My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
BERSIAP MENGHADAPI BADAI OMELAN



Akhirnya, mereka berhasil juga menyelesaikan masalah mereka. Benar-benar pasangan yang merepotkan, tapi apa dayaku. Aku tidak mungkin berdiam diri saja melihat tindakan bodoh sepupuku yang satu itu. Sungguh merepotkan, tapi jauh lebih baik daripada mereka menunda kebahagiaan mereka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sudah terjadi terlalu lama.


Ornado berkata dalam hati sambil dengan senyum manis di bibirnya, melirik ke arah Cladia yang sedang berbincang dengan Carina di depan pintu kamar tempat Elenora dan James berada, seperti yang tadi sudah diberitahukanya pada James.


Bagaimanapun, Ornado merasa lega, meski hubungannya dengan Cladia di awal pernikahan mereka tidak semulus pasangan lain, tapi dia dan Cladia sama-sama orang yang tidak pernah mengalami salah paham satu dengan yang lain, sampai menimbulkan rasa sakit hati seperti yang dialami James.


“James… apa ada masalah?” Begitu James mengantongi kemabali handphonenya, Elenora segera bertanya karena dilihatnya James tampak membeliakkan matanya beberapa kali ketika menerima panggilan telepon barusan.


“Tidak, tidak ada masalah apapun Ele. Semua baik-baik saja. Hanya….” James berkata sambil kedua tangannya memegang kepala Elenora, dan mengelus rambutnya dengan kedua tangannya secara bersamaan, memberikan suatu perasaan yang mengalir hangat di hati Elenora, dan tanpa sadar membuat Elenora tersenyum manis karena perlakuan James padanya.


Sh..hit! Senyummu itu benar-benar menggodaku Ele. Sayangnya aku belum bisa melanjutkan kegiatan kita ke tahap yang lebih dalam denganmu.


James berkata dalam hati sambil dengan gerakan cepat, kedua tangannya merangkum wajah Elenora, dan membawa wajah cantik itu mendekat ke arahnya, untuk bisa kembali mencium bibir Elenora, meskipun hanya sekilas.


“Hanya… kenapa James?” Elenora kembali bertanya dengan wajah serius, setelah James melepaskan ciuman bibir darinya.


“Hanya… kamu perlu memperbaiki sedikit riasanmu, dengan menambahkan lipstik pada bibirmu, dan merapikan gaunmu, sebelum kita menemui para orangtua kita yang sedang menunggu di depan pintu kamar ini.” Kali ini mata Elenora yang ganti terbeliak sempurna karena kaget akibat ucapan James.


Dan tanpa menunggu James mengulang perkataannya, dengan buru-buru Elenora langsung berlari ke arah meja riasnya, mengambil lipstik dari dalam laci meja riasnya, yang kebetulan hanya ada satu warna itu yang dimilikinya, karena Elenora memang termasuk jenis gadis yang jarang sekali berdandan.


James berjalan menyusul ke arah Elenora sambil menyunggingkan senyum geli melihat bagaimana salah tingkahnya dan gugupnya Elenora saat ini.


Begitu selesai memoleskan lipstik di bibirnya dan mengibas-kibaskan gaunnya agar terlihat rapi, Elenora berjalan yang berencana berjalan ke arah pintu, gerakan tubuhnya langsung terhenti karena tiba-tiba saja dari arah depan, tangan James melingkar di perutnya, sehingga gerakan Elenora tertahan.


Melihat Elenora langsung menatapnya dengan wajah bertanya-tanya, dengan tangannya yang lain, James menarik slider resleting gaun Elenora yang tadi sempat sedikit terbuka, meski tidak lebih dari 3 cm.


Elenora langsung menahan nafasnya begitu merasakan apa yang baru saja dilakukan oleh James.


Karena begitu terlarut dalam rasa asing dan baru, yang memm


“Su… sudah?” Dengan suara terbata-bata, dan juga wajah yang terlihat begitu memerah, Elenora bertanya pada James yang tangannya masih terasa menempel di punggungnya, karena jika boleh jujur, James merasa enggan menggerakkan tangannya menjauh dari sana.


“Kamu sudah sangat cantik meski tanpa menambahkan lipstik di bibirmu. Hanya saja, aku tidak mau kamu merasa malu dan salah tingkah, jika nantinya ada yang bertanya kenapa tiba-tiba lipstik di bibirmu warnanya menghilang begitu saja.” Kata-kata James bukannya menghibur Elenora, tapi justru membuat wajah Elenora semakin memerah.


“Jam… James, orangtua kita sepertinya berniat memarahimu. Bagaimana dengan…?”


“Jangan mengkhawatirkan aku. Semua memang salahku. Dengan rela aku akan menerima kemarahan mereka, tapi tidak dengan kemarahanmu yang bisa membuatku kehilangan semangat hidupku. Asal ada kamu di sisiku, aku tidak perduli kalau hari ini harus terjaga sampai pagi untuk mendengar omelan orangtua kita.” James berkata dengan sikap santai, membuat Elenroa menarik nafas panjang.


Bagaimana bisa James bersikap setenang itu, sedangkan kakiku saja terasa lemas hanya dengan membayangkan kemarahan para orang kami nanti.


Elenora berkata dalam hati sambil memandang ke arah James yang tetap tersenyum, seolah tidak perduli bahwa sebentar lagi dia akan menghadapi badai kemarahan orangtua mereka berdua.


“Ayo, kita keluar sekarang.” James berkata sambil dengan erat dia menggandeng tangan Elenora yang dadanya kembali berdetak kencang.


Bagi Elenora, kehadiran James, pernyataan cintanya, ciuman pertamanya yang akhirnya bisa dia berikan pada James sebagai satu-satunya pria yang begitu dicintainya, masih membuatnya tidak percaya bahwa hal-hal baik itu, benar-benar sudah terjadi dalam hidupnya dan baru saja dia alami.


“Kenapa mereka lama sekali? Apa James memarahi Elenora karena ada yang sudah membocorkan pernikahan meraka pada kita? Apa mereka bertengkar? Berkelahi?” Pertanyaan dari mama Elenora membuat mata Carina melotot.


“Eh, James tidak mungkin memukul wanita meskipun semarah apapun dia.” Carina langsung menyampaikan protesnya.


“Maaf Carina, bukannya aku tidak percaya dengan James, tapi kamu tadi bahkan melihat bagaimana dia menarik tangan Elenora dan menyeretnya ke kamar.” Mama Elenora berkata dengan nada khawatir.


“Tapi kau juga lihat kan? Sebelumnya, begitu datang James langsung memeluk Elenora. Tidak mungkin sebentar James memeluk, sebentar kemudian memukul.” Carina segera menanggapi perkataan mama Elenora.


“Iya, tapi….”


“Klek!” Suara pintu yang dibuka membuat semua mata langsung memandang ke arah pintu, dimana setelah pintu terbuka tampak sosok James keluar dari kamar diikuti dengan Elenora yang berdiri di belakang James, dengan wajah sedikit tertunduk karena merasa begitu gugup saat ini.