My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SOSOK BARU ELENORA



Awalnya James dan Elenora tidak menyadari kenapa para pegawai yang berpapasan dengan mereka melakukan itu, seolah Elenora baru pertama kalinya datang ke kantor  Bumi Aisa, sampai Tina yang awalnya sedang berjalan berdampingan dengan Dodi untuk mengambil berkas di ruang administrasi langsung menghentikan langkah mereka tepat di depan Elenora dan James dengan mata yang melotot kaget dan wajah tidak percaya.


"Elenora?"


"Elen?"


Baik Tina maupun Dodi menyebutkan nama Elenora dengan suara ragu dan wajah bingung, mencoba memastikan bahwa gadis yang terlihat cantik, sedang berdiri di samping James dengan mengenakan pakaian yang terlihat modis itu benar adalah Elenora.


Kacamata tebal, rambut yang masih dikepang, membuat Tina dan Dodi yakin bahwa gadis itu benar adalah Elenora yang mereka kenal.


Elen? Berani sekali anak kemarin sore itu selalu bersikap sok dekat pada Ele, dan selalu memanggilnya dengan sebutan Elen. Belum lagi cara dia menatap Ele, sungguh terlihat sangat menyebalkan. Membuatku ingin mencolok matanya yang tidak berkedip sama sekali saat menatap Ele sejak kami bertemu mereka. Aku benar-benar lupa kalau hari ini Ele terlihat jauh berbeda dengan pakaian yang dikenakannya, yang bisa membuat orang tidak berkedip memandangannya, termasuk si Do… ist! Buat apa aku menyebutkan terus nama anak itu.


James terus mengomel dalam hati dengan wajah terlihat kesal.


“Eh, apa kabar Dodi, Tina?” Elenora langsung menyapa teman-temannya dengan tersenyum ramah di depan mereka, sehingga tidak menyadari kalau James sedikit memberengut karena mendengar Dodi dengan sebutan Elen, membuatnya tiba-tiba merasa begitu jengkel.


“Wah, kamu cantik sekali dengan penampilan barumu…”


“Eh, kenapa tiba-tiba kamu ada di sini?”


“Kapan kamu kembali?”


Berbagai pertanyaan diucapkan oleh Tina dengan rasa ingin tahu yang begitu besar, membuat Elenora hanya bisa diam sambil tersenyum ke arah Tina.


“Eh, selamat sore Pak James….” Tina yang tiba-tiba sadar bahwa ada sosok James di samping Elenora langsung menyapa James dengan sikap hormat, sambil siku tangannya bergerak meninju lengan Dodi yang tampak masih menatap Elenora dengan penuh kekaguman dan terpesona.


Tindakan Dodi membuat James merasa semakin tidak nyaman, bahkan membuatnya merasa sekelilingnya terasa begitu gerah dengan tiba-tiba.


“Selamat sore Pak James.” Karena sodokan Tina ke lengannya, yang menyadarkannya, dengan buru-buru Dodi menyapa James dengan sedikit kikuk.


Di sana ada Alex, dan di sini ada Dodi, benar-benar membuat suasana menjadi benar-benar tidak menyenangkan.


James mengomel dalam hati sambil menatap tajam ke arah Dodi yang langsung terlihat gugup, karena berpikir James sedang memandangnnya dengan tidak suka karena lupa untuk menyapanya terlebih dahulu, justru sibuk memandangi sosok Elenora dengan tatapan kagum.


“Selamat sore. Ayo Elenora, banyak pekerjaan yang harus kita lakukan.” James menjawab dengan nada suara sedikit ketus, membuat Tina dan Dodi sedikit menundukkan kepalanya dengan wajah terlihat bersalah.


“Ayo!” James berkata singkat sambil melangkah ke depan, membuat dengan buru-buru Tina dan Dodi langsung mundur sambil bergerak ke samping, memberi jalan kepada James dan Elenora.


Elenora yang merasa tidak enak karena belum menjawab satupun pertanyaan dari Tina langsung menoleh ke belakang, meskipun kakinya mengikuti langkah James, tepat di belakang punggung James, membuat Tina langsung menggerakkan tangannya ke arah telinganya sendiri, membentuk kode bahwa dia akan menelpon Elenora.


Dan Elenora langsung menanggapi kode dari Tina dengan sebuah anggukan kepala tanpa berani mengeluarkan suara sedikitpun, karena takut  jika tiba-tiba saja James menoleh dan memarahi mereka semua karena dianggap tidak sopan padanya.


“Selamat sore Pak James.” Begitu James hadir di ruang server, semuanya langsung memberi salam padanya dengan sikap hormat, dan karena sudah tahu maksud kedatangan James dan Elenora, mereka segera memberi jalan kepada James dan Elenora, untuk mereka bisa langsung menuju tempat dimana server mereka berada.


Begitu berada di depan layar yang terhubung dengan server, James langsung menarik kursi beroda yang ada di depan layar itu, lalu dengan gerakan tangannya memberi tanda kepada Elenora agar duduk di sana dan mengerjakan apa yang harus dikerjakannya terhadap server itu.


“Duduklah di sini.”


Tanpa menunda waktunya, Elenora segera mengambil posisi duduk, dengan jarijari tanganya tanpa menunggu waktu lama sudah bergerak dengan cepat di atas keyboard.


James sendiri segera menarik kursi lain yang tidak jauh dari tempatnya berdiri dan mengambil posisi duduk di samping Elenora.


Mereka yang lain, yang melihat aksi Elenora, hanya bisa melongo, dengan mata menatap dengan kagum sekaligus tidak percaya.


Sesekali mereka terlihat saling berpandangan dan menahan nafas bgeitu melihat canggihnya Elenora dalam melakukan pengkodean dalam sistem komputer.


Tidak lebih dari lima belas menit, Elenora berhasil membenahi sistem keamanan server dengan metodenya, membuat pegawai bagian IT yang ada di sana bahkan merasa heran dengan teknik Elenora yang belum pernah mereka pelajari ataupun lihat.


“Saya sudah membereskannya Pak James. Hanya saja, kita harus sering-sering melakukan pengecekan. Karena kita tidak tahu banyak dari mereka yang berusaha untuk menembus sistem keamanan kita. Saya harap metode saya bisa menahan mereka. Kalaupun tidak, saya sudah memasang kode khusus, jika terjadi sesuatu di luar dugaan kita, sistem akan segera mengirimkan kode secara khusus ke handphone Pak James dan pak Ornado.” Perkataan Elenora langsung membuat James mengernyitkan dahinya.


Penjelasan Elenora barusan tentang sistem keamanan yang baru saja dia ceritakan, sungguh belum pernah diketahuinya, apalagi dikuasainya.


“Oke, aku akan menyampaikan hal itu kepada pak Ornado.” James berkata sambil menatap puas ke arah layar monitor yang ada di hadapan Elenora.


“Kalau begitu, saya permisi dulu Pak James.” Elenora  berkata sambil bangkit dari duduknya.


Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan bagi Elenora, baik tubuh dan pikirannya yang terus terbayang oleh tindakan hacker itu.


Bagi Elenora, rasanya dia ingin segera sampai di apartemen barunya, bersantai sambil menikmati semangkuk mi instan rebus dengan telur rebus di dalamnya.


“Ok, selamat sore semua. Semoga semuanya berjalan dengan baik hari ini.” Tanpa menanggapi perkataan Elenora, James justru ikut berpamitan kepada yang lain.


Setelah mereka semua menjawab James, laki-laki tampan itu melangkah kea rah pintu keluar ruangan, membuat mau tidak mau Elenora mengekor di belakangnya.


“Aku akan mengantarmu pulang.” James langsung berkata sambil sedikit menoleh ke belakang, namun terus berjalan ke arah front office kantor.


“Lebih baik aku memesan taksi saja, supaya kamu bisa segera beristirahat juga.” Elenora mencoba bernegosiasi karena dia tidak ingin James tahu dia sudah pindah dari rumah Ornado.


“Tidak masalah, kamu tahu sendiri di pesawat aku sudah cukup beristirahat.” James berkata sambil menghentikan langkahnya, sehingga Elenora berada di sampingnya.


“Eh, aku berencana mampir ke suatu tempat sebelum pulang. Ada sesuatu yang harus aku lakukan.” Perkataan Elenora yang terlihat berusaha keras untuk menolak niatnya mengantar Elenora pulang, membuat James mengernyitkan dahinya, berusaha menahan dirinya untuk tidak mencerca Elenora dengan berbagai pertanyaan, meskipun saat ini dia merasa begitu penasaran, merasa Elenora sedang menyembunyikan sesuatu yang penting darinya.