
"Wah... apa maksudnya dengan semua ini Dario? Kenapa membawa begitu banyak barang untuk kami?" Mama Jeremy bertanya sambil matanya memandang kepada puluhan barang yang dibawa masuk ke rumah mereka malam itu.
"Hanya sekedar oleh-oleh untuk kalian berdua, dan juga Cladia. Kita sudah lama tidak bertemu... Sejak mama meninggal dan Ornado kembali bersama papa ke Italia." Dario berkata sambil memberikan kode kepada beberapa orang yang sudah membantunya membawa puluhan barang itu untuk segera pergi meninggalkannya sendiri, agar bisa mengobrol secara pribadi dengan orangtua Jeremy.
"Kenapa harus serepot itu? Duduklah Dario. Bagaimana kabar papamu dan Ornado? Uncle cukup kaget mendapat teleponmu yang mengatakan ingin bertemu kami secara pribadi." Papa Jeremy berkata sambil mengambil posisi duduk diikuti oleh istrinya, dan juga Dario yang duduk tepat di hadapan mereka, dengan senyum di wajahnya yang selalu membuat orang yang tidak mengenalnya merasa nyaman dengan sikap ramahnya itu.
"Mereka berada di Italia. Sebenarnya kedatanganku kali ini, karena ada sesuatu yang sangat penting ingin aku bahas bersama kalian berdua." Papa dan mama Jeremy saling memandang dan tersenyum mendengar perkataan dari Dario.
"Tentu saja itu pasti masalah penting, kalau tidak, tidak mungkin tiba-tiba kamu datang ke berkunjung ke rumah kami setelah bertahun-tahun kita tidak bertemu. Kira-kira apa yang bisa kami bantu? Katakan saja pada kami tanpa perlu ragu dan takut." Papa Jeremy menanggapi perkataan Dario dengan santai.
"Uncle, Auntie... sebenarnya kedatangannya kali ini, sengaja untuk meminta agar kalian berdua, membatalkan rencana perjodohan antara Ornado dan Cladia." Tanpa basa basi, Dario segera menyampaikan keinginannya kepada kedua orangtua Jeremy dan Cladia, yang tentu saja langsung tersentak kaget.
"Itu... Darimana kamu tahu tentang itu? Bukankah itu adalah isi dari surat wasiat mamamu kepada Ornado? Apa Alberto memberitahukan hal itu padamu? Dengan alasan apa tiba-tiba kamu meminta hal seperti itu? Apa Alberto dan Ornado tahu tentang pertemuan kita hari ini? Dan maksud kedatanganmu pada kami?" Papa Jeremy langsung mencerca Dario dengan berbagai pertanyaan.
Mendapatkan berbagai pertanyaan itu, dada Dario terasa sesak dan ingin marah, tapi dia tahu saat ini bukan saat yang tepat untuk dia menunjukkan kemarahannya, dia harus bisa menahan diri jika ingin tujuannya tercapai dengan sukses, untuk mendapatkan Cladia di masa depan.
"Tidak... bukan papa yang mengirimku kemari. Semua atas inisiatifku sendiri setelah aku tanpa sengaja membaca surat wasiat itu ketika papa yang sedang mengenang mama lupa mengembalikan semua barang-barang kenangan mama pada tempatnya." Dario berkata dengan suara santai, matanya menatap ke arah tangan mama Cladia yang tampak saling bertaut dan bergerak-gerak, bergesek satu dengan yang lain, menunjukkan sikap tidak tenang.
Karena sikap kasar Dario sejak kecil, ketika mama Ornado memutuskan tinggal di Indonesia, dia meminta pada Alberto agar mendidiknya, sedang dia yang akan mendidik Ornado.
"Aku ingin menikahi Cladia, menggantikan Ornado sebagai laki-laki yang sudah dijodohkan dengan Cladia, jadi batalkan rencana menjodohkan Cladia dengan Ornado secepatnya." Lagi-lagi... tanpa basa basi Dario langsung menyampaikan keinginannya untuk meminta Cladia menjadi istrinya di masa depan.
"Eh, Dario... Cladia masih sangat muda, dia masih sekolah, belum waktunya untuk membicarakan tentang pernikahannya yang masih lama terjadi." Dario tersenyum miring mendengar perkataan dari mama Cladia yang terdengar sedikit gugup.
"Tentu saja, bukan sekarang aku ingin menikahi Cladia. Hanya saja... sekarang aku minta kalian untuk membatalkan rencana perjodohan antara Cladia dan Ornado, mengganti surat wasiat kalian dengan menuliskan ulang, bahwa yang akan menjadi suami Cladia di masa depan adalah aku." Mata papa Cladia langsung terbeliak mendengar permintaan dari Dario yang terdengar begitu kurang ajar baginya.
"Kenapa Uncle? Kalian memiliki hak untuk menolak permintaan dari mama yang ingin menjodohkan Cladia dan Ornado. Lagipula, surat wasiat itu dibuat mama ketika Ornado dan Cladia masih berusia sangat kecil, dan toh mama sudah meninggal sekarang, dia tidak akan bisa lagi menyatakan protesnya." Mama Cladia sedikit menggigit bibirnya mendengar kata-kata Dario yang terdengar sangat kasar dan merendahkan baginya.
"Aku adalah kakak Ornado, aku yang lebih berhak mendapatkan segalanya untuk pertama kalinya dibandingkan dengan Ornado. Termasuk Cladia! Aku yang pertama kali jatuh cinta padanya! Aku yang lebih berhak menjadi suami Cladia! Dan aku akan melakukan apapun untuk membawa Cladia padaku!" Perkataan Dario cukup membuat papa Cladia menghembuskan nafas kasar untk menahan emosinya.
Bagaimanapun, dia adalah orang yang jauh lebih tua dari Dario, sehingga dia cukup tersinggung dengan cara bicara maupun apa yang dikatakan oleh Dario padanya barusan.
"Dario, jujur saja, kami berdua memang sepakat untuk menjodohkan Cladia dengan Ornado, dan sampai kapanpun, kami tidak berniat untuk mengubah kesepakatan itu. Cladia akan tetap menikah dengan Ornado, apapun yang terjadi. Dan kami juga akan membuat surat wasiat yang sama dengan yang tertulis pada surat wasiat mamamu tentang perjodohan ini." Mendengar kata-kata papa Jeremy, tanpa disangka-sangka oleh mereka, Dario menggebrak meja yang ada di depannya, membuat mereka berdua tersentak kaget, dengan sikap Dario yang bagi orangtua Cladia terlihat tidak pantas dilakukan oleh seorang yang jauh lebih muda dari mereka.