
Cantik... kamu benar-benar cantik Ele... Aku tidak bisa membayangkan betapa cantiknya kamu saat kamu mengenakan gaun pengantin yang sesungguhnya di tubuhmu yang tinggi semampai itu. Maafkan aku, tapi saat waktunya tiba aku akan membayar semua hutang ini padamu.
James bergumam dalam hati dengan tatapan mata tidak berkedip ke arah Elenora yang tampak berjalan ke arahnya dengan langkah terseret, tanpa senyum sedikitpun.
Jika Elenora hidup di jaman dahulu, mungkin wajah Elenora tidak kalah menyedihkannya dengan wajah Siti Nurbaya ketika dipaksa menikah dengan Datuk Maringgih.
"Baiklah, bisa kita mulai sekarang untuk penandatanganan akta pernikahan ini?" Begitu Elenora duduk di samping James, salah satu dari petugas comune itu segera membuka pembicaraan, dengan menyodorkan lembaran kertas yang harus ditandatangani oleh James dan Elenora untuk membuat akta pernikahan mereka itu sah di mata hukum negara Italia.
Dan entah kenapa, saat itu Elenora sudah seperti kerbau dicocok hidungnya, tanpa perlawanan sedikitpun dia langsung menandatangani lembaran akta nikah di hadapannya itu tanpa mengatakan apapun, seolah saat ini, yang sedang duduk tepat di samping James adalah seorang gadis bisu yang tidak bisa menyampakaikan pendapatnya.
Pikirannya yang kosong sekaligus bingung, dan rasa kaget serta shock yang belum bisa dikuasainya, membuat tanpa sadar Elenora melakukan semua yang diperintahkan padanya tanpa bisa berpikir panjang.
James yang sempat khawatir kalau Elenora akan menolak mentah-mentah untuk menandatangani akta nikah itu, tanpa diketahui oleh Elenora, tampak menyungingkan sebuah senyum yang menunjukkan kebahagiaannya, yang bahkan tanpa sadar, rasa bahagia itu begitu memenuhi seluruh rongga hatinya saat ini.
Hal itu membuat saat ini James ingin berteriak kencang sambil memeluk tubuh Elenora dan memberikan ciuman hangat pada kening gadis itu, untuk menunjukkan bahwa dia begitu mencintai gadis itu dan merasa lega bahwa akhirnya Elenora benar-benar terikat dengannya.
Tapi James tahu bahwa untuk saat ini, hal seperti itu masih harus ditahannya.
Sebentar lagi... beri kau waktu sebentar lagi Ele, aku akan membereskan semuanya sehingga hatiku tidak ragu lagi.
James berkata dalam hati sambil melirik ke arah Elenora yang terlihat masih terdiam dengan tatapan mata ynag terlihat sayu, menatap ke arah lembaran akta nikah di depannya.
Bahkan ketika salah satu dari petugas itu mengambil foto mereka berdua, Elenora hanya menatap ke depan dengan tatapan mata kosong, seolah yang ada di sana hanyalah tubuhnya, sedang jiwa dan rohnya entah sedang terbang berkelana kemana.
"Baiklah Tuan Xanderson, semuanya sudah selesai. Kami berdua akan permisi terlebih dahulu. Selamat untuk pernikahan Anda berdua, dan semoga bahagia selalu." Salah satu dari petugas comune itu berkata sambil bersiap bangkit dari duduknya.
James langsung menganggukkan kepalanya, karena diapun tidak ingin menahan tamunya yang baru saja melakukan perjalanan jauh, tapi sudah diminta untuk menyelesaikan permintaannya.
Lagipula, saat ini ada begitu banyak hal yang ingin dibicarakan oleh James, berdua dengan Elenora, yang tampak masih begitu shock.
"Fred! Antar mereka kembali ke hotel." Fred yang mendengar perintah dari James, langsung mendekat, dan mempersilahkan mereka untuk mengikutinya.
"Kalau begitu kami akan pamit. Selamat siang Tuan dan Nyonya Xanderson." James langsung menganggukkan kepalanya begitu mendengar perkataan tamunya yang tampak berusaha mencegah dirinya untuk melirik ke arah Elenora.
Karena mereka bisa melihat, bahwa dengan sengaja, James memang menghalangi mata orang lain untuk menatap ke arah Elenora yang baginya hari ini terlihat begitu cantik dengan gaun putih yang dikenakannya.
Sikap James terhadap Elenora membuat kedua tamunya menahan senyumnya.
Mereka tahu dari awal dapat melihat dengan jelas bahwa pengantin wanita itu tidak tahu kalau dia harus menandatangani akta nikah hari ini.
Dan dengan sikap James yang terlihat mendominasi, dan juga protektif, mereka berdua hanya berharap bahwa penikahan kedua orang yang bagi mereka seperti dipaksakan itu bisa berakhir dengan bahagia.
Begitu tamu mereka pergi bersama Fred, James memandang ke arah Elenora yang masih duduk mematung di tempatnya.
"Ele, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu sekarang." James berkata sambil mengambil posisi duduk di samping Elenora.
"Hah?" Di tengah pikirannya yang kacau, hanya satu kata itu yang meluncur keluar dari bibir Elenora, sambil menolah ke arah James.
"Aku tahu apa yang terjadi hari ini pasti mengejutkan bagimu. Tapi aku ingin melindungimu dari hal-hal buruk di luar sana." James berkata tanpa menyebutkan bahwa alasan lain dia memaksa Elenora menikah dengannya adalah agar Gavino ataupun laki-laki lain seperti Dodi dan Alex, tidak memiliki kesempatan untuk mengambil Elenora dari sisinya.
"Tapi James.... pernikahan bukan suatu hal yang bisa dianggap sepele.... Bagaimana bisa tiba-tiba kita menikah tanpa restu orangtua... apa kata orang jika mereka tahu? Aku tidak mau orang tahu jika kita sudah menikah, sedangkan pernikahan ini sungguh aneh. Sebenarnya apa maumu James? Apa aku sudah melakukan kesalahan fatal yang membuatmu marah, sehingga kamu tega melakukan hal seperti ini padaku?" Elenora berkata dengan matanya yang tampak mulai memerah, membuat James menelan ludah sambil menahan nafasnya.
"Maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini. Tapi percayalah, aku tidak ada niat buruk padamu. Aku berjanji tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang lebih dari ini. Aku setuju untuk sementara kita tidak mempublikasikan tentang pernikahan kita, sampai kita berdua siap." James berkata sambil menatap dalam-dalam ke arah wajah Elenora yang terlihat memerah karena menahan tangis dan emosi di dadanya.
Aku tahu bahwa aku tidak akan mungkin jatuh cinta pada pria lain selain kamu. Aku menerima perjodohan ini karena laki-laki itu adalah kamu James. Tapi apa yang kamu lakukan saat ini, benar-benarĀ sudah melukai hatiku. Aku bersedia menikah denganmu, dan memang ingin menikah denganmu di masa depan. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Aku tidak mau menjadi seorang pengantin yang tidak diinginkan oleh pasanganku.
Elenora berkata dalam hati sambil menggigit bibirnya dengan keras, yang baginya, rasa sakitnya tidak sebanding dengan sakit hatinya saat ini.
"Kalau memang kamu memutuskan untuk menolak rencana perjodohan kedua orangtua kita, aku akan menerimanya, tapi tolong jangan mempermainkan aku seperti ini...." Elenora berkata lirih dengan nada memelas, membuat hati James ikut merasa perih mendengarnya.
"James... tolong maafkan aku jika aku pernah bersalah padamu. Maafkan aku jika keberadaanku, dan rencana perjodohan kita ini membuatmu begitu kesal dan marah padaku. Tapi jangan hukum aku dengan cara seperti ini. Apa kamu ingin memberi pelajaran padaku dan mempermalukan aku dengan menceraikanku setelah menikah denganku? Tolong... kalau itu yang sedang kamu rencanakan, ceraikan saja aku sekarang juga, dan aku akan menghilang selamanya dari hidupmu. Aku berjanji tidak akan pernah lagi muncul di hadapanmu dan tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan mengatakan pada kedua orangtua kita, aku yang menolak perjodohan ini, aku yang bersalah. Aku bukan wanita yang pantas untukmu." Elenora kembali berkata sambil menarik nafas panjang, karena butiran bening dari ujung-ujung matanya sudah mulai bersiap untuk menyeruak keluar.