My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
MENCARI SOSOK JAMES



Enak saja kalian berani menikmati kecantikan istriku tanpa melihat keberadaanku sebagai suaminya!


James mengomel dalam hati sambil melirik ke arah kedua pramuniaga pria yang awalnya berusaha tetap melihat ke arah Elenora dengan cara menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri agar dapat sedikit melihat sosok Elenora kembali.


Namun lirikan tajam dari James membuat mereka segera menghentikan gerakannya dan buru-buru kembali menyibukkan diri dengan merapikan sekaligus mengisi barang yang ada di rak.


"Hist... jangan melirik pria lain dengan tatapan seperti itu." Laki-laki yang berada di samping gadis yang ada di depan kasir, sedang menunggu antrian untuk membayar barang belanjaannya, berkata sambil siku tangannya menyenggol ke arah lengan gadis itu.


Mendapat teguran dengan nada sedikit marah dari laki-laki yang merupakan kekasihnya itu, gadis itu justru membalasnya dengan cara melirik tajam ke arah laki-laki di sampingnya.


"Enak saja menegur orang lain seperti itu! Memangnya aku tidak melihat bagaimana matamu yang melotot dan jakunmu yang naik turun, gara-gara melihat gadis yang ada di samping laki-laki itu? Kalau aku tidak disini, bahkan mungkin saja kamu sudah meneteskan air liurmu." Gadis itu berkata dengan suara pelan, namun nada suaranya terlihat dia tidak kalah galaknya dengan laki-laki yang tadi menegurnya.


(Jakun (dalam bahasa kedokteran disebut prominentia laryngea) adalah tonjolan di tengah tenggorokan yang terbuat dari tulang rawan tiroid, dinamakan demikian karena letaknya tepat di atas kelenjar tiroid. Pada pria, jakun terlihat lebih menonjol karena pria memiliki laring yang lebih besar. Laring adalah organ yang berperan penting dalam sistem pernapasan dan juga kemampuan berbicara. Dalam sistem pernapasan, laring berfungsi untuk menyalurkan udara ke batang tenggorokan Ukuran laring yang besar ini menyebabkan pada umumnya pria memiliki suara yang lebih berat, besar dan dalam dibanding dengan suara wanita).


Mendapat teguran balik dari kekasihnya, laki-laki itu hanya bisa mengelus-elus tengkuknya, dan melirik ke arah Elenora sekilas, lalu buru-buru berganti melirik ke arah pamuniaga yang di depannya dengan tatapan canggung.


Dan pramuniaga itu hanya bisa tersenyum dan memilih untuk pura-pura tidak mendengar apa yang sedang diperdebatkan oleh pasangan di depannya saat ini.


James yang membawa keranjang belanjaan tampak mengambil beberapa barang yang sebenarnya dia tahu dia masih memilikinya di lemari penyimpanannya di rumah, apalagi biasanya Fred akan membantunya untuk menyiapkan kebutuhannya, sekalian saat dia menyiapkan kebutuhan Ornado, meskipun beberapa hal, kebutuhan Ornado disiapkan oleh tante Ema.


Namun James sengaja mengambil beberapa barang agar Elenora tidak curiga bahwa kedatangan mereka di ....mart ini hanyalah sekedar akal-akalan dari James agar bisa berlama-lama dengan Elenora, yang memilih mengikuti langkah-langkah James, karena dia sendiri tidak ada barang yang perlu dibelinya saat ini.


Awalnya Elenora sengaja lebih dahulu mengambil keranjang kosong untuk barang-barang belanjaan James, namun baru saja Elenora bermaksud mengalungkan bagian pegangan keranjang belanja itu ke lengannya, dengan cepat James langsung mengambilnya, dan dia sendiri yang menenteng keranjang belanja itu.


"Apa tidak ada yang ingin kamu beli Ele?" James akhirnya bertanya setelah melihat Elenora tetap mengikutinya tanpa mengambil satu barangpun dari rak yang ada.


"Ti... tidak... oeahemm...." Elenora menjawab sambil menahan dirinya untuk menguap karena saat ini dirinya benar-benar sudah mengantuk.


"Maaf...." Dengan buru-buru Elenora langsung meminta maaf kepada James karena menguap di depannya, meskipun dia melakukannya dengan sebisa mungkin menahannya.


James yang sebenarnya ingin sedikit berlama-lama di tempat itu akhirnya tersenyum geli melihat rasa kantuk yang sudah mulai menguasai Elenora.


"Tunggu ....sebentar lagi aku selesai berbelanja." James berkata sambil mengambil dengan cepat beberapa barang dari rak.


Elenora sengaja menunggu James yang menyelesaikan pembayaran di kasir di luar pintu ....mart, berharap terpaan angin malam bisa membuat rasa kantuknya pergi.


"Berikan kunci mobilnya padaku." James langsung meminta kunci mobilnya begitu emreka berdua sudah berdiri di samping mobil, membuat Elenora matanya sedikit terbeliak karena kaget, dan kantuknya tiba-tiba hilang karena itu.


"Biar aku yang menyetir. Aku tidak mau mati konyol karena sopirku mengantuk. Lagipula, semalam ini, siapa yang akan bertemu kita dan melihat kalau kita masih bersama dan aku menyetir mobilku sendiri lagi?" James berkata dengan nada bercanda, sambil tersenyum, sambil meraih kunci dari tangan Elenora, dan tidak membiarkan gadis itu menolak permintaannya.


"Mau mampir ke cafe untuk menikmati segelas kopi?" Begitu mereka sudah berada di dalam mobil, James langsung menawarkan kopi pada Elenora yang langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku ingin pulang. Rasanya aku ingin beristirahat saja, tidak ingin yang lain." Meskipun jawaban Elenora membuat James sedikit kecewa, tapi mengingat bagaimana banyaknya pekerjaan Elenora tadi bersama Audrey karena besok dia harus berangkat ke kota B, James memutuskan untuk memenuhi keinginan Elenora.


Dan setelah mereka sampai di apartemen, tepat sebelum mereka memasuki pintu apartemen, James langsung menyodorkan satu kresek berukuran cukup besar pada Elenora yang langsung mengernyitkan dahinya.


“Untukmu…” James berkata pelan, memaksa Elenora untuk menerima kresek yang disodorkannya.


Dan begitu Elenora melihat ke dalam kresek itu, Elenora langsung memandang ke arah James karena dalam tas plastik itu berisi penuh berbagai macam snack.


“Aku sengaja membelinya untukmu, supaya saat kamu bosan dan mencari cemilan, kamu tidak perlu pergi jauh-jauh.” James berkata sambil langsung berjalan masuk ke dalam apartemen, meninggalkan Elenora yang masih merasa bingung, namun beberapa waktu kemudian, Elenora tersenyum sambil berjalan ke arah kamarnya.


Begitu Elenora melewati kamar James, dimana James diam-diam mengintip dari sela-sela pintu kamarnya yang sengaja dibukanya sedikit, James langsung tesenyum lega melihat bagaimana wajah Elenora yang terlihat masih menyungingkan sebuah senyum manis.


# # # # # # #


Pagi itu, begitu Elenora keluar dari kamarnya, Matilda yang sudah menunggunya langsung berjalan mendekat ke arahnya.


“Selamat pagi Nona.”


“Selamat pagi Bibi Matilda.”


“Makan pagi sudah siap Nona, silahkan Nona menikmati makan pagi sebelum pergi ke kantor.” Matilda berkata sambil tangannya memperdilahkan Elenora untuk pergi ke meja makan, dimana Matilda sudah menyiapkan makan pagi untuk Elenora yang sedikit mengernyitkan dahinya karena tidak melihat sosok James di sana.


“Mmmm… Bibi Matilada, dimana James? Apa dia belum keluar dari kamarnya?” Dengan suara ragu dan wajah malu-malu, karena merasa canggung akibat sudah menanyakan keberadaan James pada Matilda, Elenora bertanya sambil menarik kursi yang ada di meja makan, dan langsung duduk di sana untuk mengalihkan rasa canggungnya.


Matilda yang melihat bagaimana Elenora yang terlihat masih begitu canggung saat menyebutkan nama James di depannya, membuat Matilda langsung tersenyum, melihat kedua majikannya yang terlihat jelas saling mencintai, tapi sama-sama tidak ada yang mau memulai duluan untuk mengungkapkan isi hatinya, membuat tindakan mereka seperti sepasang anak muda yang masih duduk di bangku sekolah dan sedang terlibat cinta monyet.