
Kalian beruntung istri kalian tidak memiliki trauma dan juga sehat selama masa kehamilannya. Kalian pikir aku juga tidak ingin bisa melakukan hal seperti itu sesering yang bisa kalian lakukan? Tapi bagiku lebih berharga untuk dapat menjaga Cladia dan selalu berada di sampingnya. Karena bagiku cintaku padanya jauh lebih besar dari nafsuku. Dan aku tidak pernah keberatan untuk melakukannya hal seperti itu saat dia siap, bukan karena terpaksa atau hanya sekedar karena kewajiban seorang istri.
Ornado berkata dalam hati sambil memandang ke arah pintu toilet, dimana sosok Cladia dan Laurel baru saja keluar dari sana.
Bagiku se..ks bukanlah hal yang utama dalam pernikahanku, meskipun itu adalah hal yang sangat penting bagiku dan amore mio, agar hubungan kami semakin dekat dan intim. Kami melakukan itu untuk menunjukkan bahwa kami begitu saling mencintai. Tapi di atas semuanya itu, kesehatan dan kebahagiaan istriku adalah hal terpenting dalam hidupku. Keberadaan amore mio di sampingku, sebagai istriku, adalah hal yang selalu ingin aku jaga dan lindungi dengan baik. Karena tanpa amore mio, hidupku tidak akan ada artinya. Aku tidak akan sanggup menghirup udara di dunia dimana amoro mio tidak ada bersamaku.
Ornado kembali berkata dalam hati dengan matanya yang berbinar menatap sosok istrinya.
Sosok Cladia yang berjalan mendekat ke arahnya, membuat Ornado langsung menyungingkan sebuah senyuman hangat.
Melihat bagaimana cara Ornado yang tidak bisa menyembunyikan besarnya rasa cintanya pada Cladia, membuat Deanda dan Alvero saling berpandangan dan saling melempar senyum, ikut merasa bahagia melihat bagaimana Ornado yang di depan orang lain kadang terlihat dingin dan begitu tegas, tapi dari matanya terlihat begitu mencintai Cladia, seolah Cladia adalah pusat dunianya.
"Maaf, aku pasti sudah merusak suasana makan pagi kali ini." Cladia berkata sambil duduk kembali di samping Ornado yang langsung melingkarkan lengannya di belakang tubuh Cladia.
"Ah, tentu saja tidak. Tenang saja, kami sungguh menikmati sajian makan pagi hari ini." Deanda segera menanggapi perkataan Cladia agar Cladia tidak lagi merasa bersalah.
“Justru kami merasa bersalah, kamu dan Ornado sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik, tapi kamu sendiri tidak bisa menikmatinya.” Deanda menyambung kembali kata-katanya, yang membuat Cladia tersenyum.
“Tidak masalah, aku sudah cukup makan banyak hari ini. Senang mendengar kalian menyukai makanan yang disiapkan hari ini.” Cladia berkata sambil mengelus-elus lembut perutnya, merasa bersyukur rasa mualnya tadi tidak terlalu parah dan sekarang dia merasa jauh lebih baik setelah membersihkan mulutnya dengan air mineral dan membuangnya di kamar mandi.
“Apa mualmu sudah hilang? Kamu ingin makan lagi amore mio?” Ornado langsung mendekatkan kepalanya dan berkata dengan nada pelan ke arah Cladia yang langsung menggelengkan kepalanya.
“Aku sudah kenyang. Tenang saja Al, aku tadi hanya mual, tidak sampai memuntahkan sarapanku. Dan sekarang aku sudah baik-baik saja.” Mendengar bisikan pelan dari Cladia sebagai jawaban atas pertanyaannya, Ornado menarik nafas lega sambil menepuk-nepuk lembut bahu Cladia yang langsung tersenyum sambil melirik ke arah suaminya.
“Apa kamu ingin beristirahat setelah ini amore mio? Aku akan menemanimu, biar James yang mengantar mereka untuk berkeliling hari ini.” Ornado kembali berkata dengan suara pelan, kali ini dengan berbisik ke telinga Cladia.
“Apa kamu kuat untuk itu? Apa itu tidak akan berbahaya untuk Bee jika kamu memaksakan diri?” Ornado bertanya sambil tangannya mengelus pelan perut Cladia, seolah dengan cara itu dia bisa memastikan bahwa Bee mereka memang baik-baik saja di dalam sana.
“Aku ingin sekali ikut Al. Kamu tahu sendiri, selama ini aku tidak memiliki banyak kesempatan untuk pergi berlibur seperti ini. Aku juga ingin menikmatinya bersamamu dan yang lain.” Kali ini Cladia mengucapkan kata-katanya dengan suara yang terdengar sedikit merajuk, dan matanya memandang ke arah Ornado dengan tatapan penuh harap.
“Al….” Cladia berbisik pelan menyebutkan nama panggilannya untuk Ornado, membuat Ornado yang tadinya terdiam, tidak menjawab permintaan dari Cladia mau tidak mau memandang ke arah Cladia.
“Please Al, aku janji aku akan baik-baik saja. Lagipula kamu akan selalu di sampingku. Bee pasti tidak akan rewel hari ini, benar kan nak?” Perkataan Cladia dia akhiri dengan mata memandang ke arah perutnya sendiri sambil tersenyum, membuat Ornado hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan sikap pasrah mengiyakan permintaan istri tercintanya.
“Nanti kalau di tengah perjalanan kamu mulai merasa lelah, ingin kembali ke tempat ini dan beristirahat, kamu harus mengatakannya padaku dan tidak memaksakan dirimu, dan…”
“Aku janji, apapun itu. Aku akan baik-baik saja.” Cladia langsung memutus perkataan Ornado dengan wajah terlihat bahagia karena Ornado mengijinkannya untuk ikut pergi bersama yang lain.
Pergi berlibur, menikmati keindahan alam, berbelanja membeli oleh-oleh khas daerah yang sedang dikunjunginya, merupakan impian Cladia sejak bertahun-tahun lalu yang selalu dia pendam.
Dan sekarang, kehadiran Ornado dalam hidupnya yang membuatnya lebih berani untuk mulai melawan traumanya, tentu saja tidak akan disia-siakannya kesempatan yang ada sekarang untuk melakukan semua hal yang dulunya bagi Cladia hanya bisa ada di dalam angan-angan saja.
Dengan tatapan bahagia dan cinta, juga merasa begitu berterimakasih, Cladia menatap ke arah Ornado yang hanya bisa menggigit bagian bawah bibirnya sambil mengelus pelan rambut di kepala Cladia, begitu melihat bahagianya wajah Cladia setelah dia mengijinkan Cladia untuk ikut berkeliling kota Bali untuk berbelanja hari ini.
Dengan wajah cantikmu yang memohon dengan tatapan mata seperti itu, bagaimana mungkin aku bisa menolak permintaanmu amore mio?
Ornado berkata dalam hati sambil membalas tatapan Cladia dengan tatapan hangat dan penuh cintanya.