
“Lebih baik kamu beristirahat sampai aku selesai. Tunggu aku sebentar ya. Aku harus menghubungi James dan yang lain.” Ornado berkata sambil melepaskan gengangaman tangan Cladia padanya dengan perlahan.
“Aku janji tidak akan lama. Aku akan segera kembali di sisimu. Dan kamu bebas meminta apa saja dariku, termasuk bercin….” Ornado berkata sambil mengedipkan sebelah matanya, dengan senyum menggoda ke arah Cladia, yang wajahnya langsung memerah begitu mendengar perkataan terakhir Ornado yang sengaja digantungnya, yang Cladia tahu, pasti tidak jauh dari urusan ranjang.
“Kalau begitu, sepertinya kita memang harus melakukannya agar pikiranku teralihkan dari kejadian buruk tadi.” Jawaban Cladia yang tidak biasanya membuat mata biru Ornado membulat sempurna.
Ist… amore mio, kamu benar-benar sangat ahli jika itu tentang bagaimana memancingku. Kalau panggilan telepon yang akan aku lakukan bukan hal yang benar-benar penting, saat ini juga aku pasti akan langsung menyusulmu ke tempat tidur. Aku benar-benar gila jika berani menolak ajakanmu untuk bercinta. Sedangkan bagiku, jika memungkinkan, seberapa banyak kalipun kamu memintanya, dengan senang hati, aku akan memenuhinya asal itu kamu. Hah, rasanya ini benar-benar terasa seperti mimpi….
Ornado berkata dalam hati sambil menatap mesra ke arah Cladia, dengan detakan jantungnya yang sudah tidak terkontrol karena sambutan hangat dari Cladia tentang ajakannya, meskipun awalnya Ornado hanya ingin menggoda Cladia.
Cladia sendiri merasa kaget dengan keberaniannya yang tiba-tiba saja muncul begitu saja, sehingga bisa mengucapkan hal yang baginya terdengar sedikit mesum itu, dan sebenarnya membuatnya merasa sangat malu karena kata-katanya itu.
Tapi Cladia sadar, pernyataan cinta Ornado melalui setiap sentuhan lembut dan juga mesra saat penyatuan mereka, selalu saja berhasil membuat Cladia lupa diri, dan melupakan setiap hal buruk yang ada di dalam pikirannya.
Bagi Cladia, sejak dia begitu mencintai suaminya itu, Ornado menjadi obat penenang terbaik baginya dalam kondisi seburuk apapun yang dia alami.
Sekarang ini, bukan hanya Cladia yang menjadi candu bagi Ornado. Bagi Cladia, keberadaan Ornado juga sudah membuatnya kecanduan, yang akan membuatnya seperti orang sakau jika berada jauh dari suaminya itu, dan tidak mendengar suara laki-laki itu dalam waktu lama.
Entah itu karena semakin hari semakin besar cinta Cladia pada Ornado, atau karena keberadaan Bee dalam tubuhnya, yang membuat Cladia begitu terikat dengan Ornado.
Dan itu membuat Cladia sengaja untuk tidak berencana menarik ucapannya kepada Ornado kembali.
Setelah mendengar kata-kata Cladia yang begitu memancing sisi kejantanannya, Ornado langsung membungkukkan tubuhnya di samping tubuh Cladia, dan mendekatkan bibirnya ke telinga Cladia, sedikit mengecup telinga itu dan membuatnya sedikit basah sekaligus hangat, sehingga membuat Cladia hampir saja meloloskan sebuah des...sahan pelan dari bibirnya.
“Kamu yang memintanya sendiri amore mio. Aku akan benar-benar menagihnya sebentar lagi.” Ornado berkata, lalu mengecup sekilas bibir Cladia sambil tangan kanannya mengelus lembut perut istrinya.
“Tunggu papa, sebentar lagi papa akan mengunjungimu Bee. Dan untukmu amore mio, ini hanyalah sekedar pembukaan.” Ornado mengakhiri kata-katanya dengan kembali mencium bibir Cladia, dengan sedikit melum…matnya dan menekan tengkuk Cladia agar dia bisa memperdalam ciumannya dengan memainkan lidahnya di dalam sana selama beberapa detik, sebelum akhirnya Ornado melepaskan ciumannya dengan sikap begitu enggan.
“Aku akan memanjakanmu dengan baik setelah ini amore mio.” Ornado kembali berkata sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya kembali.
Perkataan Ornado membuat wajah Cladia semakin memerah, apalagi ciuman Ornado berhasil membuat wajahnya terasa memanas.
Dengan senyum yang terus menerus terkulum di bibirnya, Ornado berjalan keluar dari kamar, menuju ke arah jendela besar, dimana di sana terdapat teras yang menghadap laut langsung.
Setelah menutup jendela agar angin panas dari laut masuk ke dalam kamarnya, sekaligus agar Cladia tidak mendengar perbincangannya dengan yang lain, Ornado menyeret salah satu kursi yang ada di sana, dan duduk dengan menyilangkan kakinya, bersiap menghubungi beberapa orang yang dia perlukan.
“Hallo Ad.” Suara sahutan di seberang sana, membuat Ornado menghela nafasnya.
“Afro… sepertinya kita harus segera memulai rencana kita. Persiapkan semuanya dengan baik. Firasatku mengatakan bahwa dia sedang bergerak secara diam-diam di belakang kita.” Ornado berkata pada Afro yang menggigit bagian bawah bibirnya.
“Ad, apa harus seperti itu? Sejak menikah kamu ingin sedikit demi sedikit melepaskan dirimu dari kelompok-kelompok itu, karena tidak ingin membuat Cladia khawatir jika mendengar tentang hal itu. Jika kamu kembali mengumpulkan mereka, itu artinya kamu akan tetap memiliki keterikatan dengan mereka.” Mendengar perkataan Afro, Ornado menahan nafasnya beberapa saat.
“Apapun akan aku lakukan untuk melindungi Cladia dan calon anakku. Jika untuk saat ini, itu menjadi jalan terbaik agar aku dpat menahan serangan dari orang itu, aku akan melakukannya. Toh, aku tidak pernah terlibat dalam pergerakan illegal mereka.” Ornado berkata sambi matanya melirik ke arah Cladia yang sedang duduk berselonjor sambil memejamkan matanya, dengan kedua telinga tertutup earphone yang mengeluarkan suara alunan musik klasik yang baginya sangat menenangkannya.
Melihat bagaimana sepertinya Cladia sudah jauh lebih tenang, dan terlihat tidak lagi terpengaruh dengan kejadian bersama Dante dan Dario tadi, Ornado tersenyum sekilas sebelum kembali fokus dengan Afro yang sedang berbicara dengannya melalui panggilan telepon.
“Jalankan saja apa aku perintahkan padamu, sisanya aku akan mengurusnya sendiri.” Afro hanya bisa menarik nafas panjang dengan sikap pasrah mendengar keputusan dari Ornado.
“Baiklah, lagipula, mereka hanya akan mendengarkan suara dan perintah dari Ornado Xanderson, bukan Xanderson yang lain. Xanderson yang mereka patuhi hanya Ornado Xanderson.” Perkataan Afro membuat Ornado tertawa kecil.
“Jangan terlalu merasa rendah diri Afro, selama ada nama Xanderson di belakang namamu, mereka tidak akan berani bertindak sembarangan padamu.” Afro langsung ikut tertawa kecil mendengar perkataan Ornado.
“Aku sungguh tidak tahu, apakah itu merupakan keberuntungan atau justru beban.” Tawa Ornado semakin keras begitu mendengar perkataan Afro yang sengaja bercanda dengannya.
“Ah, sudahlah, setelah ini aku harus menghubungi James, yang sepertinya akan membawa kabar menggemparkan di tengah-tengah keluargamu.” Dengan nada santai Ornado berkata, membuat Afro langsung berpikir apakah itu ada kaitannya dengan Elenora sebagai calon kakak ipar yang ditetapkan oleh keluarganya.
“Eh, kenapa dengan James? Apa yang terjadi padanya? Apa dia sudah melakukan hal buruk?”
“Kalau sudah waktunya, kamu akan tahu sendiri. Persiapkan saja dirimu agar bersiap menenangkan auntie Carina yang mungkin akan marah besar jika mendengar tentang hal ini. Dan satu hal Afro, lakukan penyelidikan tentang bagaimana Elenora menghilang waktu itu. Kemana Elenora pergi selama bertahun-tahun tanpa pesan sedikitpun, dan cari alasan di balik kejadian itu.” Perkataan Ornado membuat Afro semakin yakin bahwa apa yang terjadi pada James berhubungan dengan Elenora.
Dan itu sungguh membuat Afro merasa semakin penasaran ingin mengetahui apa yang sudah terjadi pada mereka berdua.