My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
BERUSAHA KERAS MENAHAN ELENORA



Hal itu juga langsung mengingatkan James bahwa di luar sana masih terdapat Alex yang bisa sewaktu-waktu mencari-cari kesempatan untuk bisa bersama dengan Elenora.


Dengan hanya memikirkan hal itu membuat dada James terasa tidak nyaman dan panas.


Akan tetapi, James tetap bersikeras bahwa itu bukan rasa cemburu, hanya rasa tidak suka karena Alex mengganggu waktu kerja Elenora sebagai sekretaris pribadinya.


Sebuah pemikiran aneh dari James yang jelas-jelas sengaja dibuat-buat olehnya yang sampai saat ini tetap menyangkal perasaannya yang sesuanguhnya terhadap Elenora.


"Eh, bukannya kamu mengatakan akan memeriksa kembali berkas-berkas yang akan diperlukan untuk meeting dua hari lagi?" Elenora yang sedang mengantongi handphonenya dan berniat bangkit dari duduknya langsung memandang ke arah James begitu mendengar pertanyaan dari James.


"Iya, aku akan memeriksanya kembali. Aku akan bawa berkas-berkas itu ke kamarku dan menyelesaikannya di san...."


"Tidak!" James memotong perkataan Elenora dengan cepat, dan dengan nada suara terdengar lumayan tinggi, membuat Elenora sedikit tersentak kaget.


"Ah, maksudku, sebaiknya kamu kerjakan di sini saja, supaya aku juga bisa melihat apakah semua berkas-berkas itu sudah beres." James berusaha berbicara dengan nada setenang mungkin, sedangkan dalam kepalanya, mulai memikirkan kembali tentang Elenora yang akan bertemu dengan Alex, atau melakukan panggilan telepon dengan Dodi, bahkan Gavino.


"Tapi... apa tidak sebaiknya... aku mengerjakannya di kamarku. Supaya kamu bisa bersiap menyambut kedatangan tamu-tamu itu?" Perkataan Elenora membuat James melirik jam di pergelangan tangannya, yang menunjukkan tidak lebih dari 30 menit lagi para tamu dari Gracetian itu akan datang.


Bahkan informasi dari pesan yang dikirimkan oleh Ornado kepadanya, James tahu bahwa pesawat jet pribadi keluarga kerajaan Gracetian itu, sudah mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, yang memiliki jarak tempuh sekitar 15-20 menit dari abndara ke lokasi Bvlgari Resort Bali tempat mereka akan menginap beberapa hari ke depan ini.


(Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai (bahasa Inggris: I Gusti Ngurah Rai International Airport) (IATA: DPS, ICAO: WADD), adalah bandar udara internasional yang terletak di sebelah selatan Bali, Indonesia, tepatnya di daerah Kelurahan Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, sekitar 13 km dari Denpasar. Bandar Udara Internasional Ngurah Rai merupakan bandara tersibuk kedua di Indonesia, setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta.


Bandar Udara Ngurah Rai dibangun pada tahun 1930 oleh Departement Voor Verkeer en Waterstaats (semacam Departemen Pekerjaan Umum). Landas pacu berupa airstrip sepanjang 700 meter dari rumput di tengah ladang dan pekuburan di desa Tuban. Karena lokasinya berada di Desa Tuban, masyarakat sekitar menamakan airstrip ini sebagai Pelabuhan udara Tuban.[2] Tahun 1935 sudah dilengkapi dengan peralatan telegraf dan KNILM (Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaar Maatschappij) atau Royal Netherlands Indies Airways mendarat secara rutin di South Bali (Bali Selatan), yang merupakan nama lain dari Pelabuhan Udara Tuban.


Tahun 1942 South Bali Airstrip dibom oleh Tentara Jepang, yang kemudian dikuasai untuk tempat mendaratkan pesawat tempur dan pesawat angkut mereka. Airstrip yang rusak akibat pengeboman diperbaiki oleh Tentara Jepang dengan menggunakan Pear Still Plate (sistem plat baja).


Lima tahun berikutnya (1942–1947), airstrip mengalami perubahan. Panjang landas pacu bertambah menjadi 1,2 km dari semula 700 meter. Tahun 1949 dibangun gedung terminal dan menara pengawas penerbangan sederhana yang terbuat dari kayu. Komunikasi penerbangan menggunakan transceiver kode morse.


Untuk meningkatkan kepariwisataan Bali, Pemerintah Indonesia kembali membangun gedung terminal internasional dan perpanjangan landas pacu ke arah barat yang semula 1,2 km menjadi 2,7 km dengan overrun 2×100 meter. Proyek yang berlangsung tahun 1963–1969 diberi nama Proyek Bandara Tuban dan sekaligus sebagai persiapan internasionalisasi Pelabuhan Udara Tuban.


Proses reklamasi pantai sejauh 1,5 km dilakukan dengan mengambil material batu kapur yang berasal dari Ungasan dan batu kali serta pasir dari Sungai Antosari – Tabanan.


Seiring selesainya temporary terminal dan runway pada Proyek Bandara Tuban, pemerintah meresmikan pelayanan penerbangan internasional di Pelabuhan Udara Tuban, tanggal 10 Agustus 1966.


Penyelesaian Pengembangan Pelabuhan Udara Tuban ditandai dengan peresmian oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Agustus 1969, yang sekaligus menjadi momen perubahan nama dari Pelabuhan Udara Tuban menjadi Pelabuhan Udara Internasional Ngurah Rai (Bali International Airport Ngurah Rai).


Hanya tinggal sebentar lagi waktu untuk menyambut kedatangan Alvero. Tapi aku tidak mau Alex mengambil kesempatan untuk mendekati Elenora meski hanya 10 atau bahkan 5 menit.


James berkata dalam hati, bertekad untuk tidak perduli bagaimanapun dan dengan cara apapuin, dia akan menahan Elenora sebisa mungkin agar tidak kembali ke kamarnya.


Membayangkan ingatan tentang bagaimana Elenora yang tadi terlihat santai dan senang saat mengobrol dengan Alex… hanya dengan membayangkannya saja rasanya membuat tangan James terkepal erat, dengan perasaan bercampur aduk menjadi satu, menyebabkan dadanya sesak dan kepalanya juga sakit karena itu.


Sebuah rasa yang sampai saat ini berlum pernah dia rasakan seumur hidupnya meskipun begitu banyak gadis cantik yang dikenalnya.


“Tidak, kerjakan saja di sini. Supaya aku juga bisa melihat apakah ada masalah dengan berkas-berkas itu.” Melihat James tetap bersikeras, akhirnya Elenora hanya diam.


Dan tanpa mengatakan apapun, Elenora mulai mengambil map berisi berkas-berkas itu dan memeriksanya kembali.


James sendiri berusaha menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang lain, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Elenora meskipun sebenarnya pikirannya selalu berusaha keras mengingatkan dia untuk berhenti melakukan hal itu jika tidak ingin ketertarikannya kepada Elenora semakin besar.


# # # # # # # #


“Al…” Ornado yang sedang duduk bersantai sambil menikmati pemandangan laut yang ada di depannya, langsung menoleh mendengar panggilan lembut dari istrinya yang baru saja bangun dari tidurnya dan berjalan ke arahnya dari dalam kamar.


Begitu mereka masuk ke dalam kamar resort tadi, Ornado sengaja membiarkan Cladia beristirahat sejenak setelah sebelumnya Cladia kembali memuntahkan isi perutnya.


Ornado segera meminta Cladia untuk membaringkan tubuhnya sambil dia mengoleskan minyak kayu putih di bagian perut dan punggung Cladia.


Sejak kehamilannya, entah kenapa Cladia begitu menyukai bau minyak kayu putih, dan setiap dia mual atau muntah, kehangatan minyak kayu putih di tubuhnya membuat dia merasa begitu nyaman.


Dan hal itu sudah menjadi hal yang begitu diketahui dengan baik oleh Ornado, yang tidak pernah melewatkan hal sekecil apapun tentang istri tercintanya itu.


“Tidurlah, aku akan menjagamu dan Bee dengan baik. Ti amo amore mio.” Ornado yang duduk berselonjor di samping tubuh Cladia yang terbaring, memiringkan tubuhnya, dan berbisik lembut dengan bibirnya menempel pada telinga Cladia.


Hal itu membuat Cladia bisa merasakan hembusan hangat nafas Ornado yang sungguh menenangkan baginya, seperti terpaan angin yang lembut yang membuat kantuk datang kepadanya dengan cepat, apalagi setelah dia muntah-muntah di kamar mandi tadi, tubuhnya terasa tidak bertenaga.


Untuk beberapa lama Ornado membiarkan Cladia terbaring sambil mengelus-elus perut Cladia dengan lembut, sampai akhirnya Cladia jatuh tertidur.


Begitu melihat wanita cantik itu sudah tertidur, dengan lembut Ornado mencium kening Cladia dengan begitu hati-hati namun mesra, agar tidak membangunkannya.