My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
RENCANA BERLIBUR YANG DIPERCEPAT



"Anggap saja itu sebagai hadiah dariku untuk perayaan kemenanganmu." Ornado berkata dengan santai sambil duduk di sofa, sambil melirik ke arah Cladia yang baru saja meletakkan tasnya di atas meja kerjanya.


"Ad, aku dan Deanda sudah memutuskan untuk datang dua minggu lagi ke sana. Permaisuriku sepertinya sudah tidak tahan untuk menghabiskan waktu berlibur bersamaku. Kami akan melakukan perjalanan bulan madu kami yang sempat tertunda." Perkataan Alvero hampir saja membuat Deanda mencubit pinggang suaminya yang dengan gesit langsung bergerak menghindar, menyisakan sebuah desa.han pelan dari bibir Deanda yang menyatakan protesnya kepada Alvero, karena sudah menjadikan dia sebagai alasan untuk mempercepat rencana mereka berkunjung ke Indonesia.


Untuk saat ini, sepertinya hanya itu yang bisa dilakukan oleh Deanda. Sebelum dia hamil, belum pernah sekalipun dia berhasil mengalahkan Alvero, apalagi sekarang dia yang sedang hamil, Deanda tahu dengan pasti, dia tidak akan pernah berhasil menang jika melawan Alvero, jika itu berhubungan dengan ketangkasan dan kemampuan bela diri.


Melihat wajah Deanda yang masih memandangnya dengan tatapan mata protes, dengan gerakan cepat, Alvero kembali mendekat ke arah Deanda, dan memeluk pinggang istrinya dengan erat, sedang tangannya yang lain masih memegang handphone, melakukan panggilan dengan Ornado.


"Dua minggu lagi? Oke, oke, aku akan menyambut kalian dengan baik. Apa perlu aku membawa karpet merah ke bandara untuk menyambutmu?" Alvero langsung tertawa tergelak mendengar penawaran Ornado.


"Jangan sampai kamu melakukan itu. Keberangkatanku ke Indonesia sengaja aku lakukan dengan diam-diam agar tidak mengundang banyak perhatian publik. Aku hanya akan bertemu presiden secara pribadi untuk menghormati beliau. Dan aku minta agar kedatanganku tidak dipublikasikan. Karena ini adalah acara pribadiku, acara bulan maduku, bukan kunjungan kenegaraan. Aku berharap info semua tempat wisata yang akan kami kunjungi juga tidak disebarluaskan." Ornado mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Alvero.


"Serahkan semuanya padaku. Aku sudah mengaturkan jadwal bulan madu terbaik untuk kalian. Kalian berdua tinggal membawa badan saja. Semuanya akan aku pastikan beres." Alvero kembali tertawa mendengar kata-kata Ornado.


Sebagai sahabatnya, Alvero tahu bahwa Ornado tidak pernah bercanda dengan kata-kata yang diucapkannya. Dan Ornado bukanlah orang yang sayang untuk mengeluarkan banyak uang untuk orang-orang terdekatnya.


"Aku percaya padamu Ad. Sebenarnya aku sudah menentukan destinasi wisata yang kami inginkan, tapi aku lebih percaya dengan apa yang sudah kamu siapkan. Kamu pasti lebih mengenal negara itu dibanding kami berdua." Alvero berkata sambil tersenyum ke arah Deanda yang sedang melihatnya dengan tatapan mata serius.


"Kalau begitu, beri aku info berapa orang yang akan ikut denganmu. Supaya aku bisa menyiapkan semuanya dengan baik di sini. Ah… jangan lupa, ajak adikmu Alaya, aku belum sempat bertemu dengannya secara langsung." Ornado langsung teringat tentang bagaimana sosok Alaya yang tiba-tiba muncul di jumpa pers saat Eliana bermaksud menjatuhkan Alvero waktu itu.


Walaupun Ornado bukan orang yang suka ikut campur dalam urusan orang lain, karena kedekatannya dengan Alvero, dia merasa tidak ada salahnya jika dia juga menyambut kehadiran Alaya sebagai adik kandung Alvero.


“Jangan khawatir, adikku itu sudah ribut, untuk bisa ikut dalam liburanku kali ini.” Alvero berkata sambil tertawa kecil, mengingat bagaimana antusiasnya Alaya begitu mendengar Alvero dan Deanda akan berkunjung ke Indonesia.


Bahkan Alaya sempat sedikit merengek kepada Alvero, merayu Deanda, meminta ijin kepada Vincent agar bisa ikut serta dalam kepergian Alvero kali ini.


Dan hasil keputusan akhir justru membuat Vincent, Larena, Enzo maupun Tira, semuanya ingin ikut serta dalam perjalanan liburan Alvero dan Deanda ke Indonesia.


Aist… padahal ini adalah acara bulan madu, kenapa akhirnya semua orang ingin ikut dengan kami? Dan karena mereka ikut, akhirnya yang lain juga ikut pergi.


Alvero berkata dalam hati sambil menghembuskan nafasnya karena mengingat bagaimana pada akhirnya banyak orang yang akan ikut bersamanya berlibur, dengan alasan mereka juga begitu penasaran dengan negara tropis yang akan dikunjungi oleh Alvero dan Deanda itu.


Sebuah negara yang mereka dengar memiliki banyak tempat wisata alam yang sangat indah dan penduduknya dikenal ramah.


"Dan sepertinya bukan hanya Alaya saja Ad. Kedua orangtuaku, papa Alexis, Enzo maupun Tira, semuanya akan ikut bersama berangkat ke sana, termasuk nyonya Rose, Erich dan Ernest, juga uncle Marcello dan tuan Red. Karena hampir semuanya ikut, kami terpaksa membawa lebih banyak pengawal dan pelayan dibandingkan jika kami hanya pergi berdua.” Mendengar perkataan Alvero yang disadari oleh Ornado menunjukkan nada putus asa karena waktu berduanya dengan Deanda mau tidak mau pasti berkurang karena keberadaan yang lain, membuat Ornado tersenyum geli.


“Alvero, sebenarnya kamu mau melakukan perjalanan bulan madu, atau reuni keluarga besar? Atau kamu sedang berencana menggelar pesta pernikahan kembali di negara ini?” Ornado berkata sambil berusaha menahan tawa gelinya mendengar penjelasan Alvero tentang siapa saja yang berencana ikut datang ke Indonesia.


“Ah… anggap saja ini sebagai acara berlibur untuk menenangkan pikiran dan meregangkan otot-otot tubuh setelah peristiwa menegangkan yang pernah kami alami saat itu. Bagi beberapa orang, liburan ini merupakan hadiah karena jasa mereka yang sudah membantu kerajaan.” Perkataan Alvero sukses membuat Deanda tersenyum bangga sekaligus bahagia.


Beberapa waktu ini Deanda melihat banyak perubahan dari Alvero yang tidak terlihat searogan dan sekeras kepala seperti dulu. Banyak hal yang membuat Alvero terlihat lebih bijaksana.


Dan hal itu justru membuat Alvero bukan terlihat lemah, namun justru terlihat semakin berwibawa, dan jiwa kepemimpinannya semakin terlihat.


Membuat Alvero menjadi raja yang selain disegani, tapi juga dihormati dan disayangi oleh rakyat dan orang-orang di sekitarnya.


“Begitukah?” Ornado berkata singkat.


“Karena itu Ad, sebenarnya kami tidak mau merepotkanmu. Aku tahu tidak mudah dan pasti merepotkanmu jika harus mengurus semua orang yang akan ikut bersama kami, karena jumlah kami yang banyak. Karena itu….”


“Alvero! Mi consideri ancora tu amico?” (Apa kamu masih menganggapku sahabatmu?) Ornado langsung memotong perkataan Alvero dengan suara tegas, membuat Alvero langsung tersenyum.


Sedang Cladia sedikit tersentak dan langsung menoleh ke arah Ornado, begitu mendengar perkataan cukup keras dari Ornado, membuat Ornado dengan cepat mengubah raut wajahnya yang tegang dan tersenyum lembut ke arah istrinya.


Membuat Cladia pada akhirnya hanya bisa tersenyum dan kembali melanjutkan kesibukannya, membiarkan Ornado kembali berbicara serius dengan Alvero.


Jika itu Cladia, Ornado akan selalu menatapnya dengan tatapan lembut dan penuh cinta secara otomatis, apapun dan bagaimanapun situasi yang dihadapinya.


“Non sei solo un amico. Anche per me sei piὺ di un fratello. Lo sai meglio di chiunque altro.” (Bagiku kamu bukan sekedar sahabat. Bahkan bagiku kamu lebih dari seorang saudara. Kamu lebih tahu dari siapapun tentang itu). Alvero langsung menanggapi perkataan Ornado.


Deanda yang tidak mengerti tentang Bahasa Italia hanya bisa memandangi wajah Alvero, dengan raut wajah penasaran.


“Kalau begitu jangan pernah bicara tentang bagaimana kamu merepotkanku. Kalau tidak ingin aku menghitung apa saja yang sudah kulakukan untukmu dan memintamu membayar kembali semua itu.” Deanda yang berada dalam pelukan Alvero langsung tersenyum, melihat bagaimana Ornado adalah satu-satunya orang dekat Alvero yang berani berkata dengan nada keras kepada Alvero, walaupun Deanda tahu, Ornado tidak pernah benar-benar bersitegang dengan Alvero.


Dari cerita Alvero kepadanya, Deanda tahu bahwa kedekatan Ornado dan Alvero boleh dibilang sudah sedekat hubungan antara dua saudara kembar pengawal pribadi Alvero, Erich dan Ernest. Dimana jika ada salah satu dari mereka yang terluka atau bersedih, yang lain juga akan ikut merasa terluka dan bersedih.