
"Maaf Elenora, aku yang tidak sabaran. Tanganku ini memang selalu terasa gatal kalau melihat gadis cantik tapi tidak sadar akan kecantikannya sepertimu." Tina berkata sambil meringis, merasa bersalah sudah bersikap lancang terhadap Elenora, membuat Elenora terlihat tidak nyaman.
"Tidak apa-apa." Elenora langsung menjawab permintaan maaf dari Tina dengan cepat.
"Eh, sudah hampir waktunya jam istirahat berakhir. Lebih baik kita segera kembali ke tempat kita masing-masing." Dodi segera mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa sedikit kaku akibat pembicaraan sebelumnya.
Apalagi dilihatnya Elenora tampak kembali bersikap diam setelah tindakan Tina barusan.
"Ah, ya, kalau begitu, besok kita bisa makan siang bersama lagi kan teman-teman?" Tina berkata sambil memasukkan handphonenya ke dalam saku blazernya, diikuti dengan Elenora yang langsung bangkit berdiri dari duduknya.
"Semoga saja aku bisa menemani kalian. Kalau besok siang pekerjaanku tidak terlalu sibuk, aku akan bergabung kembali bersama kalian di sini." Alex ikut bangkit dari duduknya dan merapikan pakaian safarinya.
"Ok, sampai jumpa semuanya. Ayo Elen, kita kembali ke ruangan kita." Dodi segera menanggapi perkataan Alex dan mengajak Elenora yang langsung menganggukkan kepalanya untuk berpamitan, dan mengikuti Dodi berjalan keluar dari kantin.
"Alex...." Tina yang letak ruangannya searah dengan Alex langsung memanggil nama Alex begitu mereka sudah berada jauh dari kantin.
"Hmmmm." Sebuah gumaman pelan dikeluarkan oleh Alex untuk menjawab panggilan dari Tina yang langsung tersenyum.
"Kamu tertarik kan dengan Elenora?" Alex langsung menoleh ke arah Tina begitu mendengar godaan dari gadis ceria itu.
"Sembarangan saja kamu bicara!" Alex langsung menjawab pertanyaan Tina dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Masa sih? Setahuku Alex yang aku kenal tidak pernah berbicara penuh semangat seperti tadi dengan seorang gadis. Pengamatanku tidak salah kan?"
"Lalu bagaimana denganmu? Apa selama ini kita tidak pernah membicarakan sesuatu yang menarik sampai terlihat bersemangat?" Mendengar pertanyaan balik dari Alex, Tina langsung mencebikkan bibirnya.
"Kamu kan tidak pernah menganggapku sebagai seorang gadis? Aku sudah seperti saudara laki-laki bagimu. Itu yang selalu kamu katakan padaku. Sudahlah, sampai besok di kantin. Awas nanti malam terbawa mimpi ya, apa yang baru aku katakan tadi." Tina berkata sambil tertawa dan bergerak cepat memasuki sebuah ruangan tempat dia ditempatkan, tidak memberikan kesempatan bagi Alex untuk membalas godaannya.
Alex sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sikap geli melihat tindakan Tina yang baginya sungguh lucu.
Aku? Tertarik pada Elenora? Hmmm…. Itu adalah hal yang mungkin saja terjadi, karena gadis itu memang cukup menarik bagiku.
Alex berkata dalam hati sambil membayangkan kejadian dimana mata Elenora yang terlihat begitu berbinar, sekejap meninggalkan karakternya yang canggung saat membicarakan tentang komputer tadi di kantin.
Dan bagi Alex pemandangan tadi sempat membuat Alex terpukau, dan melihat bagaimana cantiknya mata Elenora yang berbinar, dengan senyum senangnya.
Bayangan tentang Elenora tadi membuat tanpa sadar Alex menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya.
# # # # # # # #
Begitu Cladia keluar dari walk in closet yang ada di kamarnya, Ornado yang sudah berpakaian rapi, karena sudah menyelesaikan mandinya lebih dahulu sebelum Cladia, langsung tersenyum.
Meskipun Cladia belum mengoleskan make up sedikitpun di wajahnya, bagi Ornado, kecantikan istrinya tidak berkurang sedikitpun.
Andai saja wajah Cladia tidak terlihat pucat karena efek kehamilannya, bahkan Ornado merasa Cladia tidak memerlukan bantuan make up untuk mempercantik dirinya yang pada dasarnya memang sudah cantik, seperti boneka.
"Come sei bella amore mio." (Betapa cantiknya kamu cintaku) Ornado berkata sambil memeluk Cladia dan mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
Cladia yang mendengar pujian dari Ornado hanya bisa tersenyum dan bersikap pasrah ketika kecupan hangat dan lembut dari Ornado tiba-tiba saja sudah berpindah dari kening Cladia ke bibirnya.
"Mi stupisci sempre." (Kamu selalu membuatku terkagum-kagum). Ornado berkata dengan bibirnya terus menempel pada bibir Cladia, menikmati rasa manis bibir istrinya, sekaligus debaran jantungnya yang terasa langsung menggila saat berada di dekat Cladia.
"Al...." Cladia berkata pelan ketika dirasakan olehnya, tangan Ornado tidak juga bergerak melepaskan pelukannya walaupun tubuh Cladia bergerak-gerak pelan, memberikan kode agar mereka segera keluar dari kamar, untuk menjemput Dave dan Laurel, menghadiri pesta pindah rumah Dario malam ini.
"Sebentar amore mio, sebentar saja." Ornado berbisik pelan dengan salah satu tangannya masih memeluk erat tubuh Cladia, sedang tangannya yang lain mengelus lembut punggung Cladia.
"Niente è più bello che con te." (Tidak ada yang lebih indah dibanding bersamamu). Ornado kembali berkata sambil menarik nafas dalam-dalam, merasa hatinya membuncah dengan rasa bahagia bahwa saat ini masih bisa memeluk erat, menikmati keberadaan Cladia, setelah apa yang mereka alami beberapa waktu lalu, dimana dia hampir saja kehilangan wanita yang sudah merebut semua cinta dalam hatinya.
Ornado tahu, jika Cladia menghilang dari hidupnya, itu akan membuatnya benar-benar kehilangan arah dan tidak ingin lagi menikmati dunia dimana Cladia tidak ada di sana.
"Siamo felici insieme Al. Ti... amo Al." (Mari bahagia bersama Al. Aku.... mencintaimu). Cladia membalas perkataan Ornado dengan suara tidak kalah lirihnya, dengan sikap malu-malu, dan wajah memerahnya, karena menahan gejolak dalam dadanya, rasa bahagia yang tidak terhingga setiap kali Ornado berada di dekatnya.
Apalagi Cladia tahu betul bagaimana Ornado yang tidak pernah tidak bersikap mesra padanya, membuatnya bisa merasakan betapa besarnya cinta laki-laki tampan itu untuknya, seorang suami yang membuatnya merasa begitu aman dan terlindungi.
Dan bagi Cladia, seumur hidupnya, laki-laki selain Jeremy yang bisa dekat dengannya hanyalah Ornado, satu-satunya laki-laki yang bisa membuatnya seolah lupa akan trauma dan rasa takutnya terhadap sosok laki-laki.
Satu-satunya pria yang sangat dicintainya melebihi apapun yang dia harapkan dan miliki, rela melakukan apapun untuk pria tercintanya itu.
"Ok, terima kasih untuk asupan energimu sore ini amore mio. Sepertinya aku siap melakukan apa saja setelah kamu menyalurkan energimu padaku barusan. Kamu memang sumber energi terbaik bagiku." Dengan sikap enggan Ornado melepaskan pelukannya pada Cladia setelah menyelesaikan ucapannya.
Rasanya begitu sulit bagi Ornado untuk menjauhkan dirinya dari Cladia, walaupun kadang dia sadar tindakannya sudah seperti orang gila jika berkaitan dengan Cladia yang begitu dicintainya.
Cladia hanya bisa tersenyum mendengar godaan dari Ornado.
"Amore mio... bisakah aku meminta satu hal padamu untuk acara malam ini?" Cladia yang sedang mengoleskan lipstik tipis-tipis di bibirnya langsung menoleh ke arah Ornado yang sedang berdiri tepat di sampingnya dengan kedua tangan terlipat di depan tubuhnya dan mata menatap ke arah Cladia, menikmati setiap apapun yang sedang dilakukan oleh Cladia, yang baginya selalu terlihat menarik baginya.
"Apa yang kamu inginkan Al?"
"Jangan terlalu dekat dengan pria lain. Aku tahu Dario tidak mengundang banyak orang. Tapi jangan buat aku khawatir dengan berada dekat dengan pria lain, termasuk.... Dario...." Ornado mengucapkan kata-kata terakhirnya dengan sikap ragu.