
"Aku akan menunggumu Alvero. Terimakasih untuk bantuanmu." Ornado yang sedang berbicara melalui panggilan telepon dengan Alvero, membuat James maupun Afro yang berjalan di belakangnya tampak kembali saling berpandangan, dan juga mengangkat bahu mereka.
Rasa penasaran begitu tergambar jelas di wajah James maupun Afro.
"Ah, masalah kecil Ad. Tidak seabnding dengan bantuanmu selama ini padaku." Alvero langsung menanggapi perkataan Ornado dengan nada suara terdengar santai.
"Aku juga berharap bisa ikut memberi pelajaran pada kakak angkatmu yang benar-benar tidak tahu terimakasih itu! Berani-beraninya dia berbuat hal sekeji itu pada kalian. Perbuatannya benar-benar mengingatkanku pada Eliana. Untung saja semua sudah berakhir masalah tentang Eliana. Dan itu semua berkat bantuan besar darimu Ad." Perkataan Alvero membuat Ornado tersenyum.
"Tenang saja Alvero, tidak ada hutang piutang diantara kita, kamu tahu tentang itu." Alvero ikut tersenyum mendengar perkataan sahabatnya yang memang selalu mendukungnya sejak dia masih menjadi putra mahkota dan kuliah di Italia.
Alvero sadar betul bahwa beberapa kali dia sudah berhutang nyawa pada Ornado, sayangnya belum pernah ada kesempatan sekalipun dia untuk dapat membalas kebaikan sahabatnya itu.
Karena itu, begitu Alvero tahu dia memiliki kesempatan itu kali ini, dia segera bergerak untuk dapat membantu Ornado.
"Kalau begitu, tunggu kedatangan kami Ad. Aku sudah mengatur semuanya dengan baik, sampaikan salamku untuk James, dan juga ucapan selamat atas pernikahan paksanya itu. Semoga dia dan Elenora bahagia selalu." Perkataan Alvero membuat Ornado tersenyum geli sambil melirik ke arah James yang wajahnya terlihat masih begitu penasaran.
Apalagi James bisa melihat bagaimana santainya Ornado menerima panggilan telepon dari Alvero sambil tersenyum-senyum, seolah-olah tidak ada masalah besar yang sedang menghadangnya.
Padahal semua hal yang terjadi hari ini bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dengan mudah, dan jika tidak segera diselesaikan akan menjadi masalah besar untuk Grup Xanderson ke depannya, dan James tahu pasti tentang hal itu.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Alvero Ad?" James langsung bertanya begitu Ornado memutuskan panggilan teleponnya dengan raja Gracetian itu.
"Ah, itu... Alvero akan datang ke Italia, untuk membantu kita masalah perhiasan yang dikatakan palsu itu." Ornado langsung menjawab pertanyaan James yang masih merasa heran dengan jawaban Ornado.
Bagaimana bisa seorang raja Gracetian ikut campur dalam urusan perhiasan palsu? Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Benarkah Alvero bisa membantu menyelesaikan masalah ini dengan kedatangannya ke Italia?
James bertanya-tanya dalam hati dan ingin segera bertanya lagi tentang hal itu pada Ornado.
Afro hampir saja memarahi orang yang sudah berani masuk ruang IT temapt mereka berkumpul tanpa mengetuk pintu dan langsung membuka pintu dengan kasar, tapi melihat wajah pucat orang yang baru datang itu, yang merupakan asisten pribadinya, Afro hanya bisa memandanginya dengan wajah heran.
"Maafkan ketidaksopanan saya Tuan Afro, ada hal penting yang sudah terjadi." Asisten Afro itu segera berjalan dengan langkah lebar dan cepat ke arah Afro.
"Apa yang membuatmu datang ke tempat ini seperti orang kesetanan?" Afro berkata dengan nada sedikit tinggi, karena merasa sedikit malu, asisten bersikap tidak sopan di depan James, apalagi Ornado.
"Maaf... maaf pak. Baru saja saya mendapatkan kabar dari mansion keluarga tuan Ornado, bahwa tuan Jeremy diserang, dan nyonya Cladia yang pingsan dibawa pergi oleh beberapa orang tidak dikenal di pintu gerbang mansion. Mereka...."
"Amore mio...." Tanpa memperdulikan kelanjutan dari kata-kata yang diucapkan oleh asisten Afro, Ornado memanggil nama istrinya, dan langsung berlari keluar dari ruang IT diikuti oleh James yang mengkhawatirkan Cladia dan juga Ornado.
"Ad... apa yang mau kamu lakukan sekarang?" James berusaha menjajari kecepatan lari Ornado yang dengan buru-buru mencapai lift pribadinya.
"Sial!" Ornado berkata sambil lengan tangan bawahnya memukul dinding lift dengan cukup kuat, membuat James yang ikut masuk dalam lift dan berdiri di samping Ornado ikut menarik nafas panjang, ikut simpati dengan apa yang terjadi pada Cladia.
James tahu begitu besarnya cinta Ornado pada Cladia, yang seringkali membuatnya bersikap begitu over protektif pada istri kesayangannya itu.
Meskipun Ornado dikenal sebagai sosok laki-laki yang berkuasa dan hebat, tapi James tahu, kehilangan Cladia akan membuat hidupnya hancur bagi Ornado, Cladia adalah pusat segala-galanya baginya.
"Aku benar-benar ceroboh! Bagaimana bisa aku membiarkan amore mio pergi tanpa pengawalan ketat! Bodoh! Aku sungguh bodoh!" Ornado memaki dirinya sendiri dengan kepalanya yang bersandar pada lengan yang tadi memukul dinding lift dan masih di sana.
"Tenanglah Ad, tahan emosimu, agar otakmu tidak tumpul. Kita harus mencari kejelasan tentang peristiwa itu. Siapa yang sudah berani menyerang Jeremy dan membawa Cladia pergi bahkan di pintu gerbang mansion keluargamu. Orang itu benar-benar nekat." James berusaha menenangkan Ornado dengan menepuk lembut bahunya.
James yang sudah begitu mengenal Ornado tahu pasti bahwa masalah pekerjaan ataupun yang lain, tidak pernah bisa membuat Ornado sekhawatir jika itu adalah masalah Cladia.
Hanya Cladia yang bisa membuat Ornado yang biasanya selalu tenang, berwibawa dan terkesan dingin, terlihat begitu khawatir, dan menunjukkan emosinya baik itu kemarahan, kesedihan, cinta atau bahagia.