
“Cla, kamu baik-baik saja?” Laurel langsung mendekat ke arah Cladia sambil menyentuh lembut bahunya.
Setelah Cladia bisa memastikan bahwa Dario dan Dante sudah pergi menjauh, baru dia berani menjauhkan kepalanya dari tubuh Ornado, dan menoleh ke arah Laurel, yang berada di sisinya, dan sedang menyodorkan gelas berisi air putih padanya.
“Minumlah terlebih dahulu agar kamu merasa tenang.” Laurel berkata sambil mengelus lembut bahu Cladia yang langsung menuruti permintaan dari Laurel.
“Alvero, apa istri Ornado ada masalah? Sepertinya dia terlihat sakit.” Dengan pelan, Enzo berbisik ke telingan Alvero yang langsung menempelkan telunjuknya ke bibirnya, memberi tanda kepada Enzo agar tidak melanjutkan pertanyaannya.
“Maaf, sepertinya aku tidak bisa menemani kalian lagi untuk saat ini, aku harus kembali ke resort, untuk menemani Cladia beristirahat.” Apa yang dikatakan Ornado membuat Cladia mendongakkan kepalanya, sambil tangannya yang masih memeluk erat lengan Ornado bergerak pelan menggoyang-goyangkan tangan suaminya, yang langsung menundukkan wajahnya untuk menatap ke arah Cladia.
“Tidak perlu sampai seperti itu Al. Biarkan yang lain yang mengantarku kembali ke restort. Kamu dan yang lain bisa melanjutkan kegiatan kalian. Atau aku tetap beristirahat sambil menunggumu di tempat ini, tidak akan jadi masalah.” Cladia berkata lirih dengan tatapan serius, memang dia tidak ingin membuat jadwal acara berlibur yang lain berantakan, termasuk jadwal untuk suaminya.
“Aku datang ke sini salah satu alasannya karena ingin berlibur bersamamu. Kalau tidak ada kamu buat apa akua da di sini?” Ornado berkata sambil mengelus puncak kepala Cladia.
“Tenang Ad, jangan khawatirkan kami. Yang penting sekarang adalah kesehatan Cladia. Seperti katamu tadi, temani dia untuk beristirahat dan menenangkan diri. Dan untukmu Cla, lebih baik turuti kata Ornado. Istirahatlah terlebih dahulu, agar nanti malam kita bisa bertemu lagi saat makan malam. Dan aku harap saat itu kondisimu sudah pulih dengan sempurna. Kalau kamu bersikeras, justru akan membuat kondisimu tidak bisa cepat oulih dengan baik.” Mau tidak mau, perkataan dari Laurel membuat Cladia mengangguk dan menerima ide Ornado.
“Dave, kamu dan Laurel, tolong bantu aku ya. Kalian yang lebih mengerti dengan orang-orang dareah ini. Alvero dan semuanya, maaf jika hari ini aku tidak bisa menemani kalian hingga tuntas. Jika ada apa-apa, Dave dan Laurel bisa membantu kalian. Kamu bisa hubungi Alex jika membutuhkan bantuan Dave.” Dave langsung menganggukkan kepalanya, tanda setuju dan menyanggupi permintaan Ornado.
“Oke, kalau begitu kami pergi dulu. Cladia juga harus segera mengganti pakaiannya yang basah karena aku, sebelum itu justru membuatnya sakit. Sampai ketemu di acara makan malam kita nanti.” Ornado mengakhiri kata-katanya sambil membantu Cladia untuk bangkit dari duduknya, dan segera mengajaknya kembali ke resort.
“Hati-hati Cla, sampai ketemu nanti malam.” Deanda segera mengucapkan kata-katanya sebelum Ornado dan Cladia semakun menjauh.
# # # # # # #
“Kamu benar-benar kurangajar!” Begitu sampai di dekat mobilnya yang terparkir, dan jauh dari pengamatan orang lain, Dario langsung memaki Dante sambil mencengkeram dengan erat bagian leher pakaian yang dikenakan oleh Dante.
“Beraninya kamu membuat Cladia ketakutan seperti itu!” Dario kembali memaki Dante dengan matanya yang merah karena kemarahan yang meledak-ledak.
“Maaf Tuan.” Dante menjawab singkat, dengan kepala tertunduk.
“Kamu tahu bagaimana kerasnya usahaku dalam menyiapkan segala sesuatunya, untuk menyambut kedatangan Cladia di sisiku! Bahkan dengan sangat berhati-hati aku berusaha mendekatinya tanpa membuatnya curiga. Tapi kamu justru merusak semuanya!” Dario berkata sambil memberikan satu pukulan di wajah Dante yang tetap diam tanpa berani menghindar, apalagi membalas pukulan itu.
Mendapatkan pukulan telak di wajahnya, Dante hanya bisa meringis menahan sakit, tanpa menggerakkan tangannya untuk mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya akibat pukulan Dario barusan.
“Itu bukan alasan untuk membuat wanitaku ketakutan seperti itu!” Dario menepis kotak yang ada di tangan Dante dengan satu tangannya yang bebas.
Lalu dengan sikap geram, Dario menginjak-injak kotak itu sehingga terdengar suara keramik yang saling berbenturan dan pecah dari dalam sana, seolah apa yang ada di dalam kotak itu bukanlah suatu benda yang berharga bagi Dario.
“Bagiku! Sebuah senyuman Cladia sangat berharga! Kamu justru membuat dia bukan tersenyum, tapi ketakutan yang bahkan memandangku saja dia tidak sudi saat aku berpamitan tadi!”
“Kamu sudah merusak kesempatanku untuk bisa lebih dekat dan mendapat kepercayaan dari Cladia!”
“Kamu merusak semua rencanaku!”
Dario beberapa kali berteriak marah dalam bahasa Italia, membuat beberapa orang yang sempat melihatnya hanya memandang kejadian itu dengan heran, sambil menerka-nerka, tanpa berani mendekat.
“Maaf Tuan.” Lagi-lagi hanya itu yang bisa keluar dari bibir Dante yang memang terlihat menyesal sudah membuat majikannya terlihat begitu marah.
“Aku harus segera melaksanakan rencanaku berikutnya. Meskipun rencana kecilku ada yang sudah gagal. Aku harus mulai mengumpulkan kekuatan orang-orang yang bisa menghancurkan Grup Xanderson secepatnya.” Dario berkata sambil melepaskan cengkereman tangannya dari kerah pakaian Dante.
Dari wajahnya, terlihat jelas bahwa saat ini Dario terlihat sungguh kecewa sekaligus frustasi karena rencananya untuk bisa menarik simpati Cladia dan berusaha dekat dengan wanita cantik itu gagal total karena ulan Dante yang sudah membuatnya ketakutan.
“Dan kamu Dante! Ingat dengan baik! Jangan coba-coba mengulangi apa yang sudah kamu lakukan pada Cladia hari ini! Atau dengan tanganku sendiri, aku akan mengirimmu ke neraka menyusul ayah tirimu!” Dengan suara yang menunjukkan bahwa dia sungguh kesal, Dario berkata sambil melangkah ke pintu mobilnya di bagian belakang, membukanya, dan duduk dengan menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan gerakan kasar.
Dante yang melihat itu segera membersihkan ujung bibirnya yang mengeluarkan darah dengan punggung telapak tangannya, dan dengan cepat, tanpa berani mengeluarkan suara apapun segera ikut masuk ke dalam mobil, mengambil poisis duduk di kursi pengemudi, dan mulai mengemudikan mobil itu untuk meninggalkan tempat parkir.
“Setelah kita kembali ke Italia, cari waktu yang tepat untuk aku dapat bertemu dengan Tuan Shaw, untuk melanjutkan rencanaku agar bisa menumbangkan Grup Xanderson.” Dario segera memberikan perintah kepada Dante.
“Baik Tuan.” Dengan cepat Dante menjawab perintah dari Dario yang dilirknya dari kaca spion sedang memandang ke arah jendela dengan tatapan tajam, menunjukkan bahwa saat ini dia sedang berpikir keras untuk merencanakan tindakan selanjutnya agar dapat segera membawa Cladia di sisinya, memisahkannya dari Ornado dengan paksa, jika Ornado tidak mau melepaskannya dengan sukarela.
Dan dari sikap Ornado terhadap Cladia, yang selama ini sudah dilihat Dario, dan cukup membuat Dario selalu naik pitam dan dipenuhi dengan rasa cemburu, Dario yakin, bahwa Ornado tidak akan pernah mau dengan sukarela untuk melepaskan Cladia.
Sehingga Dario tahu, dia harus mengambil dengan paksa wanita itu dari sisi Ornado selagi bisa dan ada kesempatan untuk itu.