My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
PIKIRAN KACAU ELENORA



Bagi Elenora, yang boleh dikata tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun, apalagi setelah kejadian malam itu… keberadaan James di dalam kamar yang sama, dan pastinya mereka akan tidur di tempat tidur yang sama juga, membuat Elenora berkali-kali menahan nafasnya.


Bahkan saat ini kepala Elenora merasakan sedikit pening karena memikirkan bagaimana dia akan menjalani malam ini, seolah dia sudah hampir pingsan sekarang.


"Apa kamu terbiasa tidak mengunci pintu kamarmu saat tidur?" James berkata sambil mendekat ke arah Elenora begitu melihat bagaimana Elenora yang terlihat memandangnya dengan tatapan aneh, bingung sekaligus gugup karena dia mengunci pintu kamar Elenora dari dalam barusan.


"Ah.... Eh... ti... dak... tidak pernah."


"Hmmm...." James bergumam pelan sambil berjalan semakin mendekat ke arah Elenora yagn boleh dikata sudah seperti orang linglung karena rasa gugupnya.


"Kalau begitu, mulai sekarang, biasakan hal itu. Selalu kunci kamarmu dengan baik saat kamu berada di dalam kamar. Karena aku tidak mau apa yang kita lakukan di dalam kamar menjadi konsumsi publik. Kamar adalah area paling pribadi untuk seseorang, apalagi untuk kita yang sudah menikah. Aku tidak suka jika orang lain sembarangan masuk ke kamar kita." James berkata dengan senyum yang semakin lebar melihat bagaimana Elenora yang terlihat semakin gugup dengan wajahnya yang semakin memerah.


Ele... ti amore... cantik dan sungguh menggemaskan. Seperti perkiraanku ketika melihat Ornado yang selalu menggoda Cladia. Sungguh menyenangkan bisa menggoda istri cantikku ini. Aku beruntung sekali memilikimu Ele... ti amore....


James berkata dalam hati sambil menatap ke arah Elenora yang sibuk menghindari kontak mata langsung dengan James.


"Eh... James, aku akan membersihkan wajahku dan berganti pakaian dulu..." Dengan sikkapnya yang masih begitu gugup, Elenora segera mencari alasan untuk mencari waktu sendiri agar bisa sedikit menenangkan debaran jantungnya yang semakin kencang di dalam sana.


"Oke, panggil aku jika butuh bantuan." James berkata sambil dia sendiri mulai menggerakkan kedua tangannya untuk melepaskan pakaian kasualnya, tanpa perduli Elenora masih berdiri di depannya.


Begitu melihat apa yang dilakukan oleh James, Elenora segera membalikkan tubuhnya, namun dengan cepat James meraih pergelangan tangan Elenora, membuat Elenora tersentak kaget.


"Ele... mulai sekarang... jangan lagi menyembunyikan sosok aslimu dari orang lain. Jangan menutupi atau menyembunyikan kecantikanmu, meskipun kamu harus tetap tampil elegan tanpa mengumbar auratmu. Tampillah apa adanya, supaya orang bisa melihat bahwa istriku... adalah gadis yang cantik baik wajah maupun hatinya. Dan aku bangga untuk itu." Perkataan James disambut dengan sebuah anggukan pelan dari kepala Elenora yang tetap bertahan dalam posisinya tanpa berani menoleh ke arah James.


"Oke, kamu bisa mengganti pakaianmu, kecuali kamu ingin membantuku berganti pakaian, kamu bisa tetap di sini." Elenora langsung menarik tangannya, membebaskannya dari cekalan tangan James begitu James mengucapkan kata-kata yang lagi-lagi diucapkannya untuk menggoda Elenora.


Begitu sampai di dalam kamar mandi setelah dengan sembarangan Elenora mengambil pakaian tidurnya yang berjenis chemise dan juga peignoir untuk menutupinya, kedua tangan Elenroa langsung memegang wastafel yang ada di dalam kamar mandinya, dan menghembuskan nafasnya dengan keras, berharap bisa meredakan gejolak hatinya dengan melakukan hal itu.


(Chemise merupakan baju tidur wanita yang sudah dipakai sejak berabad-abad yang lalu di Yunani. Secara sederhana chemise sendiri dapat digambarkan sebagai gaun panjang sebatas paha atau di bawah lutut yang memiliki potongan menyerupai babydoll dengan tali pundak yang tipis.


Chemise biasanya mempunyai aksen serut di bagian dada, namun beberapa ada yang dihiasi dengan sabuk di bagaian bawah dada, sekitar piggang atau pinggul. Dengan krakterustuk banannya yang adem, baju tidur ini dapat memberikan kesan klasik pada pemakainya.


"Ap... apa malam ini... kami akan melakukan sesuatu seperti suami istri pada umumnya?" Elenora berkata pada dirinya sendiri sambil memandang pantulan wajahnya di depan cermin.


"Apa yang akan kukatakan jika James benar-benar meminta haknya sebagai suami padaku?"


"Apa aku sudah siap?"


"Akh... aku tidak tahu...."


"Bisakah aku menjadi wanita sempurna bagi James?"


"Apa aku bisa membahagiakan James?"


"Apa James tidak akan kecewa padaku yang tidak mengerti apapun tentang hal itu?"


"Apa dia akan puas denganku?"


"Bagaimana ini?"


"Haruskah malam ini?"


Elenora terus menerus bergumam pada dirinya sendiri sambil berjalan hilir mudik, ke sana kemari dengan sikap gugup, wajah frustas, dan kedua tangan saling menggenggam dengan erat. Dan tangan Elenora mulai basah oleh keringat dingin.


Meskipun Elenora tahu dia sangat mencintai James, tapi dalam pikirannya tidak pernah membayangkan untuk melakukan suatu hal yang intim dengan James, yang bahkan dengan mengingat ciuman pertamanya hari ini masih saja membuat lututnya terasa begitu lemas, dan pikirannya menjadi buntu.


James yang sudah mengenakan nightrobenya dan duduk dengan punggung bersandar di sandaran tempat tidur Elenora dan kedua kakinya berselonjor, beberapa kali melirik ke arah kamar mandi dimana dia berharap Elenora segera keluar dari balik pintu itu.


Karena menunggu Elenora yang tak kunjung keluar dari kamar mandi, tadi James sengaja mandi di kamar mandi yang ada di kamar tamu.