
"Mau apa Ele ke tempat seperti ini? Apa ada kenalan atau teman dekat Ele yang tinggal di sini?" James berguman pelan dengan mata menatap ke arah taksi di depannya dengan tatapan mata menyelidik.
"Apa tim IT sudah salah mengirimkan posisi Ele berada? Tapi plat nomer taksi itu, sama dengan yang ditumpangi oleh Elenora." Lagi-lagi James bergumam pelan dan memperlambat laju mobil yang dikendarainya, karena taksi di depannya juga memperlambat kecepatannya.
Wajah James semakin heran begitu melihat taksi itu berhenti di sebuah gedung apartemen yang bagian luarnya terlihat tidak terlalu terawat. Bahkan kondisinya tidak jauh beda dengan sebuah rumah susun, bukan seperti sebuah apartemen.
Hati James semakin bertanya-tanya ketika dilihatnya Elenora turun dari taksi dengan membawa semua barang bawaannya, termasuk koper yang digunakannya untuk pergi ke Bali bersamanya.
Eh, apa Ele mau menginap di tempat salah seorang temannya yang tinggal di apartemen itu? Bukannya teman perempuan yang cukup dekat Ele hanya Tina, dan dia tidak tinggal di daerah ini?
James bertanya-tanya dalam hati sambil mulai mencari parkir untuk mobilnya, berencana mengikuti Elenora sampai masuk ke apartemen itu.
Elenora yang tidak sadar bahwa James sedang mengikutinya, terus berjalan sambil menarik pegangan tas koper berodanya.
Begitu sampai di depan pintu kamar apartemennya, Elenora terdiam tanpa membuka pintu tersebut, karena adanya suara nada panggilan dari handphonenya.
"Ah, Gavino..." Elenora berbisik pelan, namun bisikan itu bisa didengar dengan begitu jelas oleh James yang sedang bersembunyi di balik tembok, yang posisinya berdekatan dengan posisi kamar apartemen Elenora yang berada di bagian paling pojok gedung, dimana di sampingnya terdapat tangga untuk naik dan turun.
"Buon pomeriggio Elenora." (Selamat sore Elenora). Suara ramah dari Gavino langsung terdengar begitu Elenora mengangkat panggilan teleponnya.
"Buon pomeriggio anche a te Gavino." (Selamat sore juga Gavino). Elenora segera membalas sapaan hangat dari Gavino.
James yang mendengar bagaimana Elenora menyebutkan nama Gavino, membuat dada James berdetak dengan lebih keras dari biasanya, dan terasa begitu tidak nyaman baginya.
"Sudah cukup lama tidak mendengar kabar tentangmu Elenora. Bagaimana kabarmu di sana Elenora?" Gavino yang masih berkutat dengan file-file yang ada di depannya bertanya dengan senyum di wajahnya, menunjukkan dia begitu merindukan suara gadis yang sedang dihubunginya saat ini.
"Ah, ya. Aku sibuk akhir-akhir ini. Jangankan dirimu, aku bahkan belum sempat menghubungi kedua orangtuaku beberapa waktu ini. Tapi aku baik-baik saja." Elenora berkata sambil melepaskan pegangan tangannya pada kopernya dan mulai mencari kunci kamar apartemennya di tas jinjingnya, yang lupa dia simpan di bagian mana.
"Senang mendengar kamu baik-baik saja di sana. Apa kamu menyukai pekerjaanmu di sana?"
"Ah, pekerjaanku di sini hampir sama dengan yang sudah aku lakukan bersama Afro di sana. Aku masih mengalami sedikit kesulitan, tapi aku akan terus belajar agar bisa secepatnya aku menjadi seorang yang ahli dalam pekerjaanku yang sekarang." Gavino tertawa renyah mendengar perkataan Elenora yang penuh dengan aura optimis.
"Kenapa kamu tidak menerima penawaranku saja? Aku sudah bilang aku akan menempatkanmu di tempat yang paling tepat di perusahaanku, sesuai dengan bakatmu. Dan juga, menempatkanmu di sisiku sebagai satu-satunya...."
"Gavino, aku yakin saat ini kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu, kenapa tiba-tiba menghubungiku?" Elenora buru-buru mengalihkan pembicaraan mereka yang mulai mengungkit tentang keinginan Gavino untuk memperkerjakannya, sekaligus menjadikan dia seorang kekasih baginya, bahkan istrinya.
"Kamu tahu pasti jawabanku Elenora. Kenapa masih bertanya tentang itu? Aku sungguh merindukanmu Elenora..."
"Ah, bagaimana tentang file kerjasama yang waktu itu Afro minta darimu? Apa sudah beres?" Di seberang sana, Gavino langsung tertawa begitu mendengar bagaimana Elenora yang berusaha keras mengalihkan pembicaraan begitu mendengar dia mengatakan bahwa dia merindukan gadis itu.
"Elenora, aku serius, aku benar-benar merindukanmu dan...."
Sepertinya lebih baik aku mengucapkan hal-hal manis seperti itu saat kami berdua bertemu, sehingga dia tidak bisa lagi menghindarinya. Aku akan mengatakan langsung di depannya sambil menikmati wajah lembutnya.
Gavino berkata dalam hati sambil menghela nafasnya.
"Rasanya ingin sekali malam ini aku terbang ke Indonesia untuk menemuimu." Gavino berkata sambil tertawa kecil.
"Kamu tidak perlu melakukan itu. Aku akan pulang ke Italia dalam waktu dekat." Elenora berkata pelan sambil terus mencari kuncinya.
Ap... apa maksudnya? Ele... akan pulang ke Italia? Kenapa... kenapa dia memutuskan hal seperti itu tanpa memberitahuku? Ad mengatakan kalau dia akan memberiku waktu. Tidak mungkin kalau Ad yang mengirim Elenora ke Italia seperti ancamannya waktu itu. Tidak mungkin di belakangku Ad melakukan hal seperti ini padaku. Tapi... kenapa Ele tiba-tiba mengatakan kepada Gavino bahwa dia akan pulang ke Italia?
James berkata dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya dengan begitu erat.
Ada sebuah rasa sakit yang terasa begitu menyakitkan yang tiba-tiba dirasakan oleh James begitu mendengar Elenora mengatakan bahwa dalam waktu dekat dia akan kembali ke Italia.
Selain itu, ada rasa takut dan juga tidak rela yang membuat James menelan ludahnya dengan kasar, dengan nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak.
Saat ini James bisa merasakan bahwa emosinya terasa begitu teraduk-aduk saat mendengar Elenora mengatakan bahwa dia akan kembali ke Italia kepada Gavino.
Dada James bergetar hebat dengan kepalan tangannya yang semakin kuat, sehingga dia bisa merasakan bahwa jika saat ini dia sedang memegang sesuatu, dia pasti akan bisa meremukkan benda itu dalam genggaman tangannya.
Meski James tidak bisa mendengar perkataan Gavino dari seberang sana, ingatan tentang kenyataan bahwa Gavino bahkan sudah menyatakan perasaan cintanya pada Elenora, membuat dada James sangat nyeri hingga sakitnya terasa di seluruh tubuhnya.
Apa Ele... bermaksud menerima pernyataan cinta Gavino? Apa kali ini Ele akan kembali meninggalkanku tanpa jejak seperti waktu itu?
Pikiran dalam hati James tentang itu bahkan membuat mata James yang sedang mengintip ke arah Elenora yang terlihat masih berbincang dengan Gavino di telepon terasa perih, panas dan terlihat memerah.
"Gavino, maaf... aku tutup teleponnya dulu ya. Aku harus mencari kunci apartemenku terlebih dahulu agar bisa segera masuk ke dalam."
Apartemennya? Ele…. Bermaksud tinggal di tempat seperti ini?
James berteriak dalam hati dengan wajah terlihat kaget sekaligus frustasi.
Setelah Gavino menjawab iya, Elenora langsung menutup panggilan teleponnya, dan dengan kedua tangannya mulai mengobrik-abrik isi tak jinjingnya, sampai....
"Akh!" Elenora terpekik kaget dan hampir saja berteriak minta tolong ketika dirasakannya sebuah tangan yang kokoh, mencekal pergelangan tangan kirinya dengan begitu erat, bahkan bukan hanya sekedar memegang, tapi mencengkeramnya.
"Jam.... James...." Elenora berkata pelan dengan tatapan mata tidak percaya dan kaget, sambil menutup bibirnya dengan telapak tangan kanannya begitu melihat siapa yang dengan begitu tiba-tiba sudah mencekal pergelangan tangannya dengan begitu erat.