliki tubuh yang tinggi dan atletis, ditambah dengan mata biru, hidung mancung dan wajah bulenya yang sudah seperti artis terkenal dari Eropa merupakan suatu hal yang boleh dibilang sangat jarang mereka temui.
Jika di kantor Bumi Asia yang sekitar dua puluh persennya memang merupakan orang-orang yang berasal dari Eropa, termasuk James dan Ornado, ditambah lagi sekarang dengan Elenora, bukan hal aneh orang-orang berwajah bule berkeliaran di kantor Bumi Asia, walaupun Orando tetap menjadi laki-laki yang dianggap paling berkharisma dan menarik oleh mereka, setelah itu James tentunya.
Tapi di Sanjaya, yang seratus persen yang bekerja merupakan orang-orang asli negara ini, membuat mereka sangat antusias setiap melihat kehadiran Ornado di kantor itu. Apalagi Ornado selalu hadir dengan penampilan rapi dengan setelan jasnya yang terlihat pas di tubuhnya yang sempurna sebagai seorang pria.
Kehadirannya benar-benar membuat kantor Sanjaya untuk beberapa saat seperti tempat jumpa fans, antara artis terkenal dan para penggemarnya.
"Kenapa kamu memandangiku seperti itu? Apa kamu takut aku mengganggu konsentrasi kerjamu amore mio?" Ornado berkata sambil membungkukkan tubuhnya ke arah Cladia yang tanpa sadar menelan ludahnya karena tindakan Ornado sukses membuat dadanya berdebar dengan kencang.
"Ti... tidak... bukan karena itu. Tapi di sini... kamu pasti tidak akan merasa nyaman, karena fasilitas maupun gedung perkantoran ini tidaklah sebagus dan selengkap milik Bumi Asia." Mendengar Cladia menjawab pertanyaannya dengan wajah sedikit memerah dan sedikit gugup membuat Ornado yang masih membungkukkan tubuhnya di samping Cladia dengan wajah mereka yang berdekatan, tidak lebih dari 10 cm, tersenyum geli.
Amore mio, kamu benar-benar membuatku tidak tahan untuk tidak menggodamu dan memanjakanmu. Kenapa semakin hari kamu terlihat semakin cantik dan menggemaskan. Begitu menggoda.... Benar-benar membuatku semakin tergila-gila padamu.
Ornado berkata dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya, sebelum kemudian mendekatkan hidung dan bibir mancungnya ke telinga Cladia yang langsung menahan nafasnya sekilas karena tindakan Ornado padanya.
"Kamu tahu, aku tidak perduli dengan semua itu, asal bisa selalu berada di dekatmu.... bagiku itu adalah tempat terbaik bagiku." Ornado berbisik pelan dengan bibirnya sengaja mengecup pelan telinga Cladia yang tubuhnya langsung berjingkat kaget, membuat Ornado dengan sigap meraih bahu Cladia.
"Maaf, apa aku mengagetkanmu amore mio?" Ornado berkata lembut sambil sedikit menegakkan tubuhnya dan mengelus-elus lengan kanan Cladia agar merasa tenang.
"Ti.... tidak Al. Aku baik-baik saja." Cladia langsung mencoba untuk tersenyum, agar Ornado tahu dia memang baik-baik saja.
Cladia tahu selama beberapa lama ini Ornado selalu bersikap begitu hati-hati padanya, karena Ornado tahu belum seratus persen trauma Cladia terhadap laki-laki sembuh. Terbukti dengan kondisi Cladia yang belum bisa berdekatan dengan laki-laki kecuali Ornado dan Jeremy.
Karena itu, sampai saat ini Ornado selalu berusaha untuk bersikap lembut dan hati-hati jika berada di dekat Cladia, walaupun sebenarnya setiap berada di dekat Cladia, Ornado selalu ingin mencumbu dan memanjakan istrinya itu.
"Al, lebih baik kamu tetap di kantormu Bumi Asia. Jika kamu memindahkan kantormu di sini, bukannya itu akan membuat karyawanmu yang lain akan merasa kesulitan untuk melakukan koordinasi denganmu? Pekerjaanmu juga tidak akan efektif." Ornado yang sudah menegakkan tubuhnya kembali dan bersandar di meja kerja Cladia menarik nafas panjang mendengar perkataan Cladia, menunjukkan bahwa laki-laki itu benar-benar tidak ingin jauh dari sosok wanitanya.
"Aku bisa mengatakan itu karena aku juga mengalaminya sendiri. Selama aku di kantor Bumi Asia, jujur saja sedikit sulit bagiku untuk melakukan koordinasi dengan beberapa orang yang aku butuhkan dengan cepat. Dan membuat kerjaku tidak efektif. Tapi aku tahu, kamu akan merasa lebih tenang jika aku bekerja sekantor denganmu. Karena aku tidak ingin kamu khawatir, aku mencoba untuk tetap bekerja dengan baik walaupun kantorku di Bumi Asia." Cladia menghentikan perkataannya sebentar.
"Tunggulah, maksimal dua bulan lagi aku akan kembali ke kantor Bumi Asia. Dan kamu tahu bahwa setelah Jeremy dan Niela menikah, dan begitu melihat mereka berdua sudah siap... aku akan segera mundur dari posisiku di perusahaan Sanjaya, untuk membantumu di Bumi Asia." Perkataan Cladia yang diucapkannya dengan senyuman di wajahnya yang cantik membuat Ornado tersenyum bahagia dengan tangannya mengelus puncak kepala Cladia.
"Kamu memang yang terbaik amore mio...." Ornado berkata dengan tatapan penuh cinta ke arah Cladia, karena yang diucapkan Cladia menunjukkan bahwa apapun yang dilakukan wanita itu hanya untuk membuatnya senang.
"Dan kamu, selalu menjadi orang yang permintaannya begitu sulit untuk aku tolak." Selesai mengucapkan kata-katanya, Ornado kembali membungkuk, kali ini dia mengecup sekilas pipi Cladia yang langsung memerah.
Setelah mencium sekilas pipi istrinya, untuk beberapa saat Ornado sengaja berdiam diri dengan melipat kedua tangannya di depan perutnya sambil terus memandangi wajah Cladia yang tampak gugup karena Ornado yang terus memandanginya tanpa berkedip.
Sebuah nada panggilan telepon dari handphonenya membuat Ornado sedikit mengalihkan pandangannya dari Cladia.
Huft.... akhirnya....
Cladia bergumam dalam hati dengan senyum malu-malu, sambil diam-diam menarik nafas lega melihat Ornado mengalihkan fokusnya kepada layar handphonenya.
Bagi Cladia, bagaimana Ornado yang selalu memperlakukannya dengan mesra dan menunjukkan rasa cintanya tanpa ragu di depan semua orang, bahkan saat mereka sedang berdua, selalu saja berhasil membuat jantungnya berdebar dengan kencang, dan hatinya berbunga-bunga, seperti seorang remaja dalam masa puber yang baru saja mengenal apa itu jatuh cinta.
"Hallo Dario." Setelah menerima panggilan teleponnya, Ornado langsung menyapa Dario yang menghubunginya.