
“Eh… selamat malam Pak. Ini mobil Bapak?” Satpam itu bertanya sambil menatap kagum ke arah James dan Elenora, yang dalam pemandangan matanya merupakan sepasang bule tampan dan cantik, yang terlihat serasi dan terlihat seperti orang yang benar-benar kaya dari penampilannya.
“Iya pak. Kalau tidak keberatan, bisakah Bapak bergeser sedikit agar aku bisa membuka pintu mobil?”
“Ah ya, silahkan Pak… Silahkan….” Satpam itu segera menggeser tubuhnya ke samping dengan tatapan kagumnya masih terus terlihat saat dia menatap ke arah James dan Elenora, juga mobil mewah itu.
James langsung mendekat ke arah mobilnya, membukakan pintu di bagian kiri, dan memaksa Elenora untuk masuk kesana, dan dengan buru-buru menutup pintu mobilnya kembali begitu Elenroa sudah terlihat duduk di sana.
“Pak.” Sambil berjalan ke arah pintu mobilnya yang di sebelah kanan, James melambaikan tangannya memberi kode pada satpam itu untuk mendekat ke arahnya.
Dengan sikap tergopoh-gopoh, satpam itu segera mendekat ke arah James yang tiba-tiba saja mengambil dompet dari saku belakang celananya, dan membukanya.
Setelah itu dengan cepat James menarik beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan dari dalam sana.
“Tolong jaga barang-barang milik nona itu. Yang sekarang ada di depan pintu kamar apartemen nomer xxx. Tidak lama lagi, akan ada orangku yang mengambil barang-barang itu. Harap menjaganya jangan sampai hilang satupun.” James berkata sambil menyodorkan lembaran uang berwarna merah muda itu, membuat mata satpam itu melotot karena kaget, sekaligus berbinar karena senang, tidak menyangka akan mendapatkan uang sebanyak itu hanya untuk menjaga barang yang akan diambil oleh orang lain.
“Siap Pak. Saya akan menjaganya dengan baik, dengan seluruh jiwa raga saya.” Dengan penuh semangat, satpam itu segera menjawab permintaan James padanya, sambil meletakkan telapak tangannya lurus dengan keningnya, memberikan sikap penghormatan kepada James yang hanya tersenyum tipis melihat tindakan lebay dari satpam itu.
Setelah itu, dengan cepat James naik ke mobilnya sendiri, di bagian pengemudi dan mulai melajukan mobilnya, meninggalkan kawasan apartemen tempat Elenora berencana tinggal, dan membiarkan Elenora yang tampak duduk melamun di sampingnya, dengan mata memandang ke arah luar jendela yang ada di samping kirinya.
Dengan perlahan, James menghela nafasnya dengan pelan, seolah takut suara helaan nafasnya mengganggu lamunan Elenora, sambil melirik ke arah tangan kiri Elenora yang ada di pangkuannya, saling menggenggam dengan tangan kanannya.
Melihat tanda merah berbentuk melingkar di sepanjang pergelangan tangan itu, ada rasa bersalah pada diri James karena tadi sudah terlalu kuat mencengkeram pergelangan tangan Elenora, sehingga meninggalkan warna merah di kulitnya yang putih mulus.
“Maaf kalau tadi aku menyakiti pergelangan tanganmu Ele.” Permintaan maaf dari James yang diucapkannya dengan nada pelan, membuat mau tidak mau Elenora menoleh ke arah James, sambil telapak tangan kanannya menutupi pergelangan tangan kirinya itu.
“Apa itu terasa sakit? Aku akan mampir ke apotek untuk membeli obat memar untukmu.”
“Eh, tidak perlu James. Pergelangan tanganku baik-baik saja. Jangan terlalu dipikirkan. Jangan khawatir. Beberapa menit lagi pasti akan menghilang dengan sendirinya.” Elenora segera menanggapi perkataan James, sekaligus menolak penawaran James padanya barusan.
Setelah itu, Elenora maupun James lebih banyak saling berdiam diri, tanpa ada satupun dari mereka yang ingin memulai pembicaraan karena sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Elenora yang sibuk berpikir bagaimana caranya agar malam ini dia bisa pergi, agar tidak merepotkan James, karena membayangkan apa yang sedang direncanakan oleh James padanya, membuat dadanya berdegup kencang, dengan kedua tangannya yang terasa basah karena begitu gugupnya.
Sedang James, sibuk dengan pikirannya yang kacau karena ingat tentang pembicaran Elenora di telepon dengan Gavino yang mengatakan bahwa tidak lama lagi, Elenora mengatakan bahwa dia akan kembali ke Italia.
Saat sampai di depan lobi hotel, dengan cepat James yang turun dari mobilnya disambut oleh petugas hotel yang langsung menerima kunci mobil yang diserahkan James agar petugas itu bisa membawanya ke tempat parkir, setelah dia dan Elenora keluar dari mobil.
Di sisi lain, petugas hotel yang lain langsung membukakan pintu mobil untuk Elenora, dan mempersilahkan Elenora untuk keluar dari mobil dengan sikap hormat.
Awalnya, Elenora tetap berdiam diri, duduk dengan diam di tempatnya, seolah itu bisa mengulur waktunya untuk menghadapi apa yang akan terjadi ke depannya.
Namun karena merasa tidak enak hati dengan petugas hotel yang masih dengan setia menunggunya keluar dengan tubuh sedikit membungkuk itu, akhirnya dengan enggan Elenora keluar dari mobil.
Melihat sikap canggung Elenora, James hanya terdiam di tempatnya berdiri, menunggu Elenora datang mendekat kepadanya, tanpa mengucapkan sepatah katapun, hanya matanya yang terus memandang ke arah Elenora tanpa berkedip sedetikpun, menunggu gadis itu sekaligus mengamatinya, seolah takut kalau gadis itu tiba-tiba saja melarikan diri darinya lagi seperti tadi.
“Ikuti aku.” Begitu Elenora berada di dekatnya, James langsung memberikan perintah agar Elenora mengikuti langkah-langkahnya memasuki bagian dalam gedung hotel itu.
Dengan langkah gugup, ragu dan tidak percaya diri, Elenora berjalan di belakang James yang langsung menghentikan jalannya, lalu mundur dua langkah ke belakang.
Dan tiba-tiba saja, James menggerakkan tangan kirinya ke bagian belakang tubuh Elenora yang sekarang berada di samping kirinya, lalu menepuk lembut bagian belakang pinggang Elenora dengan telapak tangannya, sambil mendekatkan bibir dan hidungnya ke telinga Elenora yang langsung tersentak kaget dan dada yang berdetak dengan sedemikian kencangnya.
“Ele, kalau kamu berencana melarikan diri lagi, hentikan pemikiran bodohmu itu. Dan jika kamu terus ragu untuk berjalan di sampingku, mengikutiku, kali ini aku akan benar-benar mebopongmu dan membawamu dengan paksa ke kamarku, agar kamu tahu aku serius, kalau aku tidak akan membiarkanmu kembali ke apartemenmu itu, atau ke tempat lain yang kamu putuskan dengan ceroboh.” James berbisik pelan ke arah telinga Elenora yang wajahnya langsung memerah tanpa bisa dia cegah, akibat bisikan James yang begitu dekat di telinganya, sehingga dia bisa merasakan hangatnya hembusan nafas James di tengah hawa dingin yang dia rasakan sore ini.
Dan akhirnya tanpa menjawab ancaman James, Elenora mempercepat langkahnya, mendahului James, yang justru membuat James tersenyum geli.
Ist… gadis itu… benar-benar ceroboh.
James berkata dalam hati sambil menyusul langkah Elenora, dengan menahan senyum gelinya.
“Ele, apa kamu sudah tahu dimana letak kamarku? Sepertinya semangat sekali kamu ingin segera sampai di sana.” Elenora yang mendengar pertanyaan James, langsung menghentikan langkahnya, menunggu James melangkah ke arahnya, setelah tersadar dengan tindakannya yang ceroboh dan akhirnya mempermalukan dirinya sendiri di depan James.
James sendiri, tanpa menunggu jawaban Elenora yang pastinya memang tidak tahu dimana letak kamarnya, segera berjalan mendekati Elenora, dan menepuk lembut bahunya begitu sampai di samping gadis itu, membuat Elenora tersentak kaget dengan dada bergemuruh hebat, karena sentuhan lembut dari James yang belum ada lima menit sudah dilakukan oleh James sebanyak dua kali padanya.
Namun akhirnya Elenora berjalan beriringan dengan James, menuju lift.
Saat James sudah sampai di depan pintu kamar hotelnya, dan bahkan sudah masuk dua langkah melewati pintu itu, Elenora tetap berdiri mematung di depan pintu tanpa bergerak sedikitpun, membuat James kembali membalikkan tubuhnya, dan mendekat lagi ke arah Elenora yang terdiam dengan wajah gugupnya.